Home / Otoritas / Bank Indonesia / Ashmore : Ekonomi Global Masih Dibayangi Konflik. Investor Tunggu Kejelasan Kebijakan Dan Regulasi.

Ashmore : Ekonomi Global Masih Dibayangi Konflik. Investor Tunggu Kejelasan Kebijakan Dan Regulasi.

MarketNews.id-Bursa saham Indonesia mengakhiri sesi perdagangan pekan pertama Juni, Jumat (5/6) dengan mencatatkan kejatuhan IHSG sebesar 4,2 persen ke level 5.594, atau ambles lebih dari 500 poin dibanding akhir sesi perdagangan pekan sebelumnya di posisi 6.127.

Investor asing membukukan arus keluar dana dari pasar saham sebesar USD204 juta dalam sepekan terakhir.
Weekly Commentary  PT Ashmore Asset Management Indonesia, mencatat beberapa hal penting pekan ini, sebagai berikut;

Ashmore mencatat sektor yang kinerja terburuk pekan in adalah Transportasi & Logistik serta Industri, yang masing-masing ambles 14,08% dan 13,32%.
Di sisi lain, aset dengan kinerja terbaik pekan ini adalah batu bara yang naik 3,34% dan harga minyak mentah yang menguat 2,63%. Sebaliknya, Bitcoin mengalami koreksi 14,41%, sementara indeks IDX30 merosot 9,07%.

“Di Indonesia, inflasi meningkat sesuai perkiraan dan sedikit lebih tinggi dari konsensus pasar. Meski demikian, tingkat inflasi masih berada dalam kisaran target yang ditetapkan Bank Indonesia,” tulis Ashmore.

Premi Risiko Ketidakpastian Meningkat

Ashmore mencermati, pekan ini, pasar global kembali dibayangi ketidakpastian yang berlanjut serta meningkatnya konflik di Timur Tengah yang membuat harga minyak tetap tinggi. Fokus utama pasar masih tertuju pada Selat Hormuz, di mana gangguan lalu lintas pelayaran akibat konflik telah meningkatkan risiko terganggunya pasokan energi global.

Di sisi lain, prospek perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran masih belum jelas karena kedua negara tetap memiliki tuntutan yang sulit dipertemukan.

“Perkembangan yang lebih signifikan pekan ini datang dari pasar domestik Indonesia, terutama terkait sejumlah kebijakan baru yang memicu ketidakpastian,” ungkap Ashmore.

DPR telah mengesahkan undang-undang yang memperluas mandat Bank Indonesia, tidak hanya mencakup stabilitas inflasi dan nilai tukar, tetapi juga pertumbuhan sektor riil serta penciptaan lapangan kerja.

“Meski kebijakan tersebut berpotensi memberikan dampak positif bagi perekonomian dalam jangka panjang, investor masih mencermati risiko yang mungkin muncul, terutama terkait independensi bank sentral,” papar Ashmore.

Pasar juga menunggu kejelasan mengenai implementasi kebijakan tersebut dan langkah-langkah yang akan diambil untuk meredakan kekhawatiran investor. Kejelasan tersebut dinilai penting untuk memulihkan kepercayaan pasar dan menjaga kredibilitas Bank Indonesia.

Sementara itu, Ashmore juga mencermati, data APBN hingga Mei 2026 yang menunjukkan pendapatan negara masih tumbuh kuat sebesar 19,1% secara tahunan, meskipun belanja negara meningkat lebih cepat, yakni 34,4%.

Kondisi tersebut menghasilkan defisit anggaran sekitar Rp180 triliun atau setara 0,7% dari PDB hingga lima bulan pertama 2026. Dalam skenario dasar, defisit fiskal Indonesia diperkirakan tetap berada di bawah batas 3% dari PDB pada tahun 2026.

Ashmore menilai, pasar juga masih mengkhawatirkan pelemahan rupiah yang telah menembus level Rp18.000 per dolar AS. Meski demikian, pemerintah dan Bank Indonesia terus berupaya menstabilkan nilai tukar.
Pada lelang terbaru SRBI , imbal hasil naik di atas 7%, dengan rata-rata tertimbang mencapai 7,21%.

Permintaan investor meningkat, meskipun jumlah yang dimenangkan hanya Rp30 triliun. “Pergerakan rupiah ke depan masih menjadi perhatian utama pasar dan mempertegas pentingnya pemulihan kredibilitas kebijakan ekonomi,” imbuh Ashmore.

Meski demikian, Ashmore berpendapat, sebagian besar tekanan terhadap rupiah masih berasal dari faktor eksternal, terutama ketegangan geopolitik yang berkepanjangan di Timur Tengah serta faktor musiman yang turut menekan mata uang domestik.

Dalam kondisi saat ini, perekonomian global masih berada dalam fase kehati-hatian dengan premi risiko yang lebih tinggi. Pasar berharap konflik di Timur Tengah dapat segera mereda dan arus perdagangan melalui Selat Hormuz kembali normal.

“Investor juga menunggu kejelasan lebih lanjut mengenai berbagai kebijakan dan regulasi yang baru diumumkan pemerintah Indonesia,” Ashmore menambahkan.

“Di tengah tingginya volatilitas, valuasi aset Indonesia yang telah mengalami koreksi signifikan dinilai mulai menarik untuk akumulasi jangka panjang. Namun, strategi diversifikasi portofolio tetap menjadi langkah penting untuk mengelola risiko di tengah ketidakpastian yang masih tinggi.” (Ashmore)

Check Also

Jaga Stabilitas Ekonomi, Pemerintah Dorong Program Strategis Dari Pangan Hingga Energi

MarketNews.id- Pemerintah menegaskan komitmen menjaga stabilitas ekonomi nasional melalui percepatan berbagai program strategis di sektor …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *