Home / Otoritas / Bank Indonesia / Asing Masuk Obligasi Indonesia Capai USD656,7 Juta, Tertinggi Sejak 2019

Asing Masuk Obligasi Indonesia Capai USD656,7 Juta, Tertinggi Sejak 2019

MarketNews.id-Total inflow asing sepanjang Agustus ini sudah mencapai USD931,74 juta pada pekan lalu. Optimisme  investor asing ini didukung oleh penguatan rupiah dan espektasi Suku bunga BI stabil. Seiring kebijakan BI menarik dana asing dan rupiah menguat hingga 1,8 persen.
Permintaan obligasi juga kuat dengan penawaran asing mencapai Rp17,2 triliun didukung membaiknya kredibilitas fiskal dan stabilitas rupiah.

Obligasi pemerintah Indonesia mencatat arus masuk dana asing terbesar dalam lebih dari tujuh tahun, didorong penguatan rupiah dan ekspektasi bahwa Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan suku bunga setelah menaikkannya total 100 basis poin tahun ini.

Mengutip data terbaru Kementrian Keuangan, laman Bloomberg, Senin 24 Agustus 2026 melaporkan, bahwa pengelola dana global membukukan pembelian bersih USD656,7 juta (Rp10,7 triliun) surat utang Indonesia hingga Kamis lalu, terbesar sejak Juli 2019.

Dengan tambahan tersebut, total pembelian bersih asing sepanjang Agustus mencapai USD931,74 juta, sehingga obligasi Indonesia berpeluang mencatat arus masuk selama tiga bulan berturut-turut.

Lonjakan arus dana asing tersebut mencerminkan membaiknya sentimen investor setelah berbagai langkah BI untuk menarik dana asing, diperkuat intervensi di pasar valuta asing, sehingga mendorong rupiah.

Seperti diketahui, Rupiah telah menguat 1,8 persen sepanjang Agustus, menjadikannya salah satu mata uang dengan kinerja terbaik di Asia setelah sebelumnya tertekan pada awal tahun.

Arus masuk pada Kamis lalu, terjadi sehari setelah BI mempertahankan suku bunga dalam keputusan moneter pertama di bawah Pelaksana Tugas Gubernur BI Destry Damayanti, sekaligus memperluas program insentif lindung nilai ( hedging ) untuk menarik lebih banyak dana asing.

“Pembelian bersih asing yang tinggi merupakan dampak positif dari strategi perubahan arah BI. Tidak ada lagi kekhawatiran kenaikan suku bunga lebih lanjut untuk menahan depresiasi mata uang,” kata Wee Khoon Chong, senior  market strategist  Asia Pacific di BNY, kepada Bloomberg.

Menurutnya, stabilitas pasar valuta asing juga mendorong investor kembali masuk ke pasar obligasi Indonesia. Rencana Presiden Prabowo Subianto untuk menurunkan defisit anggaran negara tahun depan turut menjadi katalis positif bagi obligasi.

Meningkatnya kredibilitas fiskal, penguatan rupiah, serta tidak adanya lelang surat berharga rupiah BI atau SRBI pada pekan lalu menjadi sebagian faktor yang memicu arus masuk.

Pada Jumat lalu, BI juga menyatakan akan mengurangi frekuensi lelang SRBI dari seminggu sekali menjadi dua minggu sekali, setelah Destry mengisyaratkan pergeseran kebijakan dari instrumen tersebut sebagai alat untuk menarik investor asing ke pasar valuta asing.

Rupiah telah pulih lebih dari 2,7% dari level terendah sepanjang masa pada awal Juni, ditopang kenaikan suku bunga BI, meredanya kekhawatiran fiskal, serta pelemahan dolar AS.

Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun turun 52 basis poin dari puncaknya pada Juni. Sedangkan imbal hasil tenor lima tahun yang lebih sensitif terhadap suku bunga turun lebih dalam, yakni 69 basis poin.

Lelang obligasi pemerintah pada pekan lalu juga mendapat permintaan kuat, dengan rasio penawaran terhadap target mencapai 2,65 kali, tertinggi sejak Desember.

Penawaran dari investor asing melonjak menjadi Rp17,2 triliun (USD972 juta), jauh di atas rata-rata tahun ini sebesar Rp8,3 triliun dan menjadi partisipasi asing tertinggi sepanjang tahun ini.

Check Also

Ashmore : Eksternal Memburuk, Domestik Membaik, Aset Indonesia Ikut Perkembangan Domestik.

MarketNews.id-Bursa saham Indonesia mengakhiri sesi perdagangan pekan ketiga Agustus 2026 dengan mencatatkan penguatan IHSG sebesar …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *