Home / Corporate Action / Wamenkue Uraikan Dua Dimensi Reformasi Pajak

Wamenkue Uraikan Dua Dimensi Reformasi Pajak

Marketnews.id Salah satu reformasi dalam pajak adalah menyederhanakan administrasi, memperbaiki mulai dari teknologi informasi (IT) sumber daya manusia hingga aturan serta memperkuat coretax. Tujuan secara umum adalah, fungsi pajak sebagai alat fiskal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara memaparkan, ada dua dimensi yang tidak terlepas dari upaya pemerintah membuat terobosan kebijakan dalam rangka melakukan reformasi perpajakan untuk mendorong Indonesia menjadi negara maju.

“Terobosan kebijakan harus dicari yang memungkinkan transformasi ekonomi dan mendorong Indonesia maju ke depan. Terobosannya di reformasi perpajakan dan itu tidak bisa lepas dari dua dimensi,” katanya dalam diskusi daring di Jakarta, Senin.

Suahasil menyebutkan, dimensi pertama yaitu reformasi perpajakan dilakukan dalam rangka mengumpulkan pendapatan negara yang pada akhirnya digunakan untuk belanja baik pemerintah pusat maupun daerah.

Oleh sebab itu, tambahnya, pemerintah perlu melakukan reformasi perpajakan untuk menyederhanakan administrasi, memperbaiki mulai dari teknologi informasi (TI) dan sumber daya manusia (SDM), hingga aturan, serta memperkuat coretax.

“Fungsi reformasi pajak untuk mengumpulkan pendapatan tidak boleh hilang karena semakin hari ingin diperkuat,” ujarnya.

Dimensi kedua dari reformasi pajak adalah adanya fungsi pajak sebagai alat fiskal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Ia menjelaskan, pertumbuhan ekonomi dapat terjadi karena dalam reformasi pajak juga terdapat mengenai penciptaan insentif sehingga dapat menarik investor untuk berinvestasi ke Indonesia.

“Kalau kita buat insentif, kita tidak gebyak uyah. Salah satu memastikan insentif pajak bisa dipertanggungjawabkan adalah membuat estimasi. Berapa tax expenditure-nya sehingga dapat bermanfaat untuk perekonomian,” jelasnya.

Menurutnya, kebijakan-kebijakan dalam reformasi pajak turut bertujuan untuk membuat Indonesia menjadi negara yang lebih kompetitif ke dunia internasional.

Sementara itu, Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Nathan Kacaribu melanjutkan penerimaan negara dari reformasi perpajakan harus tumbuh minimal secepat ekonomi nominal.

Ia mencontohkan kalau ekonomi tumbuh 5 persen riil, inflasi 3 persen, dan perekonomian nominal 8 persen, maka pertumbuhan penerimaan pajak adalah minimal 8 persen.

“Kalau ekonomi tumbuh 8 persen, maka penerimaan perpajakan harusnya 8 persen. Di banyak negara justru lebih jauh di mana pertumbuhan penerimaan perpajakan lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nominalnya,” tegasnya.

Febrio menambahkan, insentif perpajakan yang diberikan oleh pemerintah harus benar-benar mampu mendorong perekonomian yang dapat juga terlihat dari ketersediaan lapangan kerja dan investasi baru.

Ia menyebutkan, pemerintah telah memberikan banyak insentif perpajakan pada tahun lalu dengan estimasi mencapai Rp257,2 triliun atau 1,62 persen dari PDB.

“Jadi, kalau tax ratio kita tahun ini bisa di sekitar 8 persen, biasanya 10 persen, maka 1,62 persen itu dari PDB,” ujarnya.

Check Also

Erick Thohir : Pembelian Dolar Dilakukan Secara Optimal, Terukur Dan Sesuai Kebutuhan

MarketNews.id Tingkat inflasi di US yang sulit turun salah satunya dipicu oleh kenaikan harga energy. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *