MarketNews.id-Penurunan penjualan ritel serta defisit perdagangan pertama dalam enam tahun, mencerminkan lemahnya permintaan domestik dan meningkatnya beban impor energi. Dampaknya pada turunnya pertumbuhan ekonomi kuartal kedua yang melambat dari 5,61 persen pada kuartal I menjadi 5,10 di kuartal II 2026.
Ekonom menilai, meski belanja Pemerintah dan subsidi energi masih menopang ekonomi, tapi pengetatan moneter, ketidakpastian global dan lemahnya sentimen swasta akan membatasi pertumbuhan ekonomi RI.
Ekonomi Indonesia diperkirakan kehilangan sebagian momentumnya pada kuartal II 2026. Permintaan konsumen setelah musim liburan, dan kontribusi ekspor bersih terhadap pertumbuhan ekonomi berkurang.
Hasil survei ekonom Reuters terhadap 28 ekonom pada 27 Juli hingga 3 Agustus, mengindikasikan ekonomi Indonesia akan tumbuh 5,10% secara tahunan ( year-on-year ) pada periode April-Juni.
Angka ini lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 5,61% pada kuartal I.
Secara kuartalan ( quarter-on-quarter ), produk domestik bruto (PDB) diperkirakan tumbuh 3,50%, berbalik dari kontraksi tipis yang terjadi pada periode Januari-Maret.
Data resmi dari lembaga pemerintah akan dirilis pada Rabu lusa.
“Kami melihat konsumsi melambat, sebagian karena efek berakhirnya musim perayaan, tetapi juga karena dukungan kebijakan fiskal terhadap konsumsi tidak terlalu kuat,” kata Lavanya Venkateswaran, ekonom ASEAN senior di OCBC Bank.
Ia mengacu pada data penjualan ritel turun 3,7% pada April dan 3,9% pada Mei, menjadi kontraksi tahunan terdalam dalam tiga tahun terakhir, yang mengindikasikan melemahnya konsumsi domestik.
Sementara itu, ekspor bersih memberikan dukungan yang lebih kecil terhadap pertumbuhan meskipun harga komoditas meningkat.
Tagihan impor energi melonjak pada April dan Mei di tengah perang antara Amerika Serikat dan Iran.
Data resmi menunjukkan Indonesia mencatat defisit neraca perdagangan sebesar USD1,61 miliar pada Mei, yang merupakan defisit pertama dalam enam tahun.
“Dibandingkan negara-negara lain di kawasan, pertumbuhan ekspor Indonesia tidak sekuat itu. Karena itu kami memperkirakan faktor ini masih akan menjadi hambatan bagi pertumbuhan pada kuartal kedua,” imbuh Venkateswaran seperti dikutip Reuters.
Belanja pemerintah diperkirakan tetap menopang pertumbuhan ekonomi, meskipun para ekonom menilai kontribusinya akan melambat setelah melonjak hampir 22% pada kuartal pertama.
Pemerintah telah mengalokasikan Rp381,3 triliun (sekitar USD21,2 miliar) untuk subsidi energi guna melindungi masyarakat dari kenaikan biaya bahan bakar dan listrik akibat perang di Timur Tengah.
Survei Reuters lainnya menunjukkan ekonomi Indonesia diperkirakan mampu mempertahankan pertumbuhan di kisaran 5% pada beberapa kuartal mendatang, meskipun harga energi melonjak dan Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 100 basis poin sejak Mei untuk menopang nilai tukar rupiah, yang hingga kini masih melemah lebih dari 7% sepanjang tahun.
“Meski pertumbuhan kredit tetap kuat, hal itu kemungkinan tidak cukup untuk sepenuhnya mengimbangi tanda-tanda perlambatan aktivitas ekonomi yang lebih luas,” kata Krystal Tan, ekonom ANZ.
“Ke depan, pengetatan kondisi keuangan, ketidakpastian eksternal, serta masih berhati-hatinya sentimen sektor swasta kemungkinan akan membatasi laju pertumbuhan ekonomi,” Tan menambahnya.
Para ekonom juga mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan menutupi kesenjangan yang semakin lebar antar kelompok pendapatan, sekaligus masih jauh dari target Presiden Prabowo Subianto untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8% pada 2029.
MarketNews.id Media Investasi dan Pasar Modal