Home / Otoritas / Bursa Efek Indonesia / Dirut BEI : Di Saat Bursa Lain Terpuruk. BEI Justru Tumbuh 7 Persen

Dirut BEI : Di Saat Bursa Lain Terpuruk. BEI Justru Tumbuh 7 Persen

MarketNews.id Kebijakan yang ditempuh oleh Pemangku Kepentingan di kalangan Pasar Modal Indonesia, telah berhasil menjaga sentimen yang positif buat Pasar modal Indonesia. Keberhasilan Otoritas Bursa di dukung oleh Pemerintah dan stakeholder lainnya dalam menjaga marwah pasar modal sudah terbukti pada capaian yang diperoleh dalam tiga tahun terakhir disaat pasar modal dunia lain terpuruk akibat adanya Pendemi.

Direktur Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman mengatakan, kebijakan yang dibuat oleh pemerintah dan regulator dalam merespons pandemi COVID-19 serta tantangan ekonomi global, telah mampu menjaga sentimen di pasar modal domestik tetap positif.


“Memasuki tahun ketiga pandemi dan di tengah tantangan global yang kita hadapi sepanjang 2022, kebijakan yang telah ditempuh oleh regulator baik pemerintah serta koordinasi OJK, BI, dan LPS telah berhasil menjaga sentimen pasar yang positif.

Hal ini tercermin dalam pertumbuhan IHSG yang sampai 22 November 2022 ditutup pada level 7.030 atau tumbuh 6,82 persen sejak awal tahun lalu,” ujar Iman dalam CEO Networking 2022 di Jakarta, Kamis 24 November 2022.

Kapitalisasi pasar di BEI saat ini juga tercatat mencapai Rp6.400 triliun atau sekitar 630 miliar dolar AS. Sedangkan rata-rata nilai transaksi harian atau RNTH di bursa per 22 November 2022 mencapai Rp14,9 triliun atau sekitar 1 miliar dolar AS, hanya lebih rendah dibandingkan Thailand (2 miliar dolar AS) untuk kawasan ASEAN.


Dari sisi jumlah investor, saat ini jumlah investor di pasar modal domestik telah menembus 10 juta investor.
“Ini merupakan hal yang patut kita banggakan karena lima tahun lalu baru 1,2 juta investor. Selama pandemi tiga tahun terakhir tumbuh 2 juta investor per tahun. Tapi 10 juta ini baru 1,5 persen dari 270 juta populasi penduduk Indonesia. Singapura, Thailand, dan lainnya jumlah investor dibanding total populasinya minimal 5 persen,” kata Iman.

Iman menyampaikan jika lima tahun lalu 70 persen dari total investor merupakan investor institusi asing, saat ini justru berbanding terbalik di mana investor domestik baik institusi maupun ritel telah mencapai 70 persen. Dari 10 juta investor domestik, 45 persennya merupakan investor ritel.


“Jadi bisa dibayangkan kenapa bursa lain tumbuh negatif year to date, tapi bursa kita justru positif hampir 7 persen,” ujar Iman.

Sementara itu dari sisi jumlah emiten, saat ini perusahaan tercatat di BEI mencapai 820 perusahaan. Pada 2022, sebanyak 54 perusahaan telah melantai di bursa dari target 55 emiten. BEI memperkirakan hingga akhir tahun akan bertambah menjadi 58-60 emiten. Hingga kini, sebanyak 41 perusahaan sudah masuk dalam daftar (pipeline) untuk masuk ke bursa.

Sebanyak 820 emiten di BEI tadi terbagi ke tiga papan yaitu papan utama, papan pengembangan, dan papan akselerasi. Papan akselerasi dibuat terutama untuk usaha mikro kecil dan menengah ( UMKM ) sebanyak 23 emiten. Sedangkan papan pengembangan kontribusinya mencapai 53 persen atau 450 emiten dan papan utama berkontribusi 43 persen atau 350 emiten.

“Rencana akhir tahun atau awal tahun depan kita akan tambah satu papan lagi, yaitu papan new economy. Karena banyak perusahaan teknologi saat ini atau perusahaan e-commerce yang sebenarnya eligible secara market cap sebagai perusahaan di papan utama, namun karena kondisi finansial yang masih merugi belum bisa masuk papan utama, sehingga kita pisahkan mereka di papan new economy yang setara papan utama,” kata Iman.

Check Also

Laba Bersih RMK Energy Tbk (RMKE) Tumbuh 135 Persen Di Kuartal III 2022

MarketNews.id Masih tingginya harga batubara dan terus meningkatnya produksi, membuat kinerja PT RMK Energy Tbk …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *