MarketNews.id-S&P Global Ratings memperingatkan risiko kredit dan laba bank BUMN setelah pertumbuhan kredit mencapai mencapai 26 persen dua kali lipat pertumbuhan industri sebesar 12 persen.
Kenaikan kredit berimbal hasil rendah dan biaya pendanaan yang lebih tinggi diperkirakan akan menekan NIM bank BUMN sekitar 10-12 basis poin dalam 12-18 bulan kedepan.
S&P juga memproyeksikan pertumbuhan kredit melambat jadi 8-10 persen, meski rasio modal tier 1 sebesar 16-20 persen masih jadi penyangga.
Bank BUMN Indonesia menghadapi peningkatan risiko kredit dan laba. Penyaluran kredit yang didorong pemerintah membuat pertumbuhan pinjaman mencapai lebih dari dua kali lipat laju pertumbuhan industri.
Menurut S&P Global Ratings, lonjakan kredit dengan imbal hasil lebih rendah tersebut terjadi bersamaan dengan meningkatnya biaya pendanaan.
S&P memperkirakan net interest margin (NIM) bank-bank milik negara akan turun 10 hingga 20 basis poin dalam 12 hingga 18 bulan ke depan, tulis para analis S&P Global yang dipimpin Nikita Anand dalam laporan yang dikutip Bloomberg, Selasa 15 September 2026.
Peringatan tersebut muncul di tengah upaya Danantara untuk memperbaiki kondisi perusahaan-perusahaan negara yang mengalami tekanan keuangan, sekaligus mendorong agenda belanja ambisius Presiden Prabowo Subianto.
Utang yang terakumulasi oleh sejumlah Badan Usaha Milik Negara ( BUMN ) telah memaksa dilakukannya restrukturisasi, sehingga menimbulkan pertanyaan mengenai seberapa besar pendanaan yang diperlukan untuk menyehatkan sektor tersebut dan apakah hal itu dapat mengalihkan sumber daya dari investasi baru.
Laporan tersebut menyebutkan penyaluran kredit pada tiga bank BUMN yang mendapatkan pemeringkatan dari S&P – PT Bank Mandiri (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), dan PT Bank Negara Indonesia (BBNI) – rata-rata melonjak 26 persen secara tahunan hingga Juni, lebih dari dua kali lipat pertumbuhan industri sebesar 12 persen.
Pertumbuhan tersebut, yang sebagian besar didorong oleh penyaluran kredit kepada BUMN dan program pemerintah, telah melampaui perkiraan S&P maupun panduan yang ditetapkan bank-bank tersebut, kata S&P Global.
Ujian terhadap kualitas aset kredit BUMN akan berlangsung akhir bulan ini, ketika PT Agrinas Pangan Nusantara, perusahaan yang dikendalikan Danantara dan bertanggung jawab atas program Koperasi Desa Merah Putih, dijadwalkan melakukan pembayaran pertama.
Kredit kepada Agrinas menyumbang sekitar 2% hingga 6% dari total penyaluran kredit masing-masing Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia, dan Bank Negara Indonesia, kata S&P.
“Meski kredit tersebut tidak dijamin, bank dapat menagihkan setiap kekurangan kepada pemerintah,” kata para analis S&P. Mereka menambahkan bahwa efektivitas mekanisme tersebut masih belum teruji.
“Mengingat besarnya nilai kredit kepada BUMN , gagal bayar dapat menyebabkan lonjakan biaya kredit serta penurunan laba dan permodalan,” tulis S&P Global.
Pertumbuhan kredit bank-bank BUMN dapat melambat menjadi 8 persen hingga 10 persen dalam setahun ke depan seiring pengetatan likuiditas dan pelunasan utang jangka pendek oleh bank.
S&P berpendapat permodalan yang sehat, dengan rasio modal tier 1 sebesar 16 persen hingga 20 persen, memberikan penyangga bagi bank-bank yang dikendalikan negara tersebut.
MarketNews.id Media Investasi dan Pasar Modal