Home / Otoritas / Bank Indonesia / BI Masih Pertahankan Tingkat Bunga 5,75 Persen Diperkirakan Hingga Kuartal I 2024

BI Masih Pertahankan Tingkat Bunga 5,75 Persen Diperkirakan Hingga Kuartal I 2024

MarketNews.id Keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan tingkat Suku Bunga BI 7 – Saya Reverse Repo Rate (BI7-DRRR) sebesar 5,75 persen mendapat respon positif dari pasar. Sementara untuk Suku bunga deposit facility tetap 5 persen dan Suku bunga lending facility masih dilevel 6,5 persen.

“Keputusan mempertahankan suku bunga ini sebagai konsistensi kebijakan moneter untuk memastikan inflasi tetap rendah dan terkendali dalam kisaran sasaran 3 persen plus minus 1 persen pada sisa tahun 2023 dan menurun menjadi 2,5 persen plus minus 1 persen pada tahun 2024,” kata Gubernur BI, Perry Warjiyo dalam konferensi pers usai menjalani rangkaian Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 20 – 21 Agustus 2023 di Jakarta.

Perry menyatakan, BI akan terus fokus untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah untuk mengendalikan inflasi barang impor dan memitigasi dampak rambatan ketidakpastian pasar keuangan global.

Sementara itu kebijakan makro prudensial yang longgar terus diarahkan untuk perkuat efektivitas pemberian insentif likuiditas kepada perbankan. Hal ini diperlukan untuk mendorong pertumbuhan kredit pembiayaan perbankan nasional kepada dunia usaha.

“Kebijakan ini difokuskan pada hilirisasi, pariwisata, perumahan, dan pembiayaan inklusif dan hijau. Kebijakan insentif likuiditas makro prudensial ( KILM ) akan berlaku efektif sejak tanggal 1 Oktober 2023,” sambungnya.

Bank Indonesia (BI) diprediksi baru akan memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga acuan pada akhir Semester I 2024.
BI juga diprediksi menahan suku bunga acuannya pada level 5,75 persen sampai dengan akhir tahun ini. Penyebabnya karena tekanan terhadap mata uang global akan terus berlanjut dalam jangka menengah, akibat kemungkinan kenaikan suku bunga the Fed lebih lanjut.

Ekonom senior PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnu broto dalam keterangan tertulis mengingatkan, kecenderungan the Fed untuk mempertahankan suku bunga pada level yang tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama. Selain itu, suku bunga the Fed kemungkinan belum akan diturunkan hingga setidaknya Semester I 2024, dalam keterangan tertulis, Jumat 22 September 2023.

Melihat tren saat ini, serta efek high base dari tahun sebelumnya, kami memprediksi kelanjutan penurunan inflasi, terutama setelah bulan September.
“Namun, keputusan arah tingkat kebijakan masa depan BI akan sangat bergantung pada ekonomi global dan volatilitas pasar keuangan, yang juga memiliki dampak besar pada volatilitas rupiah,” jelas Rully.

FOMC juga sesuai ekspektasi memutuskan untuk menahan suku bunga kebijakan federal funds rate dalam rentang targetnya saat ini, yaitu 5,25%-5,5% dalam pertemuan bulan September. Selain itu, FOMC masih membuka kemungkinan untuk kenaikan suku bunga lebi lanjut sebelum akhir tahun ini.

“Kami memperkirakan masih adanya kenaikan suku bunga the Fed setidaknya satu kali lagi dalam pertemuan FOMC bulan November, meskipun Fed telah menaikkan suku bunga kebijakannya secara agresif sebesar 525 bps, selama siklus pengetatan moneter saat ini,” tutup Rully.

Check Also

OJK Beri Teguran Ringan Bank Artha Graha

MarketNews.id- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjatuhkan sanksi administrative kepada PT Bank Artha Graha Internasional Tbk …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *