MarketNews.id- Pengamat ekonomi Dr. Noviardi Ferzi menilai proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,06% sepanjang 2025 mencerminkan daya tahan domestik yang relatif solid, terutama karena konsumsi rumah tangga masih menjadi jangkar utama perekonomian nasional dengan kontribusi lebih dari 54% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Menurutnya, capaian tersebut patut diapresiasi di tengah tekanan eksternal berupa perlambatan ekonomi global, ketegangan geopolitik, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter negara maju.
“Pertumbuhan di atas 5% pada 2025 menunjukkan fondasi ekonomi domestik masih cukup kokoh. Konsumsi rumah tangga berfungsi sebagai shock absorber ketika ekspor dan investasi menghadapi tekanan global,” ujarnya, Kamis, 5 Februari 2026.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa ketergantungan berlebihan pada konsumsi menyimpan risiko struktural apabila tidak diimbangi dengan penguatan sektor produktif.
Karena itu, proyeksi pertumbuhan 2026 di kisaran 5,0–5,4% hanya akan tercapai di batas atas apabila pemerintah mampu mendorong investasi berkualitas, percepatan hilirisasi industri, serta penguatan UMKM secara lebih agresif dan terukur.
“Kalau hanya mengandalkan konsumsi, pertumbuhan akan cenderung stagnan. Untuk menembus 5,4 persen, kita membutuhkan akselerasi investasi riil, percepatan proyek hilirisasi, serta reformasi birokrasi yang benar-benar dirasakan pelaku usaha,” tegasnya.
Dr. Noviardi menambahkan, strategi akselerasi sektor riil harus dijalankan melalui pendekatan terintegrasi yang menggabungkan kebijakan fiskal, investasi, serta kemitraan lintas sektor, sebagaimana tercermin dalam arah kebijakan pemerintah 2026.
Pada aspek investasi berkualitas, ia menekankan pentingnya optimalisasi APBN ke sektor strategis seperti ekonomi digital, ekonomi hijau, serta infrastruktur padat karya yang berdampak langsung pada penciptaan lapangan kerja.
Ia juga menyoroti perlunya penguatan kredit program pemerintah, khususnya Kredit Usaha Rakyat (KUR), agar benar-benar mampu mentransformasi usaha subsisten menjadi usaha produktif.
“Sinkronisasi kebijakan moneter dan fiskal menjadi kunci. Stabilitas suku bunga dan nilai tukar akan memberi kepastian bagi dunia usaha untuk melakukan ekspansi,” ujarnya.
Sementara itu, dalam agenda hilirisasi industri, Dr. Noviardi menilai percepatan peningkatan nilai tambah nasional harus menjadi prioritas, mulai dari komoditas mineral seperti nikel hingga pengembangan ekosistem kendaraan listrik.
Ia mendorong sinergi kebijakan harga gas industri, pengamanan pasar domestik, serta relaksasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) secara selektif agar industri nasional tetap kompetitif.
Ia juga menekankan pentingnya revitalisasi sektor manufaktur melalui program Making Indonesia 4.0 guna menciptakan efek pengganda terhadap tenaga kerja, ekspor, dan pertumbuhan daerah.
Adapun dalam penguatan UMKM, Noviardi merekomendasikan pengembangan business matching antara usaha besar dan UMKM, peningkatan kompetensi melalui workshop berkelanjutan, serta kemitraan rantai pasok agar UMKM dapat naik kelas dan menembus pasar global.
Di saat yang sama, ia meminta agar alokasi pembiayaan dari Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) benar-benar mengalir ke sektor riil, bukan terserap di instrumen keuangan semata.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa kualitas pertumbuhan sama pentingnya dengan angka pertumbuhan itu sendiri. Pertumbuhan harus bersifat inklusif, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat daya beli kelas menengah agar konsumsi tetap terjaga.
“Kalau investasi berkualitas, hilirisasi, dan UMKM bergerak serentak, maka pertumbuhan tidak hanya tinggi secara angka, tetapi juga berkualitas—menciptakan lapangan kerja, memperkuat daya beli, dan mengurangi ketimpangan,” katanya.
Noviardi menutup dengan menegaskan bahwa 2026 harus menjadi momentum transformasi ekonomi nasional, bukan sekadar tahun menjaga stabilitas.
“Indonesia tidak boleh puas di angka 5 persen. Kita perlu pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan. Di situlah sektor riil harus ditempatkan sebagai lokomotif utama pembangunan ekonomi,” pungkasnya.
MarketNews.id Media Investasi dan Pasar Modal