MarketNews.id-Bursa kripto Binance mencatat arus keluar dana bersih (net outflows) sekitar 3,64 miliar dollar AS atau Rp66,06 triliun setelah layanan penarikan dana kembali dibuka secara bertahap.
Dilansir dari data terbaru laman Binance pada Senin 2 Nopember 2026 menunjukkan, dalam periode pukul 06.00 hingga 15.30 UTC pada Minggu, (1/11/2026), pengguna menarik dana sekitar 4,649 miliar dollar AS.
Arus dana keluar tersebut terjadi setelah Binance sebelumnya mengalami insiden peretasan yang berdampak pada aset kripto senilai sekitar 6,3 miliar dollar AS atau Rp114,41 triliun.
Pada periode yang sama, dana yang masuk melalui setoran mencapai sekitar 1,01 miliar dollar AS. Selisih antara penarikan dan setoran tersebut menghasilkan net outflow sekitar 3,64 miliar dollar AS.
Jika dibandingkan dengan total aset Binance yang mencapai sekitar 171 miliar dollar AS berdasarkan data proof of reserves per Rabu, 28 Oktober 2026, arus keluar bersih tersebut setara dengan sekitar 2,1 persen dari total aset.
Binance mengatakan volume penarikan sempat melonjak ketika layanan kembali tersedia. Namun, setelah lonjakan awal tersebut, aktivitas penarikan mulai menurun dan berangsur stabil, sementara volume setoran masih cukup besar.
Penarikan Dibuka Bertahap
Binance mulai memulihkan layanan penarikan pada pukul 06.00 UTC atau sekitar pukul 13.00 WIB pada Minggu, (1/11/2026).
Pemulihan dilakukan secara bertahap dengan memprioritaskan sejumlah jaringan dan aset.
Pada pukul 12.36 UTC, layanan penarikan telah kembali tersedia untuk seluruh 15 jaringan dan aset yang masuk dalam tahap pemulihan awal.
Binance kemudian masih melakukan pengujian terhadap jaringan dan aset lainnya sebelum layanan tersebut kembali sepenuhnya.
Perusahaan juga mengatakan telah mengambil langkah untuk memastikan sistem penarikan dapat kembali berjalan dengan aman dan stabil.
Binance Klaim Kerugian Ditanggung Perusahaan Peretasan yang menimpa Binance menjadi perhatian besar karena nilai aset yang terdampak mencapai sekitar 6,3 miliar dollar AS.
Binance menyatakan akan menanggung dampak finansial dari aset yang dicuri dan tidak membebankan kerugian tersebut kepada para pengguna.
Dalam pembaruan sebelumnya, Binance menyebut sekitar 95 persen dari total nilai aset yang terdampak telah ditutup atau dipulihkan. Sementara sekitar 5 persen sisanya berkaitan dengan token dengan likuiditas lebih rendah sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk diperoleh kembali.
Binance juga menegaskan proses pemulihan aset masih berlangsung bersamaan dengan pemulihan layanan penarikan dan penyetoran.
Pendiri sekaligus mantan CEO Binance, Changpeng Zhao atau CZ, turut memberikan pernyataan setelah layanan penarikan kembali dibuka.
Melalui unggahan di platform X, Zhao mengatakan sebagian besar arus dana keluar terjadi dalam beberapa jam pertama setelah layanan penarikan dipulihkan.
Ia juga menyebut sekitar 98 persen pengguna memilih tetap bertahan di Binance.
“Kepercayaan tidak diperoleh dari apa yang Anda katakan pada masa-masa baik. Kepercayaan diperoleh dari apa yang Anda lakukan pada masa-masa sulit,” tulis Zhao.
Dengan layanan penarikan yang mulai kembali normal dan volume penarikan yang disebut Binance berangsur stabil, perusahaan masih melanjutkan pengujian terhadap jaringan serta aset yang belum masuk tahap pemulihan.
Binance juga telah mengambil snapshot baru untuk proof of reserves pada Sabtu, (31/10/2026) dan menyatakan laporan terbaru akan memberikan gambaran terkini mengenai cadangan aset yang dimiliki bursa tersebut.***
MarketNews.id Media Investasi dan Pasar Modal