Home / Otoritas / Bank Indonesia / BI: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Akan Mencapai 6 Persen Di 2021

BI: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Akan Mencapai 6 Persen Di 2021

Marketnews.id Bank Indonesia sebagai lembaga moneter, optimis perekonomian Indonesia akan segera pulih setelah pendemi covid-19 selesai. Salah satu dasar optimisme itu terlihat dari lebih besarnya arus dana asing masuk ke Indonesia ketimbang dana yang keluar. Dana masuk tersebut sebagian besar ada di obligasi pemerintah yang memiliki yield yang lebih baik dibanding dengan negara Asia lainnya. Artinya kepercayaan asing terhadap ekonomi Indonesia sangat bagus.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo optimistis, ekonomis ii dalam negeri akan tumbuh hingga enam persen tahun 2021, terutama didorong oleh berbagai program pemulihan ekonomi yang telah diluncurkan pemerintah dan bank sentral.


“Tidak hanya berbagai program pemulihan ekonomi, tapi juga ada berbagai langkah reformasi struktural untuk menaikkan investasi. Itu yang akan mempengaruhi tingginya pertumbuhan ekonomi 2021,” kata Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo dalam keterangan pers, Rabu (22/4).


Adanya stimulus fiskal dan moneter yang digelontorkan pemerintah bersama bank sentral berpotensi mendorong pemulihan ekonomi setelah wabah virus korona usai.


Sebelumnya, pemerintah memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun ini turun mencapai 2,3 persen karena dampak wabah Covid-19, dan diprediksi tumbuh 4,5-5,5 persen tahun depan.


Perry Warjiyo meyakini pola pemulihan ekonomi Indonesia akan berbentuk kurva V, atau akan segera naik kembali setelah wabah Covid-19 mereda. Meski begitu, Perry menambahkan, melesatnya pertumbuhan ekonomi tidak terlepas dari penanganan yang dilakukan.

Salah satu indikator pertumbuhan ekonomi akan terus membaik juga terlihat arus masuk dana asing ( inflow ) sepanjang periode 13-20 April 2020 mencapai Rp4,37 triliun.Pada periode yang sama arus keluar dana asing ( outflow ) sebesar Rp2,8 triliun. Asus masuk dan keluar dana asing tersebut lebih banyak berasal dari investasi portofolio dalam bentuk obligasi.


Lebih jauh Gubernur BI, Perry Warjiyo menyatakan, perbandingan jumlah  inflow  dan  outflow  menujukkan bahwa total netto  inflow  asing ke portofolio di indonesia adalah Rp1,57 triliun. Jumlah tersebut, menurutnya menjadi sinyal yang positif bahwa kepercayaan pasar atau investor asing terhadap perekonomian nasional bergerak ke arah yang positif.


“Ini menunjukkan bahwa secara bertahap,  confident  terhadap Indonesia khususnya pada investasi portofolio  fix income  dalam SBN (Surat Berharga Negara) berangsur-angsur mengalami kenaikan,” kata Perry melalui  videoconference , Rabu (22/4).


Faktor pendorong arus masuk dana ke Indonesia yang lebih besar dibandingkan  outflow  adalah  yield  atau imbal hasil di Indonesia lebih menarik dibandingkan negara-negara lain, terutama di Asia.

Selain itu. kata Perry, tingkat premi risiko di Indonesia juga dianggap oleh sebagian besar investor asing lebih pasti.
“Bisa kita ukur dengan beberapa indikator misal  yield spread  obigasi yang sama-sama jangka 10 tahun. Dengan US Treasury perbedaannya 7,1 persen dalam basis 713 bps. Nah ini cukup menarik (invstasi) portofolio di Indonesia,” imbuhnya.


Dari sisi periode ,  diketahui bahwa durasi dana  inflow  lebih panjang daripada dana  outflow . Hal ini mengacu pada data historis mulai tahun 2011-2019, dimana dana  inflow  yang durasinya inflow lebih lama, jumlahnya juga lebih besar. Jangka waktu  outflow  2-4 bulan tetapi  inflow  21 bulan.
“Besaran atau durasinya secara historis datanya menunjukkan bahwa jumlah dana  inflow  akan lebih besar dari yang  outflow . Sekitar Rp29,9 triliun  outflow  dan jumlah inflow Rp229 triliun,” ujar Perry.


Check Also

Erick Thohir : Pembelian Dolar Dilakukan Secara Optimal, Terukur Dan Sesuai Kebutuhan

MarketNews.id Tingkat inflasi di US yang sulit turun salah satunya dipicu oleh kenaikan harga energy. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *