Home / Otoritas / Bursa Efek Indonesia / Indeks Saham Terpangkas lagi 4,42 Persen. Bursa Mulai Bearish?

Indeks Saham Terpangkas lagi 4,42 Persen. Bursa Mulai Bearish?

Marketnews.id Upaya Pemerintah untuk menstabilkan pasar modal tampaknya belum membuahkan hasil. Gerakan buy-back saham yang akan dilakukan oleh emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tampaknya belum berjalan optimal. Buktinya, indeks saham masih terus tergerus sebanyak 4,42 persen.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), tak mampu berbuat banyak pada perdagangan hari ini, Senin (16/3/2020), setelah The Fed memangkas suku bunga acuan hingga mendekati nol persen.

Berdasarkan data Bloomberg, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 4,42 persen atau 216,91 poin ke level 4.690,57 dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Seperti diketahui, pada akhir perdagangan Jumat (13/3/2020) IHSG mampu berbalik ke zona hijau setelah sempat mengalami trading halt pada menit ke 15 setelah pasar dibuka. IHSG ditutup pada level 4907,571 atau menguat 0,24 persen.

Pelemahan indeks mulai berlanjut di awal perdagangan, Pada pukul 09.05 WIB, indeks langsung anjlok ke level 4.722,76.

Seluruh 9 sektor pada indeks berakhir di wilayah negatif, dengan sektor infrastruktur mencatat pelemahan terbesar hingga 5,98 persen, disusul oleh sektor barang konsumsi yang melemah 5,67 persen.

Dari 684 saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia, 68 saham di antaranya menguat, 351 saham melemah, dan 267 saham stagnan.

Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) dan PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) yang masing-masing melemah 5,91 persen dan 6,78 persen menjadi penekan utama IHSG pada perdagangan hari ini.

Beberapa analis berpendapat, tindakan Bank Sentral AS yang kembali memangkas suku bunganya hingga ke level 0,25 persen untuk menjaga perekonomian negaranya tak ayal menimbulkan kecemasan di pasar saham karena dinilai tiba-tiba.

Seperti diketahui, pagi tadi, The Fed memangkas Fed Fund Rate sebesar 1 persen menjadi kisaran 0-0,25 persen, level terendah sejak Desember 2015. Selain itu, The Fed akan meningkatkan kepemilikan obligasi sebanyak US$700 miliar.

Sementara kondisi di dalam.negeri juga tengah melambat dari terhambatnya berbagai aktivitas dalam upaya mencegah penyebaran Covid-19 lebih luas, seperti berubahnya operasional perkantoran dan kegiatan belajar.

Dari sisi kebijakan, tampaknya pihak otoritas kurang memiliki koordinasi. Kementerian Keuangan dan otoritas bursa berjalan bersama buat menyelamatkan pasar modal. Disisi lain Pemerintah pusat dengan kebijakan sosial distance membuat bursa kembali melemah. Lagi lagi koordinasi masih jadi salah satu kelemahan.

Check Also

Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) Raih Kenaikan Laba Bersih Di 2021 Jadi Rp 3,03 Triliun

Marketnews.is Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) catat debut pertamanya setelah merger dengan bank syariah milik …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *