Home / Otoritas / Bursa Efek Indonesia / Pasar Boleh Turun, Tapi SRO Tetap support Perusahaan Go Public

Pasar Boleh Turun, Tapi SRO Tetap support Perusahaan Go Public

Marketnews.id Suasana perdagangan saham dalam dua bulan belakangan ini memang terus dirundung banyak isu negatif. Sejak akhir Desember tahun lalu, kondisi pasar mulai mengalami tren penurunan. Berawal dari terungkapnya kasus gagal bayar Asuransi Jiwasraya, pasar terus mengalami penurunan dan puncak nya terjadi setelah wabah virus Corona mulai masuk Indonesia.

Hingga memasuki Minggu kedua bulan Maret ini, suasana perdagangan saham terus melemah sejalan dengan melemahnya perdagangan saham di mancanega akibat wabah virus Corona. Lalu bagaimana minat perusahaan untuk mencatatkan sahamnya di lantai bursa.

Kendati Indeks Harga Sah Gabungan ( IHSG ) berada dalam tren melemah, namun manajemen PT Bursa Efek Indonesia (BEI) berkomitmen menjaga keinginan calon emiten agar melanjutkan proses penawaran umum perdana saham (IPO) hingga tahap pencatatan saham di BEI.


“Dalam kondisi apa pun, kami ingin meyakinkan bahwa appetite dari perusahaan yang akan mencatatkan sahamnya, tetap bisa kami jaga,” kata Direktur BEI, I Gede Nyoman Yetna Setia di Gedung BEI Jakarta, Senin (9/3).


Sebagaimana diketahui, sejak pada pukul 11.25 WIB perdagangan Sesi I hari ini laju IHSG menurun ke level 5.284 atau menurun sebesar 3,9 persen. Bahkan, Indeks LQ45 dan Indeks IDX30 tercatat masing-masing turun sebesar 4,81 persen dan 4,75 persen.


Lebih lanjut, Nyoman mengaku, sebanyak 24 calon Perusahaan Tercatat yang sudah masuk ke dalam pipeline IPO di 2020 belum ada yang menyatakan menunda atau membatalkan rencana go public. “Pada hari ini ada dua perusahaan yang mencatatkan saham di Bursa. Dan, di pipeline masih ada 24 perusahaan,”tambahnya.


Dia mengungkapkan, saat ini ada dua emiten dengan sizing kecil yang akan mencatatkan saham di Papan Akselerasi. Sebelumnya, sudah ada satu emiten yang mencatatkan saham di Papan Akselerasi, yakni PT Tourindo Guide Indonesia Tbk (PGJO) yang melantai di BEI sejak 8 Januari 2020. “Yang akan mencatatkan di Papan Akselerasi segera ada lagi. Ada dua perusahaan,” ungkap Nyoman.


Lebih jauh Nyoman menjelaskan, sebagian besar emiten baru yang mencatatkan saham di BEI sepanjang 2020 merupakan perusahan dengan nilai emisi relatif kecil. Dari 16 emiten baru tahun ini, hanya dua perusahaan yang memiliki size cukup besar, yakni PT Perintis Triniti Properti Tbk (TRIN) dan PT Diamond Food Indonesia Tbk (DMND).


“Bursa adalah tempat atau rumah pertumbuhan. Bukan hanya perusahaan yang besar, tetapi tempat pertumbuhan bagi semua sizing perusahaan. Kami membuka diri untuk perusahaan-perusahaan kecil, menengah dan besar.

Ada beberapa memang yang sedang bertumbuh, startup pun kami fasilitasi. Makanya ada Papan Akselerasi,” papar Nyoman.


Nyoman mengaku, BEI terus mendorong perusahaan tertutup untuk melakukan go public. “Kami tidak berhenti meng-encorage mereka. Bursa siap menunggu. Perusahaan jangan menunggu besar untuk ke pasar modal. Tetapi, jadilah besar melalui pasar modal. Buat yang besar, kami tunggu. Mudah-mudahan di periode tahun ini akan ada yang besar,” tuturnya.

Check Also

BI Teken Kerjasama Dengan Otoritas Moneter Singapura Untuk Tangkal Money Laundry Dan Inovasi Pembayaran

Marketnews.id Kerjasama antara Bank Sentral Indonesia (BI) dan Monetery Authority of Singapore (MAS) semakin intens …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *