Home / Otoritas / Bank Indonesia / Kemendag: Lima Komoditas Unggulan Dunia Alami Risiko Tinggi Supersycle Terhadap Neraca Dagang RI

Kemendag: Lima Komoditas Unggulan Dunia Alami Risiko Tinggi Supersycle Terhadap Neraca Dagang RI

Marketnews.id Gonjang ganjing harga komoditas unggulan dunia sepanjang tahun 2020- 2021ini sangat berpengaruh terhadap neraca perdagangan dunia termasuk Indonesia di dalamnya. Kelima komoditas unggulan tersebut kebetulan juga jadi andalan ekspor maupun impor Indonesia. Bagaimanakah dampaknya buat neraca perdagangan Indonesia di tahun 2021 ini.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) tahun 2020-2021 mengungkapkan, beberapa komoditas unggulan dunia mengalami supercycle komoditi. Yaitu suatu fenomena naik turun yang sangat drastis akibat dipengaruhi oleh gejolak baik eksternal maupun internal.


Menteri Perdagangan, Muhammad Lutfi, menjelaskan setidaknya ada lima komoditas utama yang berisiko tinggi terjadi supercycle. Hal itu berimbas pada neraca perdagangan internasional termasuk bagi Indonesia.


Kelima komoditas dunia yang mengalami gejolak harga sangat signifikan yaitu minyak mentah dunia. Tercatat pada April 2020 lalu harga minyak mencapai USD13,24 per barel namun delapan bulan kemudian pada Desember 2020 naik 28,3 persen menjadi USD51,97 per barel.
“Diperkirakan hingga akhir tahun 2021 harga minyak akan kembali naik meski tipis yaitu 5 persen menjadi USD55 per barel,” kata Lutfi dalam keterangannya, Jumat (19/3).


Kemudian harga Liquied Natural Gas (LNG) dari pada April 2020 USD1,8 per MMBTU kemudian melonjak menjadi USD15,1 per MMBTU pada akhir tahun. Ditaksir pada tahun 2021 akan anjlok 63 persen menjadi USD5,62 per MMBTU.

Selanjutnya harga beras pada Januari 2020 harganya USD415 per ton kemudian pada April 2020 naik 37 persen menjadi USD567 per ton. Diyakini pada akhir tahun 2021 akan tetap stabil di kisaran harga itu.


Selanjutnya harga bijih besi pada Maret 2020 dihargai USD80 per metric ton kemudian pada Desember 2020 menjadi USD177 per metric ton atau naik 121 persen. Diperkirakan pada akhir tahun 2021 akan kembali turun 29 persen menjadi USD 112,5 per metric ton.


Kemudian harga tembaga pada April 2020 ditarif USD 4.772 per metrik ton kemudian di akhir Desember 2020 naik menjadi USD 7.964 per metrik ton. Diperkirakan nantinya akan kembali naik 15 persen menjadi USD 8.925 per metrik ton.


“Jadi dalam sembilan bulan itu ada fenomena supercycle komoditi, ini disebabkan dua hal. Pertama karena banyak kucuran insentif secara moneter di negara maju seperti Amerika dan kedua nilai tukar dolar diperkirakan kian melemah, serta demand yang naik drastis di China dan negara industri di Asia,” pungkasnya.

Check Also

Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) Raih Kenaikan Laba Bersih Di 2021 Jadi Rp 3,03 Triliun

Marketnews.is Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) catat debut pertamanya setelah merger dengan bank syariah milik …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *