MarketNews.id- Akuntan Publik kembali menekankan ketidak pastian material akan kelangsungan usaha Garuda Indonesia, setelah melakukan audit atas laporan keuangan semester I 2025.
Pasalnya, GIAA mengalami defisiensi modal atau tekor modal sedalam USD1,49 miliar per 30 Juni 2025.
Selain itu, emiten penerbangan anak usaha Danantara ini mencatatkan kewajiban jangka pendek melebihi aset lancar sebesar USD737 juta pada periode sama.
“Kondisi-kondisi tersebut mengindikasikan adanya ketidakpastian material yang dapat menyebabkan keraguan signifikan atas kemampuan GIAA untuk mempertahankan kelangsungan usahanya,” tulis Benyanto Suherman, Akuntan Publik dari KAP Purwanto Susanti dan Surja dalam laporan auditnya tanggal 19 September 2025.
Namun Benyanto memberikan opini wajar atas semua hal material dalam penyajian laporan keuangan semester I 2025 GIAA.
Seperti laporaan keuangan sebelumnya, manajemen GIAA menegaskan akan terus beroperasi secara berkesinambungan dengan menyusun rencana strategi.
Misalnya dalam rencana operasional akan menambah 120 pesawat hingga peningkatan monetisasi kargo.
Sedangkan rencana keuangan terdiri dari dua langkah, yakni peningkatan modal dan menggalang dana dari mitra strategis.
“GIAA berencana untuk melaksanakan sejumlah inisiatif strategis korporasi sebagai upaya memperkuat struktur permodalan serta memperbaiki posisi ekuitas, melalui aksi korporasi yang bersifat baik kas maupun nonkas,” tulis Plh Direktur Utama GIAA, Reza Aulia Hakim.
Hanya saja kinerja keuangan GIAA terus tertekan hingga akhir semester I 2025. Buktinya, pendapatan usaha menyusut 4,4 persen secara tahunan menjadi USD1,548 miliar pada akhir Juni 2025.
Walau beban usaha dapat ditekan sedalam 1,8 persen secara tahunan menjadi USD1,504 miliar pada akhir Juni 2025. Ditambah beban lain USD205,7 juta. Tapi rugi sebelum pajak penghasian bengkak 44,6 persen secara tahunan menjadi USD162,29 juta.
Senasib, rugi bersih menukik sedalam 41,5 persen secara tahunan menyentuh USD143,7 juta. Sehingga defisit kian dalam 4,1 persen dibanding akhir tahun 2024 menyentuh USD3,651 miliar per 30 Juni 2025.
Akibat berikutnya, tekor modal atau defisiensi modal kian dalam 10,7 persen dibanding akhir tahun 2024 menyentuh USD1,496 miliar per 30 Juni 2025.
Abdul Segara
MarketNews.id Media Investasi dan Pasar Modal