Home / Otoritas / Bank Indonesia / Destry Damayanti Harus Mampu Jaga Pertumbuhan Dan Independensi BI

Destry Damayanti Harus Mampu Jaga Pertumbuhan Dan Independensi BI

MarketNews.id-Presiden Prabowo sudah mengajukan Destry Damayanti sebagai satu satunya calon Gubernur Bank Indonesia (BI). Keputusan ini disambut positif oleh banyak kalangan termasuk ekonom dan pemerhati perekonomian nasional.

Kedekatan Destry dan Menteri Keuangan Purbaya, dinilai dapat memperkuat koordinasi kebijakan moneter dan fiskal namun sekaligus memunculkan perhatian terhadap independensi BI.

Investor akan mencermati kemampuan Destry menjaga stabilitas Rupiah, inflasi dan sistem keuangan, sambil mendukung target Pemerintah dorong pertumbuhan ekonomi menuju 8 persen di 2029.

Destry Damayanti menghadapi tantangan besar untuk membuktikan bahwa dirinya mampu mendukung agenda pertumbuhan ekonomi pemerintah tanpa mengorbankan independensi Bank Indonesia (BI).

Dua pekan setelah ditunjuk sebagai gubernur sementara BI, Destry langsung menunjukkan sinyal kuat untuk mempererat koordinasi dengan pemerintah. Salah satu agenda pertamanya adalah bertemu Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di kantor Kementerian Keuangan sebelum menghadap Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan.

Beberapa hari kemudian, Destry dan Purbaya tampil berdampingan dalam konferensi pers, menunjukkan hubungan kerja yang relatif dekat antara otoritas moneter dan fiskal.

Kedekatan tersebut berbeda dengan pola hubungan yang terlihat pada era Gubernur BI sebelumnya, Perry Warjiyo. Pertemuan Perry dengan Menteri Keuangan lebih sering berlangsung dalam forum yang lebih luas, seperti di Istana Kepresidenan atau komite regulator.

Kini, Presiden Prabowo telah mengusulkan Destry, yang sebelumnya menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior BI sejak 2019, sebagai satu-satunya calon Gubernur BI.

Pencalonan tersebut masih membutuhkan persetujuan DPR.
Langkah ini dinilai mencerminkan upaya pemerintah mencari keseimbangan antara sosok teknokrat yang ramah terhadap pasar dengan pejabat yang dinilai mampu mendukung agenda ekonomi pemerintahan Prabowo.

Sejumlah ekonom dan analis sejauh ini menyambut positif pencalonan Destry. Mereka memperkirakan kebijakan BI akan tetap berkesinambungan, dengan fokus utama pada stabilitas nilai tukar rupiah.

Namun, kedekatan Destry dengan pemerintah juga dapat membuka ruang koordinasi yang lebih erat dan berpotensi menghasilkan kebijakan moneter yang lebih akomodatif.

“Kami memperkirakan komunikasi BI dengan pemerintah akan membaik ke depan. Namun, lingkungan yang menentukan kredibilitas institusi masih terus berubah,” kata ekonom Citigroup, Helmi Arman, dalam sebuah catatan.

Pasar keuangan pada awalnya merespons positif kabar pencalonan Destry. Rupiah menguat terhadap dolar AS dan mencapai level terkuat dalam sebulan, sekaligus mencatat kinerja yang lebih baik dibandingkan sebagian besar mata uang Asia.

Meski demikian, tantangan yang dihadapi Destry tidak ringan. Investor sebelumnya telah diguncang oleh berbagai kebijakan populis pemerintahan Prabowo, termasuk program makan bergizi gratis serta peningkatan kendali negara terhadap sejumlah komoditas.

Rupiah juga telah melemah sekitar 6 persen terhadap dolar AS sepanjang tahun ini, menjadikannya mata uang dengan kinerja terburuk di Asia.
Di tengah kondisi tersebut, Fitch Ratings dan Moody’s Ratings telah menempatkan peringkat utang berdaulat Indonesia dalam status negative watch akibat ketidakpastian kebijakan. Sementara itu, S&P Global Ratings masih mempertahankan prospek stabil untuk Indonesia.

Tantangan Kebijakan Moneter
Di bawah kepemimpinan Perry Warjiyo, BI menggunakan kombinasi berbagai instrumen untuk menghadapi sejumlah sasaran kebijakan yang saling berhadapan.

Bank sentral telah menaikkan suku bunga sebanyak tiga kali sejak Mei dan melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menopang rupiah.
Pada saat yang sama, BI semakin mengandalkan instrumen non-suku bunga untuk menjaga penyaluran kredit dan mendukung pertumbuhan ekonomi.

“Ke depan, investor akan mencermati apakah BI tetap bersedia mempertahankan atau menaikkan suku bunga ketika diperlukan. Selain itu, pasar juga akan melihat apakah kebijakan likuiditas tetap didasarkan pada kebutuhan moneter dan stabilitas sistem keuangan.

Tantangan Destry semakin kompleks karena kenaikan suku bunga global dan penguatan dolar AS masih memberikan tekanan terhadap rupiah. Di sisi lain, inflasi domestik relatif terkendali, sementara pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi dapat meningkat hingga 8% pada 2029.

Bank sentral, perlu menerjemahkan stabilitas tersebut menjadi kondisi likuiditas yang lebih sehat, kurva imbal hasil yang lebih normal, transmisi kebijakan moneter yang lebih kuat serta pemulihan kepercayaan sektor swasta.

Check Also

Rupiah Melemah Tajam, Indeks Turun 1,53 Persen. Pengumuman MSCI Besok Jadi Pemicu

MarketNews.id-Rupiah ditutup melemah 0,60 persen ke Rp17. 861 per dolar AS. Indeks Harga Saham Gabungan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *