MarketNews.id-Kelebihan permintaan di pasar perdana Saham PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk (PJHB), masih berlanjut hingga tembus ke batas atas harga saham PJHB. Saham PJHB terhenti di posisi Rp412 Per Saham. Atau alami kenaikan 24,85 Persen.
Peningkatan harga hingga 24,85 persen, bisa jadi salah satu bukti bahwa kelebihan permintaan hingga 267 kali. Jadi wajar bila investor yang tidak kebagian di saham ini pasar perdana akan berusaha mendapatkan di pasar reguler.
Saat memulai transaksi perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Kamis 6 November 2025, saham PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk (PJHB) langsung melesat ke batas auto-rejection atas (ARA) alias menguat 24,85 persen ke harga Rp412 per saham.
Perusahaan asal Kalimatan Timur ini menawarkan harga saham saat pelaksanaan penawaran umum perdana (IPO) senilai Rp330 per lembar. Pada perdagangan di pasar sekunder hari ini harga saham melonjak ke level ARA, dengan nilai transaksi hingga pukul 9.10 WIB sebesar Rp926 juta.
Pada pelaksanaan IPO yang berlangsung 31 Oktober-4 November 2025, perusahaan di bidang angkutan laut ini melepas saham ke publik sebanyak 480 juta lembar bernilai nominal Rp50 per lembar atau setara 25 persen dari modal ditempatkan dan disetor PJHB setelah IPO.
Dengan harga saham ditawarkan senilai Rp330 per lembar, maka melalui aksi korporasi ini PJHB berhasil meraup uang masyarakat di pasar primer mencapai Rp158,4 miliar.
Manajemen PJHB menunjuk PT Pilarmas Investindo Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi Efek.
Menurut Direktur Pilarmas Investindo Sekuritas, William Siddharta, selama masa penawaran umum, saham PJHB mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) hingga 267,04 kali dari porsi penjatahan terpusat (pooling).
“Rangkuman hasil penawaran umum melalui platform e-IPO menunjukkan terjadinya oversubscription terhadap porsi penjatahan terpusat sebesar 267,04 kali.
Total dana investor yang masuk untuk memperebutkan porsi pooling saham PJHB mencapai Rp6,3 triliun. Hal ini menunjukkan tingginya kepercayaan masyarakat terhadap prospek usaha perseroan,” kata William di Jakarta, Kamis 6 November 2025.
Bersamaan dengan pelaksanaan IPO, PJHB menerbitkan 240 juta Waran Seri I atau sebesar 16,67 persen dari jumlah saham ditempatkan dan disetor penuh pada saat pernyataan pendaftaran IPO. Setiap pemegang dua saham yang ditawarkan berhak memperoleh satu waran.
Sementara itu, setiap satu Waran Seri I memberikan hak kepada pemegangnya untuk membeli satu saham PJHB seharga Rp330 per lembar.
Waran ini dapat dilaksanakan menjadi saham selama enam bulan sejak 5 Mei 2026 hingga 5 November 2026. Nilai hasil pelaksanaan Waran Seri I in sebanyak-banyaknya Rp79,2 miliar.
Rencananya, seluruh dana hasil IPO —setelah dikurangi biaya-biaya emisi— akan digunakan untuk belanja modal (capex) dalam upaya mendorong pertumbuhan bisnis PJHB. Capex ini akan dialokasikan untuk pembangunan tiga unit kapal baru berjenis Landing Craft Tank (LCT).
Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama PJHB, Go Sioe Bie mengatakan bahwa Keputusan melakukan IPO merupakan langkah strategis untuk memperkuat struktur pendanaan dan mempercepat ekspansi bisnis perseroan.
Dia menyampaikan, dana yang akan diperoleh dari pelaksanaan Waran Seri I akan dimanfaatkan sebagai tambahan modal kerja untuk operasional kapal baru.
“Seluruh dana hasil IPO —setelah dikurangi biaya emisi— akan digunakan sebagai belanja modal untuk membangun tiga kapal baru jenis LCT berkapasitas 2.500 DWT.
Pembangunan kapal ini merupakan bagian dari strategi jangka Panjang untuk meningkatkan kapasitas armada dan memenuhi permintaan pengangkutan alat berat, serta kontainer dari klien-klien kami,” ujar Go Sioe Bie.
Dari harga keseluruhan ketiga kapal tersebut, kata dia, sebesar 94,11 persen atau senilai Rp153,4 miliar berasal dari dana hasil IPO dan sebesar 5,89 persen atau senilai Rp9,6 miliar dari kas internal PJHB.
Lebih jauh Go sioe Bie menyampaikan, dana dari pelaksanaan Waran Seri I akan yg dimanfaatkan sebagai tambahan modal kerja.
M Rizki A
MarketNews.id Media Investasi dan Pasar Modal