Home / Otoritas / Bank Indonesia / BI : Cadangan Devisa Akhir Tahun Naik Jadi USD135,9 Miliar, Cukup Buat Impor 10 Bulan

BI : Cadangan Devisa Akhir Tahun Naik Jadi USD135,9 Miliar, Cukup Buat Impor 10 Bulan

Marketnews.is Cadangan devisa suatu negara merupakan salah satu tolok ukur makroekonomi dan sistem keuangan. Hingga akhir tahun lalu, posisi cadangan devisa negara meningkat USD2,3 miliar menjadi USD135,9 miliar. Penambahan cadangan devisa ini ditopang oleh penarikan pinjaman luar negeri pemerintah dan penerimaan pajak. Sementara itu, pada minggu pertama tahun ini laju inflasi mencapai 0,38 persen.

Cadangan devisa (cadev) periode Desember 2020 sebesar USD135,9 miliar atau bertambah USD2,3 miliar jika dibandingkan dengan posisi pada akhir bulan sebelumnya yang di angka USD133,6 miliar.


Kepala Departemen Komunikasi BI, Erwin Haryono, mengungkapkan kenaikan ditopang oleh penarikan pinjaman luar negeri pemerintah dan penerimaan pajak.
Menurut dia, posisi cadev ini setara dengan pembiayaan 10,2 bulan impor atau 9,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Posisi tersebut juga berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.


“Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan,” kata Erwin dalam keterangannya, Jumat (8/1).


“Ke depan, Bank Indonesia memandang cadangan devisa tetap memadai, didukung oleh stabilitas dan prospek ekonomi yang terjaga, seiring dengan berbagai respons kebijakan dalam mendorong pemulihan ekonomi,” pungkasnya.

Sementara itu, tingkat inflasi pada minggu pertama bulan Januari 2021 diperkirakan sebesar 0,38 persen month to month (mtm). Hal itu didasarkan pada hasil survei Bank Indonesia (BI) melalui kantor-kantor perwakilan yang tersebar di seluruh Indonesia.
Menurut Erwin Haryono, dengan perkiraan inflasi itu, maka inflasi Januari 2021 secara tahun kalender sebesar 0,38 persen (ytd), dan secara tahunan sebesar 1,68 persen (yoy).


Penyumbang utama inflasi yaitu, cabai rawit sebesar 0,09 persen (mtm), cabai merah sebesar 0,05 persen, tempe dan tahu masing-masing sebesar 0,03 persen (mtm). Kemudian emas perhiasan dan tarif angkutan antarkota masing-masing sebesar 0,02 persen (mtm), ikan kembung, daging ayam ras, udang basah, ikan tongkol dan nasi dengan lauk masing-masing sebesar 0,01 persen (mtm).


“Untuk komoditas yang menyumbang deflasi pada periode laporan berasal dari komoditas telur ayam ras sebesar -0,03 persen (mtm) dan bawang merah sebesar -0,02 persen (mtm),” ujar Erwin.


Kemudian terkait dengan aliran modal asing yang masuk Indonesia pada periode itu (4 – 7 Januari) sebesa Rp6,06 triliun. Sebagian besar aliran dana yang masuk diwujudkan melalui instrumen surat berharga negara (SBN) sebesar Rp5,03 triliun. Kemudian yang melalui produk saham sebesar Rp1,03 triliun.


“Berdasarkan data setelmen selama 2021 (ytd), nonresiden di pasar keuangan domestik beli neto sebesar Rp10,41 triliun. (Untuk) premi CDS (Credit Default Swaps) Indonesia 5 tahun turun di 65,45 bps per 7 Januari 2021 dari 66,06 bps per 31 Desember 2020,” pungkasnya.

Check Also

Pembelian Suku Cadang Honda Motor Turun, Laba BOLT Anjlok 63 Persen

MarketNews.id PT Garuda Metalindo Tbk (BOLT), mengalami penurunan laba bersih sedalam 63,8 persen secara tahunan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *