MarketNews.id-Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) menutup perdagangan dengan penurunan 2% pada akhir perdagangan hari ini, Jumat (6/2/2026). Indeks ditutup turun 168,62 poin ke level 7.935,26. Sebanyak 673 saham turun, 118 naik, dan 167 tidak bergerak.
Nilai transaksi hari ini mencapai Rp 19,2 triliun. Melibatkan 32,74 miliar saham dalam 2,2 juta kali transaksi.
Kapitalisasi pasar tergerus menjadi Rp 14.341 triliun.
Dilihat dari nilai transaksi, perdagangan hari ini terbilang sepi. Investor tampaknya masih wait and see di tengah volatilitas pasar yang terbilang tinggi.
Emiten-emiten blue chip menjadi pemberat utama indeks hari ini. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang turun 1,6% menjadi 7.675 berkontribusi -11,84 indeks poin. Kemudian diikuti oleh PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) -11 indeks poin dan PT Astra International Tbk (ASII) -10,24 indeks poin.
Sementara itu di tengah tekanan terhadap IHSG , sepanjang sesi 1 aliran dana asing mengalir masuk. Asing membukukan foreign buy Rp 3,5 triliun dan foreign sell Rp 3,1 triliun. Alhasil net foreign buy tercatat sebesar Rp 440,7 miliar.
PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menjadi saham dengan net buy asing terbesar, yakni Rp 274,2 miliar. Pada sesi 1, saham BMRI mengalami koreksi 1,19% ke level 4.990.
Di urutan selanjutnya PT TelkomIndonesia (Persero) Tbk (TLKM) dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menjadi saham yang masuk dalam keranjang belanja asing. TLKM mencatat Rp 118,3 miliar dan ANTM Rp 105,6 miliar.
Menyusul, dua emiten Bakrie, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) juga masuk dalam daftar 10 saham dengan net buy asing terbesar.
Seperti diketahui, sejumlah faktor menjadi sentimen negatif IHSG hari ini. Sejak pagi pasar merespons pengumuman Moody’s Investors Service (Moody’s) yang mempertahankan Sovereign Credit Rating Republik Indonesia pada level Baa2, tetapi dengan penyesuaian outlook dari stabil menjadi negatif.
Pemerintah telah buka suara terkait hal tersebut. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian,Airlangga Hartarto mengatakan outlook negatif itu karena kurangnya penjelasan dari pemerintah dan lembaga pengelola investasi baru, yakni Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara).
Airlangga menyebut APBN tahun ini memang “agak berbeda” karena banyak mengelontorkan program unggulan Prabowo. Seperti di antaranya Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih ( KDMP ), dan untuk pelayanan masyarakat.
Sementara penggerak pertumbuhan adalah investasi melalui Danantara, dari sebelumnya dilakukan melalui APBN .
“Ini yang banyak rating agency ataupun di pasar keuangan global belum paham. Jadi ini yang harus kita beri penjelasan,” kata Airlangga.
“Karena sebetulnya dengan Danantara, kita sebetulnya meng-unlocked dan melakukan reform terhadap state owned enterprise yang selalu mereka minta untuk bisa dipisahkan. Dan ini diminta juga untuk mereka bisa bergerak seperti private sector,” tutur Airlangga.
Menurutnya, penurunan peringkat Indonesia dari para lembaga pemeringkat seperti Moody’s S&P dan lain-lain, bisa dijawab dengan komunikasi, transparansi, serta roadshow.
MarketNews.id Media Investasi dan Pasar Modal