MarketNews.id-Perjanjian dagang antara Indonesia dan Amerika dapat menjadi sentimen positif jangka pendek buat IHSG, didukung penurunan tarif hingga nol persen untuk produk CPO, Kopi dan Kakao.
Dengan adanya penurunan tarif ini, emiten yang diuntungkan diantaranya energi dan komoditas (MEDC, NKCL, ANTM) serta manufaktur (ASII) berpotensi terdorong oleh akses pasar lebih luas dan kerjasama rantai pasokan mineral kritis.
Perjanjian dagang resiprokal antara Indonesia dan Amerika Serikat dinilai berpotensi menjadi sentimen positif bagi Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) dalam jangka pendek, seiring terbukanya akses pasar yang lebih luas serta penurunan tarif bagi sejumlah komoditas unggulan ekspor nasional.
Community Lead PT IndoPremier Sekuritas, David Kurniawan Soebekti, menilai kesepakatan tersebut akan memberikan dorongan sentimen bagi pasar saham domestik. “Ya ini merupakan sentimen positif bagi IHSG ,” kata David saat dihubungi Ipotnews melalui pesan WhatsApp, Jumat (20/2).
Pemerintah Indonesia resmi menandatangani Agreement on Reciprocal Trade dengan Pemerintah Amerika Serikat pada Jumat tadi pagi di Washington D.C. Dokumen tersebut ditandatangani oleh Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto dan United States Trade Representative ( USTR ) Ambassador Jamieson Greer, serta disiarkan langsung melalui kanal YouTube resmi Kementerian Koordinator Perekonomian.
Dalam kesepakatan tersebut, Indonesia berkomitmen membebaskan tarif bea masuk bagi sebagian besar produk asal Amerika Serikat.
Sebaliknya, Amerika Serikat menurunkan tarif resiprokal atas produk Indonesia dari 32% menjadi 19% serta memberikan pengecualian tarif untuk sejumlah komoditas unggulan yang tidak diproduksi di AS, termasuk minyak kelapa sawit (CPO), kopi, dan kakao.
David menjelaskan, kesepakatan tarif dan akses pasar yang lebih luas berpotensi menguntungkan sejumlah sektor di pasar modal Indonesia, terutama energi, komoditas, dan manufaktur.
Emiten energi seperti PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dinilai berpeluang mendapat sentimen positif seiring meningkatnya fokus global pada ketahanan energi.
“Selain itu, emiten pertambangan nikel seperti PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) berpotensi terdorong apabila kerja sama mencakup penguatan rantai pasok mineral kritis, khususnya nikel sebagai bahan baku baterai kendaraan listrik,” jelas David.
Di sektor manufaktur, PT Astra International Tbk (ASII) dinilai dapat memperoleh manfaat apabila terjadi pelonggaran tarif komponen maupun peningkatan akses pasar untuk produk otomotif dan alat berat.
Kesepakatan substansi perjanjian dagang tersebut sebelumnya telah dicapai dalam pertemuan resmi antara Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dan USTR Ambassador Jamieson Greer pada 22 Desember 2025 di Washington D.C., yang kemudian dilanjutkan dengan proses harmonisasi bahasa hukum sebelum penandatanganan final.
Dengan penurunan tarif dan pengecualian bagi komoditas unggulan, perjanjian ini diperkirakan dapat memperkuat daya saing ekspor Indonesia sekaligus meningkatkan kepercayaan investor terhadap prospek pasar saham domestik dalam jangka pendek.
MarketNews.id Media Investasi dan Pasar Modal