Home / Korporasi / Emiten / BEI Masih Kejar Kuantitas emiten tercatat. Bagaimana Dengan Kualitas Emiten Baru?

BEI Masih Kejar Kuantitas emiten tercatat. Bagaimana Dengan Kualitas Emiten Baru?

Marketnews,id PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memperkirakan jumlah perusahaan yang mencatatkan saham di BEI sepanjang 2019 sekitar 65-70 emiten atau melampaui pencatatan di sepanjang 2018 sebanyak 57 emiten.
“Saat ini yang tercatat di pipeline kami, perusahaan yang akan mencatatkan saham di Bursa sebanyak 33 perusahaan,” kata Direktur BEI, I Gede Nyoman Yetna Setia, dalam acara “Temu Manajemen BEI dengan Wartawan Pasar Modal” di Jakarta, Rabu (4/12).
Nyoman menyebutkan, sebanyak 16 perusahaan dari 33 calon emiten tersebut akan mencatatkan saham di Kuartal IV-2019. “Sebanyak 17 perusahaan akan mendapatkan pernyataan efektif dari OJK pada tahun depan. Sedangkan, sebanyak 16 perusahaan sedang menunggu listing date,” imbuhnya.
Dia menjelaskan, realisasi pencatatan emiten di 2019 sebanyak 49 perusahaan, setelah pada 2 Desember lalu PT Asia Sejahtera Mina Tbk (AGAR) mencatatkan saham di BEI. “
Nyoman berharap, pertambahan jumlah emiten baru di pengujung 2019 ini tidak hanya sebanyak 16 perusahaan. “Sebelum pekan keempat Desember ini sudah ada listing date. Jadi, kami bisa melampaui tahun lalu yang sebanyak 57 emiten baru. Sekitar 65-70 emiten baru yang masuk ke Bursa pada tahun ini,” jelasnya.

Harapan Nyoman, target perusahaan yang tercatat di BEI semakin banyak dan beragam dari jenis usahanya adalah wajar. Persoalannya, tidak sedikit emiten baru yang mencatatkan saham nya tahun ini bermasalah dengan harga yang jatuh dibawah harga perdana.

Pihak emiten pun tidak dapat berbuat banyak saat harga saham perusahaan nya jatuh ke harga terendah yakni Rp 50 per saham.

Seperti diketahui, harga sebuah saham terbentuk dari perhitungan fundamental kinerja perusahaan dan persepsi investor terhadap perusahaan. Bila dari sisi fundamental,perusahaan tersebut bagus mestinya harga saham perseroan akan mengikuti kinerja saham tersebut.

Faktanya tidak sedikit emiten memiliki kinerja fundamental bagus, tapi harga sahamnya jatuh. Bahkan terpuruk ke harga terendah Rp 50 per saham.

Menjelelaskan fenomena ini kepada investor pemula memang tidak mudah. Apalagi, menjelaskan persepsi pasar terhadap perusahaan.

Hal sama juga terjadi pada emiten baru,

dimana sebagai perusahaan yang telah mendapat dana publik, hanya fokus mengembangkan usaha perusahaan agar terus menghasilkan. Sementara apa yang terjadi dipasar atas sahamnya,mereka tidak peduli. Begitu harga saham perseroan jatuh, mereka panik. Apalagi setelah BEI memanggil meminta agar menjelaskan kepada publik kenapa harga sahamnya anjlok atau terpuruk.

Becermin dari kejadian di atas, mestinya emiten atau pengelola perusahaan mulai belajar mengelola informasi agar persepsi masyarakat atau investor sejalan dengan kinerja fundamental. Harapannya tentu pemegang saham semakin tertarik investasi di pasar modal.

Beberapa emiten baru

Check Also

OJK Minta Perbankan Percepat Pembentukan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN)

Marketnews.id Perlahan tapi pasti, kinerja perbankan nasional sejak hadirnya pendemi Covid-19 dua tahun lalu berangsur …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *