MarketNews.id-Gempuran terhadap perekonomian Indonesia semakin masif yang dilakukan oleh investor finansial. Mulai dari pasar saham, pasar uang dan kini pasar obligasi secara serentak alami penurunan dekati titik terendah dalam 20 tahun terakhir. Disisi lain, cadangan devisa ikut tergerus hingga USD2 Miliar dalam beberapa hari terakhir.
Kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia terus menunjukkan tanda-tanda pelemahan. Hal itu tercermin dari menurunnya kepemilikan asing di pasar obligasi pemerintah hingga mendekati level terendah dalam hampir dua dekade, bersamaan dengan pelemahan tajam rupiah dan pasar saham domestik.
Pada perdagangan Kamis 4 Juni 2026, nilai tukar rupiah menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS dan mencatat rekor terendah baru di Rp18.045 per dolar AS.
Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) sempat merosot ke level terendah dalam lebih dari lima tahun.
Laman Reuters melaporkan, data pemerintah per 2 Juni 2026 menunjukkan penurunan porsi kepemilikan investor asing pada obligasi pemerintah yang beredar menjadi 12,62%. Angka tersebut merupakan yang terendah sejak November 2006 dan jauh lebih rendah dibandingkan hampir 40% yang tercatat pada 2019.
Penurunan minat investor asing juga terlihat di pasar saham. Kepala Riset Indonesia Macquarie Capital, Ari Jahja, dalam risetnya menyebut kepemilikan asing pada saham-saham Indonesia telah turun secara bertahap ke level terendah dalam beberapa tahun terakhir.
Di pasar valuta asing, rupiah telah melemah sekitar 7,5% sejak awal tahun, menjadikannya mata uang dengan kinerja terburuk di Asia sepanjang 2026.
Tekanan terhadap rupiah juga tercermin pada cadangan devisa Indonesia.
Bank Indonesia tercatat terus menguras sebagian cadangan devisanya untuk melakukan intervensi di pasar guna menahan pelemahan mata uang.
Cadangan devisa Indonesia turun USD2 miliar pada April menjadi USD146,2 miliar, level terendah dalam hampir dua tahun.
Lembaga pemeringkat Fitch Ratings sebelumnya telah mengingatkan bahwa penurunan tajam bantalan cadangan devisa akibat arus keluar modal atau memburuknya tata kelola, dapat menjadi faktor yang memicu tindakan pemeringkatan negatif terhadap Indonesia.
Kepala Riset RHB Sekuritas Indonesia, Andrey Wijaya, mengatakan investor kini semakin memperhatikan prospek kredit negara Indonesia.
“Investor semakin fokus pada prospek peringkat kredit Indonesia. Meskipun pertumbuhan ekonomi masih relatif tangguh, muncul kekhawatiran mengenai disiplin fiskal dan meningkatnya komitmen belanja pemerintah,” ujarnya kepada Reuters.
Menurut Andrey, spekulasi pasar mengenai kemungkinan peninjauan ulang peringkat kredit Indonesia turut memperkuat sikap hati-hati investor dan menekan sentimen pasar keuangan domestik.
Pelemahan rupiah, berkurangnya kepemilikan asing di pasar obligasi dan saham, serta menurunnya cadangan devisa menjadi sinyal meningkatnya kehati-hatian investor terhadap aset-aset Indonesia di tengah ketidakpastian global dan tantangan fiskal domestik.
MarketNews.id Media Investasi dan Pasar Modal