Home / Otoritas / Bursa Efek Indonesia / Indeks Terjepit Risiko Selat Hormuz Dan Tekanan Rupiah

Indeks Terjepit Risiko Selat Hormuz Dan Tekanan Rupiah

MarketNews.id- Memasuki pekan kedua Maret 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih bergerak dalam fase konsolidasi dengan volatilitas tinggi.

Analis Ekonomi Politik Pasar Saham, Kusfiardi, menilai pasar modal Indonesia saat ini berada pada titik krusial setelah mengalami koreksi signifikan di awal bulan.

Penutupan IHSG di level 7.585 pada akhir pekan lalu mencerminkan sensitivitas pasar terhadap kombinasi tekanan global dan domestik. Kusfiardi memperkirakan IHSG akan bergerak pada rentang 7.480–7.750 sepanjang periode 9–13 Maret 2026, dengan level 7.500 sebagai support psikologis penting bagi stabilitas pasar jangka pendek.

Menurutnya, dinamika pasar saat ini tidak hanya dipengaruhi faktor teknikal, tetapi juga mencerminkan interaksi antara risiko geopolitik, kredibilitas fiskal, dan struktur arus modal global yang mempengaruhi pasar negara berkembang (emerging markets).

Risiko Geopolitik dan Lonjakan Harga Energi

Kusfiardi menyoroti eskalasi ketegangan di kawasan Selat Hormuz sebagai faktor eksternal utama. Wilayah ini merupakan jalur strategis bagi seperlima perdagangan minyak dunia.

“Jika harga minyak WTI menembus US$90 per barel, tekanan terhadap ekonomi Indonesia akan meningkat. Sebagai negara importir minyak, kenaikan harga energi tidak hanya memperlebar beban subsidi fiskal, tetapi juga memicu inflasi impor yang menekan daya beli masyarakat,” ujar Kusfiardi.

Outlook Fitch dan Persepsi Risiko Investor

Dari sisi domestik, pasar masih merespons revisi outlook kredit Indonesia oleh Fitch Ratings dari stabil menjadi negatif. Kondisi ini diperburuk oleh tekanan nilai tukar rupiah yang mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar AS, di tengah kebijakan moneter ketat (hawkish) dari Federal Reserve.

Strategi Investasi: Peluang di Tengah Koreksi

Meski dibayangi ketidakpastian, Kusfiardi melihat koreksi saat ini membuka peluang akumulasi bagi investor jangka panjang karena valuasi IHSG mulai berada di bawah rata-rata price-to-earnings ratio (PER) lima tahun terakhir. Berikut rekomendasi strateginyastrateginya.

Pertama, Prioritas Sektor Defensif. Fokus pada sektor energi dan konsumer primer.
Kedua, Akumulasi Saham Perbankan (Big Caps). Saham-saham seperti BBCA, BBRI, dan BMRI tetap memiliki fundamental solid.
Ketiga: Waspadai Sektor Sensitif Suku Bunga. Sektor properti dan konstruksi dinilai lebih rentan saat ini.
Keempat, Manajemen Kas. Mempertahankan rasio kas minimal 30% sebagai langkah mitigasi.

“Pekan ini adalah ujian penting bagi IHSG. Jika level 7.500 mampu bertahan, pasar berpotensi mengalami technical rebound terbatas. Namun, investor tetap perlu menjaga disiplin manajemen risiko,” tutup Kusfiardi.

Check Also

Apresiasi IMF Dan Investor Global Atas Kinerja Ekonomi RI, Momentum Perkuat Kedaulatan RI

MarketNews.id- Apresiasi dari Dana Moneter Internasional (IMF) dan investor global yang menempatkan Indonesia sebagai salah …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *