MarketNews.id-Rupiah ditutup melemah 0,60 persen ke Rp17. 861 per dolar AS. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ikut terkoreksi 1,53 persen atau 97 poin ke level 6.267. Hampir seluruh sektor alami tekanan. Dari seluruh emiten yang diperdagangkan 567 saham turun, 148 naik dan 248 stagnan.
Sementara itu sentimen domestik turut tertekan penurunan IKK dari 117,8 jadi 116,8 pada Juli meskipun penjualan eceran membaik 0,7 persen MtM.
Ketegangan AS- Iran dan ancaman gangguan pasok energi kembali meningkatkan risiko pasar. Sedangkan investor masih menanti data CPI dan PPI AS sebagai petunjuk arah suku bunga The Fed.
Nilai tukar rupiah melemah tajam terhadap dolar Amerika Serikat hari ini, tertekan kewaspadaan pelaku pasar terhadap tinjauan MSCI untuk bulan Agustus 2026 yang dijadwalkan pada Rabu besok 12 Agustus 2026.
Mengutip data Bloomberg, Selasa 11 Agustus 2026 pukul 15.00 WIB, rupiah akhirnya ditutup pada level Rp17.861 per dolar AS, melemah 106 poin atau 0,60% dibandingkan akhir perdagangan Senin (10/8) di posisi Rp17.755 per dolar AS.
Pengamat ekonomi, mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan dari sisi domestik, pelaku pasar sedang bersikap waspada terhadap agenda tinjauan MSCI untuk Agustus 2026 yang dijadwalkan pada 12 Agustus 2026.
“Pasar bersikap waspada terhadap agenda tinjauan MSCI untuk bulan Agustus 2026 yang dijadwalkan pada 12 Agustus 2026, di mana perubahan penyeimbangan ulang (rebalancing) akan mulai berlaku setelah 31 Agustus,” tulis Ibrahim dalam publikasi risetnya sore ini.
Tekanan terhadap pasar sedikit tertahan oleh perkembangan sebelumnya di mana Presiden Prabowo mengajukan Pelaksana Tugas (Plt.) Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, sebagai calon tunggal pengganti Perry Warjiyo. Langkah tersebut dinilai meredakan kekhawatiran pasar terkait kesinambungan kepemimpinan bank sentral.
Namun, pasar juga merespons negatif penurunan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) dari 117,8 pada Juni 2026 menjadi 116,8 pada Juli 2026. Level tersebut merupakan yang terendah sejak September 2025 yang berada di posisi 115.
Jika dibandingkan dengan posisi awal tahun pada Januari 2026 sebesar 127, IKK Juli telah mengalami penurunan 10,2 poin.
Survei BI tersebut mencerminkan tingkat keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini serta ekspektasi terhadap kondisi ekonomi pada masa mendatang.
Di sisi lain, data penjualan eceran yang dirilis Bank Indonesia hari ini menunjukkan perbaikan. Penjualan eceran meningkat 0,7% secara bulanan (MtM) pada Juni 2026, sekaligus mengakhiri tren kontraksi dalam dua bulan sebelumnya, masing-masing sebesar 11,6% pada April dan 1,5% pada Mei.
Perbaikan penjualan eceran tersebut dipengaruhi siklus musiman pada Juni, sejalan dengan terjaganya permintaan selama periode hari besar keagamaan nasional ( HBKN ) dan libur sekolah.
Tekanan terhadap rupiah, menurut Ibrahim juga dipengaruhi perkembangan eksternal, terutama ketegangan Amerika Serikat dan Iran yang kembali memupus harapan pembukaan kembali Selat Hormuz.
“Amerika Serikat dan Iran sama-sama menuntut kompensasi atas serangan militer baru-baru ini; hal ini memupus harapan bahwa kedua pihak sudah mendekati kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz,” ungkap Ibrahim.
Menurut dia, Washington menyatakan Selat Hormuz tetap terbuka, sedangkan Teheran mengklaim telah menutup jalur perairan tersebut menggunakan ranjau dan pesawat nirawak atau drone.
Presiden AS Donald Trump pada Senin menuntut Iran membayar kompensasi bagi korban jiwa dalam konflik baru-baru ini, sebagai tanggapan atas tuntutan kompensasi yang diajukan Teheran.
Kondisi tersebut terjadi setelah sebelumnya pihak berwenang AS menyatakan bahwa kesepakatan untuk membuka kembali jalur perairan vital tersebut sudah dekat.
Ibrahim menambahkan, kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi juga meningkat setelah kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran menyatakan telah menyerang kilang minyak Jazan milik Saudi Aramco pada akhir pekan lalu.
“Kelompok Houthi mengancam akan membuka front baru dalam konflik yang melibatkan Iran dengan menyerang kapal serta infrastruktur minyak di Laut Merah. Ancaman tersebut meningkatkan kecemasan terhadap gangguan pasokan dan berpotensi mendorong kenaikan harga minyak mentah.
Sementara itu, perhatian pasar global kini beralih ke data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS pada Rabu (12/8) dan Indeks Harga Produsen (PPI) pada Kamis (13/8). Data tersebut akan menjadi petunjuk baru bagi pelaku pasar dalam memperkirakan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (Fed).
CPI AS Juli diperkirakan turun menjadi 3,4% secara tahunan (YoY), dari 3,5% YoY pada bulan sebelumnya. Core CPI juga diproyeksikan turun menjadi 2,5% YoY dari 2,6% YoY.
Menurut CME FedWatch Tool, pasar memperkirakan sekitar 44% kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertemuan September, turun dari 67% sepekan sebelumnya.
MarketNews.id Media Investasi dan Pasar Modal