MarketNews.id- Bursa saham Indonesia mengakhiri sesi perdagangan pekan ini, Jumat (22/5), dengan mencatatkan laju penurunan IHSG sebesar 1,1% ke 6.162, namun jauh di bawah penutupan sesi perdagangan pekan sebelumnya di posisi 6.599.
Investor asing mencatatkan arus keluar dana dari pasar saham sebesar USD28 juta dalam sepekan terakhir.
Ashmore mencatat, sektor yang membukukan penurunan paling dalam adalah sektor Transportasi & Logistik serta Basic Materials yang masing-masing rontok -19,18% dan -16,31%.
Sedangkan performa terbaik pekan ini dicatat oleh indeks Nikkei (+3,14%) dan gas alam (+1,59%). Sebaliknya, IHSG (-8,35%) dan indeks LQ45 (-5,69%) mengalami penurunan tajam.
Di Asia, ekonomi Jepang tumbuh lebih cepat berkat konsumsi swasta yang lebih kuat, sementara inflasi justru turun tak terduga. Di China, produksi industri tumbuh lebih lambat dan mencapai level terlemah sejak Juli 2023 akibat dampak konflik Timur Tengah terhadap sektor tersebut.
“Indonesia mencatat kenaikan suku bunga bank sentral yang lebih besar dari perkiraan sebagai upaya memperkuat nilai tukar rupiah,” tulis Asmore.
Ashmore mencermati, pekan ini, pasar global masih didorong oleh perkembangan dan ekspektasi kesepakatan antara AS dan Iran yang terus berubah dari positif ke negatif, sehingga memicu volatilitas harga minyak. Meski demikian, harga minyak Brent tetap tinggi di sekitar USD105 per barel dan turut mendorong ekspektasi inflasi global.
Di dalam negeri, Bank Indonesia menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin, lebih besar dari perkiraan konsensus pasar.
“Keputusan ini merupakan langkah tegas untuk mempertahankan rupiah yang berada di level terlemahnya sepanjang sejarah,” sebut Ashmore.
Ashmore mencatat, diplomasi antara AS dan Iran menunjukkan kemajuan pekan ini, namun pasar belum melihat perkembangan yang cukup signifikan untuk mengubah sentimen risiko.
Sejumlah poin penting dalam rancangan kesepakatan masih menjadi perhatian, terutama terkait uranium Iran dan kontrol atas Selat Hormuz. “Meski pasar berharap tercapai perdamaian, harga minyak tetap tinggi karena risiko gangguan pasokan dinilai masih besar,” imbuh Ashmore.
Dengan tingginya inflasi AS pada data terbaru, di mana Producer Price Index (PPI) mencapai 6,4% secara tahunan, Ashmore melihat bahwa pasar mulai memperkirakan suku bunga AS akan lebih tinggi hingga akhir tahun ini.
“Pasar future s kini memperkirakan Fed Funds Rate berada di sekitar 3,8% pada akhir tahun, atau sekitar 77% probabilitas kenaikan suku bunga pada 2026. Angka ini sekitar 78 basis poin lebih tinggi dibanding ekspektasi awal tahun.
Sementara itu, Ashmore menilia keputusan Bank Indonesia yang mengejutkan pasar dengan kenaikan suku bunga besar, memberikan sinyal jelas bahwa bank sentral siap menghadapi volatilitas global dan membela rupiah.
Bank sentral menegaskan inflasi masih terkendali di level 2,42% pada April dan pendekatan yang diambil tetap mengutamakan stabilitas tanpa mengorbankan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi.
Namun demikian, nilai tukar rupiah tidak langsung menguat signifikan karena masih dipengaruhi kekuatan dolar AS dan harga minyak, akan tetapi volatilitas diperkirakan akan mereda.
Sejalan dengan kenaikan suku bunga, imbal hasil obligasi tenor pendek meningkat, sementara tenor panjang relatif stabil sehingga kurva imbal hasil semakin mendatar.
Pasar kini mencermati perkembangan pembicaraan damai AS-Iran, khususnya terkait uranium dan kontrol Selat Hormuz. Harga minyak akan terus menjadi faktor utama yang memengaruhi inflasi global dan ekspektasi arah suku bunga, tercermin dari tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Di dalam negeri, Ashmore berpendapat, investor juga akan menilai upaya pemulihan kepercayaan terhadap rupiah serta menunggu kejelasan mengenai badan usaha ekspor milik negara yang baru diumumkan pemerintah.
“Pasar juga masih menantikan pengumuman resmi hasil tinjauan peringkat utang Indonesia oleh S&P serta arus dana investasi pasif terkait review MSCI pada akhir bulan,” papar Ashmore.
Secara keseluruhan, kondisi pasar diperkirakan masih volatil dalam jangka pendek. Diversifikasi aset dan mata uang tetap direkomendasikan untuk mengurangi risiko.
Strategi investasi global EM Sharia Equity dan Sukuk dinilai masih menarik pada siklus saat ini karena didukung likuiditas yang kuat dan profil risiko-imbal hasil yang seimbang bagi investor.
Ashmore
MarketNews.id Media Investasi dan Pasar Modal