Home / Otoritas / Bank Indonesia / Ashmore : Plafon Utang AS Akan Dinaikkan, Bila Ingin Terhindar Dari Efek Domino Di Pasar Keuangan Global

Ashmore : Plafon Utang AS Akan Dinaikkan, Bila Ingin Terhindar Dari Efek Domino Di Pasar Keuangan Global

Marketnews.id
PT Ashmore Asset Management mencatat beberapa peristiwa penting yang mempengaruhi pergerakan modal di bursa saham global dan regional, antara lain sebagai berikut;
Hingga akhir pekan ini pemberian vaksinasi Covid telah mencapai 6,24 miliar dosis mewakili 2,64 miliar populasi, atau 33,9% jumlah penduduk global. Indonesia telah memberikan 140 juta dosis untuk 50 juta yang divaksinasi lengkap, atau 18,6% dari total populasi.


Indeks PMI Manufaktur Caixin China naik menjadi 50,0 pada September 2021, dari 49,2 pada bulan sebelumnya, lebih tinggi dari perkiraan 49,5. Pesanan baru naik untuk pertama kalinya dalam tiga bulan. Tingkat pembelian kembali mencatatkan pertumbuhan, sementara output turun pada tingkat yang lebih rendah.


Sementara harga batubara melanjutkan reli, mencapai rekor baru – tertinggi dalam setidaknya satu dekade. Di ICE Newcastle, 30 September, batu bara diperdagangkan USD206,25 per metrik ton, naik 1,63 persen dari penutupan sebelumnya.


Inflasi tahunan Indonesia naik tipis menjadi 1,60 persen pada September 2021, tetapi sedikit di bawah perkiraan 1,69 persen. Ini adalah tingkat inflasi tertinggi sejak Mei.


Salah satu peristiwa penting yang banyak mendapat perhatian sepanjang pekan lalu adalah perdebatan para wakil rakyat di AS dalam menetapkan anggaran demi menghindari risiko  government shutdown  dan  default  kredit AS.

Bagaimana pengaruh kebijakan tersebut terhadap perekonomian secara luas, berikut pandangan Ashmore dalam  Weekly Commentary , Jumat, 1 Oktober 2021.


Debat Kongres AS: menaikkan atau tidak menaikkan
Menurut Ashmore, bulan-bulan mendatang ini Pemerintah AS menghadapi berbagai tenggat waktu, khususnya terkait anggaran. Pertama, ada masalah pendanaan Pemerintah yang jika tidak diselesaikan akan berakhir dengan penutupan Pemerintah ( government shutdown ). Ini telah terjadi beberapa kali di masa lalu. Hingga Jumat lalu, masalah ini telah diselesaikan dengan persetujuan Kongres.


Kedua, masalah plafon utang. Masalah ini juga disoroti oleh Menteri Keuangan Janet Yellen, karena biasanya keputusan untuk menaikkan pagu utang dilakukan lebih awal dan tidak sampai menit terakhir.


Apa itu plafon utang?
Ashmore mencatat, sejak berdirinya AS selalu terlilit utang, yang awalnya untuk membiayai dirinya sendiri pasca Perang Revolusi. Plafon utang tingkat utang maksimum yang memungkinkan dapat dipinjam pemerintah Federal. Plafon utang telah dinaikkan berkali-kali sebelumnya oleh kedua belah pihak (Demokrat dan Republik), dan biasanya bukan merupakan titik pertengkaran utama.


“Namun mungkin sekarang karena pengeluaran besar yang direncanakan oleh partai Demokrat, kemungkinan besar akan ditentang oleh Partai Republik. Batas waktu untuk ini adalah 18 Oktober,” tulis Ashmore.


Apa yang terjadi jika plafon utang tidak dinaikkan.
Secara keseluruhan, Ashmore berpendapat, sebagian besar skenario dasar strategi dan ekspektasi pasar telah menetapkan bahwa plafon utang akan dinaikkan. Jika tidak, maka akan menimbulkan efek domino di pasar keuangan global. Terutama karena AS selalu dianggap sebagai tempat yang aman, termasuk  treasury bill -nya.


“Jika pagu utang tidak dinaikkan, ada potensi porsi utang yang tidak akan dibayar atau wanprestasi. Peringkat kredit untuk AS juga akan berada di bawah pengawasan dan tekanan pada prospeknya. Sederhananya, pasar memandang ini sebagai keharusan bagi AS untuk menaikkan plafon utangnya,” papar Ashmore.


Apa dampak dari kenaikan plafon utang? Ashmore menyebutkan, tekanan kenaikan pada imbal hasil, dan penurunan US Treasury akan menjadi hal yang paling mendesak. Peningkatan pagu utang, berarti Pemerintah akan memiliki ruang untuk meningkatkan pasokan utangnya. Jika dikombinasikan dengan rencana The Fed untuk perlahan-lahan melepaskan  tapering , dapat mengakibatkan beberapa tekanan sesaat pada imbal hasil.


“Namun, kami juga berpandangan bahwa ada batasan imbal hasil dalam jangka menengah. Seperti yang telah kita diskusikan sepanjang tahun ini, peningkatan imbal hasil secara bersamaan akan merusak kemampuan AS untuk membayar bunganya atas pengeluaran infrastruktur utamanya,” ungkap Ashmore.


Secara keseluruhan, menurut Ashmore, kemungkinan kita melihat pergerakan di pasar obligasi negara yang lebih fluktuatif yang bisa berdampak pada obligasi  Emerging Market . Ashmore mengakui saat ini tengah meningkatkan aset tunai dan mengurangi obligasi dengan durasi berjangka panjang untuk mengurangi risiko yang mungkin timbul dari kebijakan AS.


“Dengan banyaknya indikator yang menunjukkan pertumbuhan dan ekspektasi inflasi yang meningkat, kami merekomendasikan untuk menyeimbangkan kembali kelompok aset ke ke sisi ekuitas.” Tutup Ashmore.

Check Also

Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) Raih Kenaikan Laba Bersih Di 2021 Jadi Rp 3,03 Triliun

Marketnews.is Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) catat debut pertamanya setelah merger dengan bank syariah milik …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *