MarketNews.id-Bursa saham Indonesia mengakhiri sesi perdagangan pekan ini, Jumat (9/1), dengan mencatatkan penguatan IHSG sebesar 0,13% menjadi 8.937, lebih tinggi dari sesi penutupan pekan sebelumnya di posisi 8.748.
Pada pekan ini, IHSG berhasil menembus level rekor 9000, untuk pertama kalinya sekalgus mencatatkan rekor tertinggi (ATH) di posisi 9003 pada 8 Januari, dan rekor penutupan tertinggi di level 8.945 pada 7 Januari.
Sementara itu investor asing mencatatkan arus masuk ekuitas sebesar USD106 juta sepanjang pekan.
PT Ashmore Asset Management Indonesia, mencatat beberapa data penting pekan ini, antara lain;
Ashmore mencatat penguatan IHSG pekan ini, antara lain didukung oleh sektor dengan kinerja terbaik yaitu Basic Materials dan Industrials dengan kenaikan 6,25% dan 6,19%. Sedangkan sektor Teknologi menjadi yang terlemah dengan penurunan 0,61%.
Di Indonesia, inflasi tahunan tercatat lebih tinggi dari perkiraan, terutama dipicu oleh kenaikan harga pangan dan perumahan, meski masih berada dalam kisaran target bank sentral,” tulis Ashmore.
Ashmore menggarisbawahi, memasuki pekan penuh pertama di awal tahun, pasar mulai kembali normal dengan aktivitas yang kembali meningkat.
Pasar saham domestik mencatat likuiditas yang tinggi dengan rata-rata nilai transaksi harian yang besar. Reli terjadi di berbagai sektor dan investor asing terus membukukan aksi beli bersih.
Harga nikel melonjak dan mendorong saham-saham terkait nikel menguat, dengan katalis utama berupa rencana pengetatan kuota penambangan pada 2026.
Para pelaku pasar global di bursa LME mengambil posisi yang memicu pergerakan harga signifikan sebelum akhirnya mengalami koreksi.
Selain saham, pekan ini juga diwarnai lelang perdana obligasi pemerintah Indonesia yang mencatat permintaan kuat sekitar Rp90 triliun.
Pemerintah menerbitkan obligasi bernilai sekitar Rp40 triliun dan imbal hasil mendekati batas bawah penawaran. “Hal ini turut mendukung kepercayaan dan sentimen di pasar obligasi domestik,” imbuh Ashmore.
Dalam konteks global, Ashmore melihat, pasar mengawali tahun ini dengan nada serupa seperti akhir tahun lalu, di mana aset berisiko masih mencatatkan kinerja positif. Namun, investor semakin sensitif terhadap rilis data ekonomi AS.
“Mengingat sejumlah data sempat tertunda akibat penutupan pemerintahan AS, pelaku pasar terus mencermati data lanjutan untuk memperoleh gambaran ekonomi yang lebih jelas,” papar Ashmore.
Untuk Indonesia, Ashmore menekankan, rilis inflasi terbaru menunjukkan angka yang lebih tinggi dari perkiraan – menjadi level tahunan tertinggi sejak April 2024 – terutama didorong oleh kenaikan harga pangan dan emas.
Meski demikian, inflasi masih berada dalam kisaran target Bank Indonesia sebesar 1,5%-3,5%. Di sisi lain, tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih berlanjut.
“Dalam jangka pendek, stabilitas rupiah tetap menjadi faktor kunci dalam pengambilan keputusan Bank Indonesia, dengan rapat berikutnya dijadwalkan sekitar dua pekan mendatang,” sebut Ashmore.
Dalam kondisi saat ini, Ashmore merekomendasikan investor untuk melakukan penyeimbangan portofolio ke arah saham, mengingat potensi kenaikan masih terbuka sepanjang tahun ini. Katalis utama meliputi efek pengganda yang lebih besar seiring penurunan suku bunga kredit secara bertahap untuk mendukung aktivitas investasi.
Ashmore juga berpendapat, kondisi saat ini dinilai berbeda dibandingkan awal tahun lalu, terutama dengan likuiditas yang lebih longgar berkat dukungan kebijakan domestik, lingkungan suku bunga yang lebih rendah dengan transmisi yang lebih baik ke ekonomi riil, serta belanja fiskal yang lebih signifikan.
“Dalam situasi ini, kami menilai reksa dana saham yang dikelola secara aktif, berpotensi memberikan nilai tambah bagi investor. Kami tetap optimistis pada komoditas tertentu dan lebih memilih emiten berpendapatan dolar AS.
Ashmore
MarketNews.id Media Investasi dan Pasar Modal