Home / Otoritas / Bank Indonesia / Rupiah Diposisi Terendah Sejak 20 Tahun Terakhir

Rupiah Diposisi Terendah Sejak 20 Tahun Terakhir

Marketnews.id Tekanan terhadap Rupiah semakin kencang belakangan ini. Semua pihak merasa lebih aman jika pegang uang tunai.

Seperti diketahui, nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah menguat signifikan sepanjang hari ini. Mengutip data perdagangan Reuters, Kamis (19/3/2020), sepanjang hari ini dolar AS tercatat bergerak di level Rp 15.235-15.899. Adapun saat dolar AS bertengger di Rp15.837 angka tersebut tercatat sebagai yang tertinggi dalam 20 tahun terakhir.

Uang tunai adalah raja, di saat beragam stimulus yang diluncurkan pemerintah dan bank sentral gagal menghentikan kepanikan pasar. Hasilnya, dolar AS melonjak dan semua aset di luar uang kertas AS itu terhempas pada Kamis (19/3). Langkah dan kebijakan penyelamatan darurat oleh sentral di Eropa, Jepang, Amerika Serikat dan Australia gagal menghentikan gelombang baru penjualan panik investor.


“Tidak ada pembeli, tidak ada banyak likuiditas dan semua orang keluar (aset investasi),” kata Chris Weston, kepala riset di pialang Melbourne Pepperstone.
Saham, obligasi, emas, dan komoditas jatuh ketika dunia berjuang untuk menahan virus corona baru dan investor dan bisnis berebut uang tunai.


Saham berjangka AS, EScv1, sangat dekat dari batas sesi turun. Euro STOXX 50 berjangka, STXE c1, turun 4%, FTSE berjangka – FFIc1 – turun 3%.


Lalu, dolar Australia yang sensitif terhadap pertumbuhan global hancur 3% ke level terendah 17 tahun dan telah anjlok lebih dari 20% sepanjang 2019 berjalan.
Hampir setiap pasar saham di Asia turun dan sirkuit pemutus otomatis perdagangan menyala di bursa Seoul, Jakarta, dan Manila.


“Kita jelas hidup dalam masa yang luar biasa dan menantang,” kata Gubernur Reserve Bank of Australia, Philip Lowe, dalam pidato yang disiarkan di seluruh negeri. “Saya tidak dapat memberi Anda satu skema prakiraan ekonomi yang diperbarui. Situasinya terlalu cair,” tambahnya.


Indeks MSCI untuk saham Asia Pasifik di luar Jepang turun sekitar 5% ke level terendah empat tahun, dengan saham Korea dan Taiwan memimpin kerugian.
Para trader melaporkan peregangan besar di pasar obligasi karena tertekan penjualan demi aset apapun yang lebih likuid untuk menutupi kerugian di saham dan penarikan besar-besaran dari investor.


Setelah aksi jual tiga hari paling tajam dalam di obligasi Australia bertenor 10-tahun sejak 1987, ujung kurva yang panjang adalah kehancuran.
Imbal hasil obligasi negara bertenor 10-tahun yang menjadi patokan di Selandia Baru, Malaysia, Korea dan Singapura dan Thailand juga melonjak karena harga jatuh, sementara US Treasury 10-tahun naik 10 basis poin.


Adapun emas anjlok 1% dan tembaga ke posisi batas terendah di Shanghai.
Di bursa Asia, Indeks Nikkei 225 anjlok 1%, ASX 200 Australia melorot hampir 4%, indeks Kospi Korsel kehilangan nilai 8%, dan indeks Hang Seng HongKong turun 3%.
“Kita berada dalam fase ini di mana investor hanya ingin melikuidasi posisi investaso mereka,” kata Prashant Newnaha, ahli strategi tingkat bunga senior di TD Securities di Singapura.(Reuters)






Check Also

BEI Siap Catatkan Dua Emiten Baru Di Awal Perdagangan Pasca Libur Lebaran 2024

MarketNews.id Awal perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa 16 April 2024 akan berbarengan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *