MarketNews.id- Bursa saham Indonesia mengakhiri sesi perdagangan pekan pertama Februari, Jumat (6/2) dengan mencatatkan kejatuhan IHSG 2,08% ke level 7.935, dan menjauh dari sesi penutupan pekan sebelumnya di posisi 8.330.
Investor asing mencatat arus keluar ekuitas sebesar USD124 juta dalam sepekan terakhir.
Weekly Commentary , PT Ashmore Asset Management Indonesia mencatat beberapa poin yang mempengaruhi pergerakan pasar modal di dalam dan luar negeri antara lain;
Ashmore mencatat, sektor yang membukukan penurunan terburuk sepanjang pekan terakhir adalah sektor Consumer Cyclicals dan Infrastruktur yang masing-masing rontok 14,53% dan 11,27%.
Sementara itu PMI jasa tercatat sedikit lebih kuat dari perkiraan, dan menjadi yang terkuat sejak Desember 2024. Di lain pihak, PMI manufaktur justru berekspansi di luar dugaan, meski kemungkinan dipengaruhi oleh pemesanan ulang pasca libur.
Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi kuartal IV tahun lalu yang lebih kuat dari perkiraan, ditopang konsumsi rumah tangga dan dukungan pemerintah, serta penurunan biaya pinjaman yang berlangsung bertahap, lanjut Ashmore.
Pekan ini juga terlihat perkembangan dari otoritas Indonesia dengan dorongan untuk melakukan reformasi menyeluruh di pasar modal. Poin-poin utama yang dibahas tetap konsisten, yakni meningkatkan kredibilitas dan daya tarik investasi pasar saham.
“Meski sejumlah pimpinan baru telah ditunjuk, institusi-institusi terkait tetap berkomitmen pada pilar utama untuk memulihkan dan memperkuat kepercayaan investor global,” sebut Ashmore.
Ashmore menggarisbawahi bahwa sejumlah inisiatif yang diusulkan antara lain menaikkan ketentuan minimum free float untuk IPO baru menjadi 15% dan peningkatan bertahap free float bagi emiten yang sudah tercatat.
Selain itu, ada upaya untuk meningkatkan transparansi bagi pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1%, serta memperluas klasifikasi investor menjadi 27 jenis dari sebelumnya 9 jenis.
“Perkembangan di area ini terus dinamis dan mencerminkan sikap otoritas yang semakin serius dan proaktif.
Pasar saham juga menunjukkan divergensi antara saham dengan fundamental kuat dan saham yang lebih spekulatif, yang mengalami koreksi lebih dalam,” ungkap Ashmore.
Faktor kejutan pekan ini, menurut Ashmore, datang dari pengumuman Moody’s terkait prospek peringkat kredit kedaulatan Indonesia.
Intinya, meski peringkat tetap tidak berubah dan masih berada dalam kategori investment grade , Moody’s menurunkan prospek dari stabil menjadi negatif.
Alasan utama perubahan prospek ini terkait berkurangnya prediktabilitas kebijakan serta risiko terhadap kesehatan fiskal. Kementerian Keuangan segera merespons dengan menegaskan komitmen pemerintah untuk menjaga stabilitas inflasi, nilai tukar, dan pasar keuangan.
Sementara itu, S&P Global Ratings menyatakan bahwa memburuknya kondisi fiskal dapat menambah risiko terhadap peringkat kedaulatan, namun respons pemerintah untuk menjaga kepercayaan investor dapat meredam risiko tersebut.
“Pengumuman Moody’s berdampak negatif secara langsung pada pasar saham dan obligasi Indonesia, dengan indeks saham utama turun 2% dan imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik 11 basis poin menjadi 6,44%.
Selain itu, rupiah melemah ke level 16.866 per dolar AS pada penutupan pasar,” papar Ashmore.
Ashmore berpendapat, dalam kondisi saat ini, pasar saham diperkirakan tetap sensitif terhadap pemberitaan terkait reformasi pasar modal dan perkembangan makroekonomi.
Investor terus mencermati bagaimana otoritas merespons isu-isu utama yang menjadi perhatian investor global.
Ashmore menilai, meski volatilitas diperkirakan bertahan dalam jangka pendek dan investor cenderung bersikap hati-hati, arah reformasi kini semakin terlihat dan berpotensi menjadi perubahan struktural yang positif dalam jangka panjang.
Ashmore merekomendasikan, untuk bersikap lebih defensif dalam jangka pendek, dengan fokus pada instrumen berkualitas tinggi berdurasi rendah seperti obligasi pemerintah dalam denominasi ADOUN, sambil menunggu titik masuk yang lebih jelas untuk meningkatkan risiko.
“Kami tetap selektif pada saham dan lebih menyukai perusahaan yang bersifat defensif di tengah pelemahan nilai tukar, dengan tetap menuntut fundamental yang solid dan prospek pertumbuhan yang kuat.
MarketNews.id Media Investasi dan Pasar Modal