Home / Otoritas / Bursa Efek Indonesia / Aviliani : Masa Pendemi, Saat Yang Tepat Investasi Saham

Aviliani : Masa Pendemi, Saat Yang Tepat Investasi Saham

Marketnews.id Investasi dalam bentuk saham sebenarnya investasi jangka panjang. Buat pemula, investasi di pasar saham merupakan tantangan tersendiri karena tidak sejalan dengan usia muda yang penuh dengan gejolak. Cara mensiasatinya salah satunya dengan membeli Reksadana misalnya.

Di tengah ketidakpastian akibat pandemi covid-19, bukan berarti minat investasi serta merta harus turut surut juga. Justru di saat seperti ini dianggap sebagai peluang yang baik bagi para investor untuk mengubah portofolio investasinya dengan membeli saham. Pasalnya, krisis akibat pandemi tersebut membuat harga saham terdiskon sehingga murah.


Hal itu disampaikan oleh Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Aviliani, saat menjadi salah satu narasumber pada acara FestiFund 2020 yang digelar oleh PT IndoPremier Sekuritas, Sabtu (26/9).

Menurutnya, pandemi seperti saat ini menjadi peluang yang berpotensi bisa mendatangkan keuntungan di masa mendatang apabila mau bermain saham.


“Ini saatnya investasi karena pasar saham harganya sedang murah, tapi pastikan memilih saham yang fundamental perusahaannya bagus sebab itu kan untuk masa depan,” ujar Aviliani.


Hanya saja Avi, panggilan akrabnya mengingatkan agar ketika memutuskan untuk berinvestasi baik itu di pasar saham, reksa dana ataupun dengan membeli produk obligasi / sukuk pemerintah (surat berharga negara / SBN) harus dipastikan sesuai dengan profil risiko masing-masing individu.

Dengan mengenali dirinya berada pada tingkatan yang mana, maka investasi di manapun akan bisa cepat menyesuaikan diri ketika terjadi hambatan atau persoalan. Dia juga mengingatkan, bahwa investasi itu idealnya adalah untuk jangka panjang sehingga ketika seseorang memutuskan berinvestasi agar tidak terburu-buru mengejar cuan atau menarik kembali dana investasinya.


“Jadi kenali diri Anda terlebih dahulu agar kita tahu kita di posisi yang mana, kalau kita sudah pahami diri Anda seperti apa maka Anda akan selalu bisa memposisikan diri di tengah krisis,” sambungnya.


Sementara itu terkait dengan SBN yang sudah banyak dilelang pemerintah, Avi menyayangkan porsi investor asing yang membeli SBN tersebut justru lebih banyak dibandingkan investor domestik. Meski hal itu menandakan bahwa setiap SBN yang ditawarkan pemerintah potensial mendatangkan cuan yang lebih besar, namun ada risiko lain yang mengintainya.


Menurutnya sekitar 30,4 persen kepemilikan SBN hingga akhir Mei 2020 kemarin adalah dimiliki asing. Sementara yang dimiliki oleh investor domestik hanya sekitar 3,1 persen. Hal ini menunjukkan bahwa investor domestik masih belum tergerak untuk memborong SBN pemerintah. Padahal harga SBN kini tergolong jauh lebih murah dibandingkan SBN pada zaman dahulu.


“Kalau pemerintah keluarin SBN yang beli kita sendiri maka bunga yang dikeluarkan dari APBN maka akan kita gunakan untuk konsumsi domestik, lalu nilai tukar kita akan cenderung bergerak stabil kalau banyak diborong oleh domestik. Tapi kalau dominan dibeli asing kan bunganya dipakai untuk konsumsi mereka di negaranya, tapi saya bukan berarti anti asing yah,” pungkas Avi.

Check Also

Erick Thohir : Pembelian Dolar Dilakukan Secara Optimal, Terukur Dan Sesuai Kebutuhan

MarketNews.id Tingkat inflasi di US yang sulit turun salah satunya dipicu oleh kenaikan harga energy. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *