Home / Otoritas / Bank Indonesia / Ashmore : Tetap Berhati-hati, Satu Minggu Belum Cukup Untuk Membentuk Tren.

Ashmore : Tetap Berhati-hati, Satu Minggu Belum Cukup Untuk Membentuk Tren.

MarketNews.id- Bursa saham Indonesia menutup sesi perdagangan pekan pertama September 2026 dengan membukukan pelemahan IHSG sebesar 0,47% menjadi 6.636, namun masih lebih tinggi dibandingkan akhir pekan sebelumnya di posisi 6.518. Investor asing juga mencatatkan arus masuk ekuitas senilai USD132 juta sepanjang pekan.

PT Ashmore Asset Management Indonesia mencatat sektor yang berkinerja terbaik adalah sektor Industrials dan Energy yang masing-masing melesat sebesar 6,53% dan 4,51%.

Sementara itu, sektor yang tertinggal adalah sektor Basic Materials dan Healthcare yang masing-masing merosot sebesar -1,26% dan -1,25%.
Pasar komoditas yang berkinerja terbaik minggu ini adalah Crude Oil (+6,53%) dan Coal (+5,88%), di sisi lain terdapat koreksi pada Indeks Nikkei (-2,09%) dan Indeks CSI 300 (-1,33%).

Di Asia, kepercayaan konsumen Jepang sedikit membaik menjadi 35,5, meskipun belanja rumah tangga mengalami kontraksi 3,6% YoY. Angka yang jauh lebih buruk dari perkiraan ini menunjukkan bahwa sentimen positif belum diterjemahkan menjadi pengeluaran aktual.

Data China lebih menggembirakan, dengan aktivitas manufaktur dan jasa sama-sama meningkat, masing-masing melampaui ekspektasi menjadi 51,5 dan 51,4.

Menurut Ashmore, ini merupakan sinyal positif bagi Indonesia mengingat China merupakan mitra dagang terbesar Indonesia.

Di dalam negeri, inflasi naik menjadi 3,19% dari 2,88%, sedikit di atas ekspektasi, terutama didorong oleh harga pangan.

“Lebih positif lagi, neraca perdagangan kembali mencatat surplus sebesar USD0,13 miliar setelah mengalami defisit selama dua bulan berturut-turut, sehingga sedikit meredakan tekanan terhadap posisi eksternal yang telah terbentuk sejak pertengahan tahun,” imbuh Ashmore.

Ashmore mencermati, konflik di sekitar Selat Hormuz kembali terjadi pada pekan ini, setelah sebulan relatif tenang. Harga minyak naik sekitar 7% menjadi sekitar USD95 per barel.

Di dalam negeri, pasar menarik dana asing setelah sebagian besar tahun ini mengalami arus keluar. IHSG naik sekitar 1,8% menjadi 6.636, dan investor asing menjadi net buyer sekitar USD132 juta.

Yang perlu diperhatikan, sejak perubahan indeks MSCI berlaku pada penutupan Senin lalu dan mendorong  index funds  melakukan penjualan. Dengan adanya arus masuk bersih berarti investor asing membeli lebih dari cukup untuk mengimbangi penjualan tersebut,” ungkap Ashmore.

Minggu ini pasar ditutup dengan catatan berbeda secara global. Data laporan ketenagakerjaan AS yang jauh lebih kuat dari perkiraan kembali memunculkan prospek kenaikan suku bunga Federal Reserve bulan ini.

Sementara itu, AS melancarkan serangan baru terhadap target-target Iran di sekitar Selat tersebut. Teheran membalas dengan drone dan rudal yang diarahkan ke pangkalan-pangkalan AS di seluruh kawasan.

Ashmore mencatat, Presiden AS Donald Trump mengindikasikan bahwa ia tidak tertarik untuk bernegosiasi. Namun, arus fisik minyak justru membaik, bukan memburuk. Menteri Energi AS mengatakan lebih dari 17 juta barel melewati Selat tersebut pada hari Senin, tertinggi sejak perang dimulai pada akhir Februari, dibandingkan sekitar 20 juta barel sebelum konflik.

“Dengan kata lain, harga didorong oleh kekhawatiran mengenai apa yang mungkin terjadi, bukan oleh kekurangan aktual saat ini, dan harga kemungkinan akan tetap sensitif terhadap berita utama berikutnya,” sebut Ashmore.

Ashmore juga mencermati, ekspektasi terhadap suku bunga di AS berayun cukup signifikan. Setelah pidato Ketua Warsh di Jackson Hole, probabilitas kenaikan suku bunga pada September melonjak dari sekitar sepertiga menjadi sekitar 70%, sebelum turun menjadi sekitar 52% pada Kamis lalu.

Ketika itu Gubernur Fed Christopher Waller mengatakan, bahwa ia akan mendukung mempertahankan suku bunga jika data mengonfirmasi bahwa inflasi sedang mendingin.

Namun, laporan ketenagakerjaan terbaru menunjukkan perekonomian menambah 162 ribu lapangan pekerjaan pada Agustus, sekitar tiga kali lipat dari perkiraan 53 ribu dan merupakan bulan terkuat sejak Maret. Sedangkan kehilangan 23 ribu pekerjaan yang sebelumnya dilaporkan pada Juli direvisi menjadi kenaikan 21 ribu, dan tingkat pengangguran tetap di 4,1%.

Imbal hasil Treasury naik tajam, terutama pada tenor yang lebih pendek, dengan tenor 30 tahun mencapai sekitar 5,25% dan tenor 10 tahun sekitar 4,80% sebelum kembali turun dari reaksi awal.

Ashmore berpendapat, “Bagi emerging market, poin pentingnya bukan pada arah The Fed melainkan volatilitas itu sendiri, karena perubahan tajam dalam ekspektasi suku bunga AS menggerakkan mata uang dan harga obligasi secara global.”

Sementara itu, di dalam negeri, inflasi tahunan naik menjadi 3,19% pada Agustus dari 2,88%, sedikit di atas ekspektasi.

Pangan menjadi faktor utama, berkontribusi lebih dari satu persentase poin, sebagian mencerminkan permintaan musiman di sekitar Hari Kemerdekaan dan dimulainya kembali program makan sekolah.

“Yang lebih signifikan adalah inflasi inti naik menjadi 2,92%, tertinggi sejak Maret 2023,” imbuh Ashmore.

Gubernur yang baru dikonfirmasi, Destry Damayanti, secara langsung menanggapi masalah tersebut, dengan mencatat bahwa inflasi pangan yang bergejolak telah meningkat sekitar dua kali lipat dan Bank Indonesia bekerja sama dengan pemerintah pusat dan daerah dalam langkah-langkah penanganan harga pangan yang terarah.

Seperti diketahui Parlemen menyetujui pengangkatan Destry pada 1 September, menyelesaikan transisi kepemimpinan yang dimulai dengan kepergian mendadak gubernur sebelumnya pada Juli dan menghilangkan ketidakpastian yang telah membayangi aset Indonesia selama dua bulan.

Ashmore menilai kelas aset bergerak ke arah yang berbeda, dengan ekuitas menjadi pemenang, didukung oleh kepemimpinan bank sentral yang telah stabil, rupiah yang lebih kuat di Rp17.637 dan data yang lebih baik dari China, mitra dagang terbesar Indonesia.

Sedangkan obligasi bergerak ke arah sebaliknya, dengan imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik menjadi 7,117% dari sekitar 7%, mengembalikan sebagian kenaikan pada Agustus.

Menurut Ashmore, pergerakan tersebut lebih mencerminkan kondisi global dari pada domestik, meskipun inflasi dalam negeri yang lebih tinggi turut memperkuatnya.

Data ketenagakerjaan AS terbaru menambah tekanan tersebut, dan arah imbal hasil obligasi Indonesia dalam beberapa minggu mendatang kemungkinan lebih ditentukan oleh AS dari pada Jakarta.

“Imbal hasil pada level ini masih menawarkan pendapatan yang dapat diandalkan, dan mata uang tetap berada dekat dengan Rp17.500 yang diasumsikan dalam rancangan anggaran pemerintah untuk 2027,”

Ashmore menambahkan.
Secara keseluruhan, Ashmore melihat, minggu ini menggembirakan bagi pasar domestik di tengah latar belakang global yang lebih bergejolak.

Kembalinya pembelian oleh investor asing merupakan perkembangan yang telah ditunggu sejak arus masuk moderat pada Juli.

Terlebih lagi hal tersebut terjadi di tengah tekanan penjualan wajib sejumlah saham akibat rebalancing MSCI sehingga menjadi semakin berarti.

Namun Ashmore mengaku tetap berhati-hati, karena satu minggu belum cukup untuk membentuk tren, harga minyak masih bergejolak dan data ketenagakerjaan terbaru kembali memperkuat kemungkinan kenaikan suku bunga AS.

Ashmore menegaskan, “Pendekatan kami tetap tidak berubah, dengan mengutamakan perusahaan yang likuid dan transparan dengan fundamental yang kuat, disertai obligasi berkualitas baik yang menawarkan pendapatan yang dapat diandalkan, yang dimiliki dalam kombinasi wilayah dan kelas aset yang terdiversifikasi,”

“Hal utama yang perlu diperhatikan adalah data inflasi AS minggu depan, yang kini menjadi input penentu menjelang keputusan The Fed pada 16 September.” (Ashmore)

Check Also

Penutupan Bandara Soetta : Penumpang Membludak, Hingga Mesin Pesawat Ditutup Plastik Hindari Abu Vulkanik

MarketNews.id- Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) di Tangerang, Banten kembali memperpanjang status penghentian sementara operasional penerbangan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *