MarketNews.id-Cadangan Devisa Indonesia bisa dikatakan stabil setelah beberapa bulan lalu terkuras akibat intervensi yang dilakukan Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan nilai tukar.
Stabilnya Cadev Indonesia, tidak lepas dari upaya pemerintah dalam mencari sumber devisa lain berupa penerbitan Global Bond yang sangat diminati investor asing, hingga meningkatnya setoran pajak.
Posisi Cadangan devisa sebesar USD145,3 Miliar, telah memperkuat kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia. Sementara Rupiah menguat 0,15 persen ke Rp 17.897 per dolar AS.
Penguatan rupiah masih dibatasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed yang akan dipengaruhi hasil data nonfarm payrolls Amerika Serikat.
Nilai tukar rupiah ditutup menguat tipis pada perdagangan akhir pekan, didukung sentimen positif dari relatif stabilnya posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juli 2026 yang dinilai masih mampu menopang ketahanan sektor eksternal di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global.
Mengutip data Bloomberg, pada Jumat 7 Agustus 2026 pukul 15.00 WIB rupiah ditutup di level Rp17.897 per dolar AS, menguat 26 poin atau 0,15% dibandingkan akhir perdagangan Kamis 6 Agustus 2026 di posisi Rp17.923 per dolar AS.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, dari dalam negeri sentimen positif datang dari posisi cadangan devisa Indonesia yang tetap terjaga.
“Bank Indonesia melaporkan posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juli 2026 sebesar 145,3 miliar dolar AS, relatif stabil dibandingkan posisi akhir Juni 2026 sebesar 145,6 miliar dolar AS. Stabilnya cadangan devisa ditopang oleh penerimaan pajak dan jasa serta penerbitan global bond pemerintah, di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah,” tulis Ibrahim dalam publikasi risetnya sore ini.
Posisi tersebut setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, sekaligus berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
“Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juli 2026 tetap terjaga sebesar 145,3 miliar dolar AS, relatif stabil dibandingkan dengan posisi akhir Juni 2026 sebesar 145,6 miliar dolar AS,” ujar Ibrahim.
Ibrahim menilai, kondisi tersebut memberikan keyakinan bahwa fundamental eksternal Indonesia masih cukup kuat untuk menghadapi gejolak pasar global.
Bank Indonesia meyakini ketahanan sektor eksternal tetap baik didukung oleh posisi cadangan devisa yang memadai serta aliran masuk modal asing sejalan dengan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional dan imbal hasil investasi yang tetap menarik.
Di sisi lain, penguatan tipis rupiah hari ini memang masih dibayangi berbagai sentimen negatif dari eksternal, terutama meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah dan ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat.
“Iran telah menyerang apa yang mereka sebut sebagai ‘target-target bermusuhan’ di Selat Hormuz dan berencana melarang kapal-kapal AS serta Israel melintasi jalur perairan strategis tersebut,” ucap Ibrahim.
Menurut Ibrahim, langkah Iran tersebut memperkuat kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pada jalur distribusi energi dunia, mengingat Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling vital bagi perdagangan minyak dan gas global.
Ia menambahkan, konflik juga berpotensi meluas setelah kelompok Houthi mengklaim melakukan serangan terhadap pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi, meskipun Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan optimistis perang akan segera berakhir dan menegaskan AS tetap menguasai Selat Hormuz.
Di sisi lain, pelaku pasar juga mencermati arah kebijakan Federal Reserve setelah muncul laporan mengenai peluang kenaikan suku bunga pada September mendatang.
“Pasar kini memperkirakan adanya peluang sekitar 60% untuk kenaikan suku bunga pada bulan September,” tambah Ibrahim.
Ibrahim menjelaskan, ekspektasi tersebut muncul setelah laporan Financial Times menyebut Ketua Federal Reserve Kevin Warsh siap menaikkan suku bunga apabila tekanan inflasi masih bertahan dalam beberapa pekan ke depan.
“Para investor kini menantikan laporan nonfarm payrolls AS pada hari Jumat, yang dapat menjadi ujian besar berikutnya bagi ekspektasi terkait prospek kebijakan Federal Reserve,” sebut Ibrahim. Menurutnya, data ketenagakerjaan Amerika Serikat akan menjadi indikator penting dalam menentukan arah kebijakan The Fed selanjutnya.
MarketNews.id Media Investasi dan Pasar Modal