MarketNews.id- Bursa saham Indonesia mengakhiri sesi perdagangan pekan keempat September 2026, Jumat 25 September 2026 dengan mencatatkan penurunan IHSG sebesar 0,90% ke 6.241.
IHSG juga anjlok 200 poin dari penutupan pada akhir sesi perdagangan pekan sebelumnya di posisi 6.441.
Investor asing membukukan aksi jual bersih saham senilai USD145 juta sepanjang pekan.
Weekly Commentary PT Ashmore Asset Management Indonesia mencatat, sektor yang paling tertinggal sepanjang pekan adalah Industrials dan Infrastructures, yang masing-masing ambles 5,48% dan 4,10%.
Pasar berkinerja terbaik pekan ini dicatatkan oleh Bitcoin (+4,44%) dan indeks Nikkei (+2,07%). Sebaliknya, terjadi koreksi pada CPO (-4,90%) dan indeks IDX30 (-3,38%).
Ashmore juga mencermati, aktivitas bisnis di AS yang tumbuh mengejutkan dengan pertumbuhan lebih kuat dari perkiraan.
Flash Composite PMI naik menjadi 58,4 dari 56,0, jauh di atas ekspektasi 55,2, menunjukkan ekonomi masih berekspansi dengan laju yang kuat.
Pasar tenaga kerja juga tetap ketat, dengan klaim awal pengangguran turun menjadi 197.000 dari ekspektasi 201.000.
“Pertumbuhan yang kuat ditambah pasar tenaga kerja yang solid memberi alasan lebih bagi The Fed untuk terus menaikkan suku bunga. Pasar kini melihat peluang kenaikan suku bunga pada Oktober dan Desember lebih dari 50%. Kondisi tersebut mendorong yield obligasi AS ke level tertinggi sejak 2007,” tulis Ashmore.
Di dalam negeri, Bank Indonesia mempertahankan BI Rate di 5,75% dalam tiga pertemuan berturut-turut, sesuai ekspektasi. “Alih-alih menaikkan suku bunga, BI menurunkan biaya lindung nilai mata uang bagi investor asing untuk mendukung rupiah dan menarik arus modal masuk,” ungkap Ashmore.
Pertumbuhan kredit sedikit melambat menjadi 13,36% secara tahunan pada Agustus dari 13,58%, di bawah ekspektasi 15%. Namun, pertumbuhan kredit masih berada pada level dua digit yang sehat, menunjukkan permintaan kredit dari dunia usaha dan rumah tangga tetap stabil.
Ashmore menyoroti aksi jual obligasi global yang semakin dalam pada pekan ini. Yield US Treasury 10 tahun naik ke sekitar 5,19%, level tertinggi sejak 2007, sebelum mengakhiri pekan di sekitar 5,16%.
Yield 30 tahun mencapai 5,46%, level terakhir terlihat pada 2004.
Harapan tercapainya terobosan cepat dalam konflik di kawasan Teluk juga memudar setelah Iran menetapkan syarat tegas untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Di Indonesia, Ashmore melihat saham dan rupiah menjadi aset yang paling tertekan. IHSG turun ke 6.242 dan rupiah melemah ke Rp17.893 per dolar AS. Sebaliknya, suku bunga domestik bergerak berlawanan, dengan yield IndoGB 10 tahun turun menjadi 7,10% dan yield SRBI juga menurun.
Ashmore menggarisbawahi kenaikan yield AS didorong oleh rilis data rilis ekonomi. Flash composite PMI melonjak menjadi 58,4 dibandingkan ekspektasi 55,2, sementara klaim pengangguran tetap rendah di 197.000.
JPMorgan menilai survei tersebut konsisten dengan pertumbuhan ekonomi AS sekitar 5% per tahun, terlalu kuat bagi The Fed yang berupaya menurunkan inflasi.
“Pasar kini melihat peluang kenaikan suku bunga yang lebih besar, dengan satu kali kenaikan suku bunga sepenuhnya diperhitungkan hingga akhir tahun,” imbuh Ashmore.
Menurut Ashmore, penerbitan surat utang pemerintah AS yang besar dan pembicaraan mengenai kemungkinan larangan ekspor diesel AS turut menambah tekanan.
Ketika obligasi yang dipandang paling aman di dunia menawarkan yield di atas 5%, investor menuntut imbal hasil lebih tinggi dari aset lainnya, yang mendukung dolar AS dan menekan mata uang emerging market .
Kendati demikian, Ashmore melihat, saham emerging market global tetap bertahan dengan baik. Indeks MSCI Emerging Markets naik 2,6% dalam sepekan, menunjukkan manfaat diversifikasi investasi saham lintas negara.
Di dalam negeri, BI mempertahankan suku bunga 5,75% untuk pertemuan ketiga. Ashmore mencatat, alih-alih menaikkan suku bunga, BI memangkas biaya lindung nilai mata uang bagi investor asing, meningkatkan intervensi di pasar valuta asing, serta membeli obligasi pemerintah di pasar sekunder.
Rupiah menjadi salah satu mata uang terlemah di Asia pada Kamis sebelum stabil pada Jumat. Aksi jual asing di pasar saham terkonsentrasi pada saham-saham bank besar.
Peningkatan status Vietnam menjadi pasar emerging menurut FTSE pada 21 September juga menarik sebagian dana regional dari Indonesia.
“Menariknya, suku bunga domestik justru turun ketika suku bunga global naik,” sebut Ashmore.
Dalam lelang Jumat, rata-rata yield SRBI tenor 12 bulan turun menjadi 6,76%, sekitar 16 basis poin lebih rendah dibandingkan dua pekan sebelumnya. Penawaran lebih dari dua kali lipat menjadi Rp64 triliun, sementara BI hanya menyerap Rp15 triliun.
Menurut Ashmore, hal ini menunjukkan kuatnya permintaan domestik terhadap aset rupiah dan langkah bank sentral menjaga suku bunga jangka pendek untuk mendukung pertumbuhan sambil mempertahankan nilai tukar melalui instrumen lain.
Konsekuensinya, selisih yield obligasi Indonesia terhadap US Treasury menyempit menjadi sekitar 1,9% dari sekitar 2,5% sebelum perang, sehingga kebijakan BI di pasar valuta asing menjadi semakin penting.
Ashmore berpendapat, dengan inflasi sebesar 3,19% dan harga minyak jauh di atas asumsi USD70 dalam anggaran 2026, ruang untuk penurunan suku bunga juga terbatas.
Untuk surat berharga jangka pendek, yield masih berada cukup nyaman di atas inflasi, meski hasil lelang SRBI menunjukkan suku bunga jangka pendek kemungkinan telah melewati puncaknya untuk sementara.
Secara keseluruhan, Ashmore menilai, kenaikan suku bunga global menjadi tema utama pekan ini, sementara pasar Indonesia bergerak berbeda arah. Saham dan rupiah berada di bawah tekanan, sedangkan yield obligasi domestik bertahan dan yield jangka pendek turun.
“Kami tetap memilih perusahaan likuid dan transparan dengan fundamental kuat serta obligasi berkualitas, yang ditempatkan dalam portofolio terdiversifikasi berdasarkan wilayah dan kelas aset,” papar Ashmore.
“Hal-hal utama yang perlu dicermati adalah data inflasi PCE AS dan PDB kuartal II, data inflasi Indonesia September, perkembangan pembicaraan AS-Iran, serta apakah yield AS dapat stabil di atas 5% menjelang pertemuan The Fed berikutnya pada Oktober.” (Ashmore)
MarketNews.id Media Investasi dan Pasar Modal