MarketNews.id- Bursa saham Indonesia mengakhiri sesi perdagangan pekan terakhir Februari, Jumat (27/2), dengan mencatatkan pergerakan mendatar IHSG di posisi 8.235, namun lebih rendah dari sesi penutupan pekan sebelumnya di level 8.272. Kendati demikian, investor asing mencatatkan arus masuk ekuitas sebesar USD333 juta sepanjang pekan.
Weekly Commentary PT Ashmore Asset Management Indonesia pekan ini, mencatat beberapa hal penting.
Ashmore mencatat, sepanjang pekan ini sektor yang tertinggal adalah Transportasi & Logistik serta Infrastruktur yang masing-masing merosot 3,94% dan 3,08%. Sementara itu sektor Industri dan Bahan Baku justru meloncat 5,24% dan 3,21%.
“Sementara itu, di Indonesia, jumlah uang beredar (M2) terus tumbuh secara tahunan dengan laju yang lebih kuat dibandingkan bulan sebelumnya,” tulis Ashmore.
Afirmasi Fitch
Ashmore melihat, pekan ini, pasar global bergerak bervariasi. Aset berisiko relatif tetap tangguh, namun investor cenderung selektif di tengah ketidakpastian geopolitik dan kebijakan yang berlanjut sehingga menjaga volatilitas tetap tinggi.
“Kondisi ini mendorong rotasi yang lebih cepat ke aset safe haven , dengan harga emas yang berangsur pulih mendekati level USD5.200 setelah sempat terkoreksi di awal bulan,” imbuh Ashmore.
Selain itu, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun turun ke bawah 4,05% untuk pertama kalinya tahun ini, seiring pasar semakin sensitif terhadap kekhawatiran apakah valuasi AI saat ini masih dapat dibenarkan.
“Secara umum, lingkungan dengan imbal hasil yang lebih rendah masih mendukung aset berisiko, namun berita utama tetap sangat memengaruhi selera risiko dan volatilitas,” ungkap Ashmore.
Pada pekan ini, Ashmore juga melihat, Fitch – lembaga pemeringkat global lainnya – merilis tinjauan berkala terhadap Indonesia.
Hal ini terjadi tidak lama setelah Moody’s menyampaikan kekhawatirannya terhadap kondisi fiskal Indonesia, di mana peringkat tetap di level BBB namun outlook diturunkan menjadi Negatif.
Dalam tinjauan tersebut, Fitch juga mempertahankan peringkat BBB untuk Indonesia, dengan outlook tetap Stabil. Poin utama dari penilaian Fitch, menurut Ashmore, adalah menyoroti prospek pertumbuhan yang baik dalam jangka menengah serta rasio utang pemerintah yang relatif lebih rendah dibandingkan negara sekelas.
Selain itu, meskipun menghadapi tekanan global, Indonesia dinilai memiliki permintaan domestik yang tangguh serta kebijakan moneter yang proaktif dari bank sentral, yang mendukung keputusan Fitch mempertahankan outlook Stabil.
Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 juga dinilai lebih kuat dibandingkan median negara sekelas yang berada di kisaran 2,4%.
“Meski memberikan ruang lega bagi peringkat dan outlook Indonesia, Fitch tetap menekankan bahwa komitmen untuk menjaga defisit fiskal dalam batas 3% tetap krusial. S&P juga menyuarakan kekhawatiran serupa terkait stabilitas fiskal, meskipun hingga kini belum mengubah peringkat maupun outlook Indonesia yang masih Stabil,” papar Ashmore.
Menjelang akhir bulan kedua tahun ini, Ashmore berpendapat, investor domestik dan global terus mencermati perkembangan serta realisasi berbagai inisiatif dari otoritas Indonesia dalam upaya meningkatkan kredibilitas dan daya tarik pasar modal nasional.
“Pasar menantikan rilis data pemegang saham dengan kepemilikan minimal 1%, yang dinilai sebagai langkah penting untuk meningkatkan transparansi konsentrasi kepemilikan,” tulis Ashmore.
Selain itu, investor juga menunggu klasifikasi investor yang lebih rinci – dari 9 menjadi 28 kategori – serta peningkatan persyaratan free float menjadi 15% pada akhir Maret.
“Mengingat MSCI telah menetapkan tenggat waktu hingga Mei untuk melihat upaya dan perbaikan yang memadai, tetap penting bagi otoritas Indonesia untuk bersikap proaktif dan konsisten dalam reformasi pasar modal,” Ashmore menambahkan.
Ashmore menilai, secara keseluruhan, pasar modal domestik masih sensitif terhadap berita utama. Namun, pada pekan ini terlihat arus dana asing yang lebih kuat masuk ke pasar saham.
“Preferensi terhadap saham dengan fundamental yang solid tetap dominan, dan kami juga cenderung mempertahankan obligasi pemerintah Indonesia yang menawarkan likuiditas kuat bagi portofolio pendapatan tetap domestik,” sebut Ashmore.
Menurut Ashmore, diversifikasi menjadi kunci di tengah lingkungan yang volatil saat ini – tidak hanya lintas kelas aset, tetapi juga secara global.” Ketidakpastian global terkait geopolitik dan kebijakan perdagangan masih tinggi dan berpotensi menghadirkan lebih banyak peluang bagi manajer investasi aktif.
MarketNews.id Media Investasi dan Pasar Modal