MarketNews.id-Bursa saham Indonesia mengakhiri sesi perdagangan pekan lalu, Jumat (2/1) dengan laju kenaikan IHSG sebesar 1,17% ke level 8.748.
Posisi penutupan pasar pasca libur Tahun Baru ini, jauh lebih tinggi dari level penutupan sebelum libur Natal 2025 sebesar 8.538.Investor asing di pasar saham mencatat arus masuk (inflow) sebesar US$61 juta dalam sepekan terakhir.
Weekly Commentary PT Ashmore Asset Management Indonesia, mencatat beberapa peristiwa penting yang mempengaruhi pergerakan indeks saham acuan, antara lain;
Apa yang terjadi sepekan ini?
Ashmore mencatat, sektor dengan kinerja terbaik adalah Consumer Cyclicalsdan Transportation & Logistics, masing-masing melejit +10,55% dan +9,24%. Sedangkan sektor dengan kinerja terlemah adalah Healthcareyang anjlok -1,93%.
Aset dengan kinerja terbaik pekan ini adalah harga gas alam (+5,41%) dan IHSG (+2,46%). Sebaliknya, terjadi koreksi pada emas (-3,17%) dan harga CPO (-2,59%).
Di Indonesia, Ashmore melihat bahwa penurunan suku bunga terjadi lebih cepat dibanding AS, meski lajunya melambat menjelang akhir tahun karena kehati-hatian bank sentral terhadap stabilitas nilai tukar serta transmisi suku bunga yang tertunda ke sektor riil.
Ekonom masih memperkirakan BI akan memangkas suku bunga sekitar 50 bps pada 2026, sejalan dengan The Fed. Faktor penentu jangka pendek adalah volatilitas nilai tukar, yang dapat memicu respons kebijakan.
“Dukungan kebijakan akan semakin penting untuk menopang rupiah, termasuk melalui penguatan kerangka devisa hasil ekspor (DHE) serta insentif BI guna mempercepat transmisi penurunan suku bunga ke suku bunga simpanan dan kredit perbankan,” ungkap Ashmore.
Ashmore menilai, tahun 2025 mencatat reli kuat pada instrumen pendapatan tetap, didukung pemangkasan suku bunga yang besar, khususnya pada obligasi tenor pendek, meski dampak berganda ke perekonomian masih terbatas.
“Pada 2026, situasi dapat bergeser dengan ruang penurunan suku bunga simpanan dan kredit yang lebih besar berkat dorongan kebijakan yang lebih kuat, Sementara imbal hasil obligasi – terutama tenor pendek – memiliki ruang kenaikan yang lebih terbatas,” sebut Ashmore.
Ashmore menunjukkan, pada 2025 BI memangkas suku bunga sebesar 125 bps, sementara bunga deposito 1 bulan hanya turun 67 bps (YTD hingga November).
“Dorongan yang lebih kuat untuk menurunkan suku bunga simpanan dan kredit akan lebih menguntungkan saham Indonesia karena aktivitas bisnis dan investasi berpotensi meningkat,” papar Ashmore.
“Kami tetap optimistis terhadap obligasi pemerintah Indonesia tenor panjang seiring membaiknya premi tenor, namun lebih memilih menambah eksposur pada saham berkualitas tinggi karena laba perusahaan pada 2026 diperkirakan tumbuh sekitar 10-12%.
Ashmore
MarketNews.id Media Investasi dan Pasar Modal