Home / Otoritas / Bank Indonesia / Pemerintah Turunkan Target Defisit Anggaran 2021 Dari 5,7 Persen Jadi 5,2-5,4 Persen

Pemerintah Turunkan Target Defisit Anggaran 2021 Dari 5,7 Persen Jadi 5,2-5,4 Persen

Marketnews.id Penurunan target defisit anggaran dari 5,7 persen ke 5,2-5,4 persen bukan tanpa dasar kuat. Beberapa indikator mengalami pembalikan dari kontraksi tahun lalu jadi tumbuh posistif di tahun ini.

Dari total pendapatan negara tumbuh 18,2 persen berbanding terbalik dengan pendapatan tahun lalu yang kontraksi 15,3 persen. Dari sisi penerima pajak tahun ini tumbuh 18,2 persen, sementara tahun lalu terjadi kontraksi sebesar 18,8 persen. Begitu juga dengan realisasi belanja negara yang mengalami pertumbuhan positif.

Pemerintah memproyeksikan defisit anggaran pendapatan dan belanja negara atau APBN pada tahun ini akan mengecil menjadi 5,2 persen – 5,4 persen terhadap produk domestik bruto atau PDB.

Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati usai sidang kabinet paripurna di Istana Negara, 17 Nopember 2021. Dia menjelaskan, kondisi perekonomian dan pelaksanaan APBN kepada Presiden Joko Widodo.

Menurutnya, kondisi ekonomi nasional saat ini mengalami pembalikan dan pertumbuhan, atau rebound and recover. Hal tersebut membuat pemerintah meyakini defisit anggaran akan mengecil dari rencana awal di Undang-Undang (UU) APBN 2021.


“Kalau di dalam UU APBN disebutkan Rp1.006,4 triliun atau 5,7 persen dari PDB, tahun ini kami memperkirakan defisitnya akan mengecil, yaitu ke Rp873,6 triliun atau di kisaran 5,2 persen–5,4 persen dari PDB,” ujar Sri Mulyani pada Rabu, 17 Nopember 2021.

Dia menjabarkan, hingga akhir Oktober 2021 ini, belanja pemerintah pusat tumbuh 5,4 persen dibandingkan dengan tahun lalu. Pada akhir 2021, realisasi belanja diperkirakan masih akan tumbuh lebih tinggi lagi mencapai 10,4 persen.

Belanja kementerian dan lembaga mengalami kenaikan yang cukup signifikan, yakni mencapai 14,8 persen. Menurut Sri Mulyani, hal tersebut didominasi belanja yang berhubungan dengan penanganan Covid-19 dan bantuan sosial.


“Kita melihat untuk transfer keuangan ke daerah dan dana desa [TKDD] masih mengalami kendala. Dari sisi pertumbuhannya minus 7,9 persen, dan kalau bisa diselesaikan dalam 1,5 bulan kemungkinan dia [pertumbuhannya] akan flat dibandingkan tahun lalu,” ujarnya.

Dari sisi pendapatan negara, hingga akhir Oktober 2021 terjadi pertumbuhan penerimaan yang cukup kuat, yaitu 18,2 persen. Penerimaan pajak per Oktober 2021 tumbuh 15,3 persen, membaik dari posisi tahun lalu yang mengalami kontraksi 18,8 persen.

Adapun, pada Oktober 2021 bea cukai mencatatkan pertumbuhan 25,5 persen, setelah pada Oktober tahun lalu tumbuh di angka 5,5 persen.

Penerimaan negara bukan pajak (PNBP) pada Oktober 2021 tercatat tumbuh 25,5 persen, lebih tinggi dari pertumbuhan Oktober 2020 di angka 16,3 persen.

“Sehingga total seluruh pendapatan negara tumbuh 18,2 persen. Tahun lalu total pendapatan negara mengalami kontraksi 15,3 persen,” ujar Sri Mulyani.

Menurutnya, capaian kinerja itu menjadi dasar perkembangan yang positif dari struktur APBN. Hal itu membuat pemerintah meyakini defisit APBN dapat berkurang pada akhir 2021.

Check Also

Task Force Energy, Sustainability & Climate B 20 Gerak Cepat Sukseskan G20

Marketnews.id Dalam rangka memperkuat peran Indonesia sebagai Presidensi Group of Twenty (G20), The Business 20 …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *