MarketNews.id-Bursa saham Indonesia mengakhiri sesi perdagangan pekan keempat Juli, Jumat (24/7), dengan membukukan penurunan tajam IHSG sebesar 1,88% ke level 6.195, namun masih lebih tinggi dibanding penutuapn akhir pekan sebelumnya di posisi 6.175.
Investor asing di pasar saham masih mencatat arus keluar ( foreign outflow ) sebesar USD118 juta sepanjang pekan.
Weekly Commentary PT Ashmore Asset Management Indonesia mencatat beberapa peristiwa penting sepanjang pekan.
Ashmore mencatat, sektor berkinerja terbaik adalah Properti & Real Estat yang melonjak 6,55%, diikuti Energi yang menanjak 4,99%. Sebaliknya, sektor yang tertinggal adalah Kesehatan yang anjlok 2,44% dan Keuangan yang merosot 2,08%.
Aset dengan kinerja terbaik pekan ini adalah harga minyak mentah yang melesat 10,90% dan Indeks CSI300 yang melonjak 2,65%. Di sisi lain, Indeks IDX30 terkoreksi 1,57% dan Indeks Nasdaq melorot 1,50%.
Sorotan utama di dalam negeri adalah keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di 5,75%, yang mengejutkan pasar.
Pasar sebelumnya memperkirakan kenaikan menjadi 6 persen. Bank Indonesia memilih menjaga stabilitas rupiah melalui instrumen lain, bukan dengan menaikkan suku bunga,” tulis Ashmore.
Ashmore menggarisbawahi, pekan ini menjadi periode yang sulit bagi pasar keuangan. Investor menutup pekan dengan sikap yang lebih berhati-hati dibandingkan awal pekan.
Pasar menghadapi dua tekanan sekaligus, yaitu lonjakan tajam harga minyak akibat memanasnya kembali konflik AS-Iran dan laporan keuangan yang mengecewakan dari sejumlah perusahaan teknologi terbesar dunia.
“Menghadapi kombinasi guncangan geopolitik dan kinerja emiten, investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko dan beralih ke aset yang lebih aman,” ungkap Ashmore.
Ashmore melihat, setelah sempat relatif tenang, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat tajam. Washington melanjutkan serangan udara setiap malam, sementara Presiden Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata sebelumnya pada dasarnya telah berakhir.
Harga minyak Brent melonjak hingga menembus USD100 per barel, dari kisaran USD80-an hanya sepekan sebelumnya. “Kenaikan harga minyak meningkatkan biaya di seluruh sektor ekonomi, membuat inflasi tetap tinggi, serta menyulitkan bank-bank sentral yang berharap dapat menurunkan suku bunga,” imbuh Ashmore.
Ashmore berpendapat, bagi negara pengimpor minyak seperti Indonesia, lonjakan harga minyak yang berkepanjangan menjadi hambatan bagi nilai tukar rupiah, inflasi, serta anggaran pemerintah.
Ashmore menilai, sektor yang paling diuntungkan dalam kondisi saat ini adalah saham-saham minyak dan gas, yang menjadi salah satu tema investasi utama dibanding hanya berfokus pada saham teknologi.
Selain itu, sumber energi alternatif beserta komoditas pendukungnya seperti tembaga, litium, dan nikel juga berpotensi mendapat manfaat apabila harga energi konvensional tetap tinggi.
“Indonesia menjadi contoh yang relatif lebih tangguh karena memiliki eksposur yang kecil terhadap saham AI bervaluasi mahal, sementara ekspor batu bara dan minyak sawit yang tetap kuat dapat membantu mengimbangi kenaikan biaya impor minyak,” sebut Ashmore.
Di dalam negeri, Ashmore menyoroti langkah Bank Indonesia yang mengejutkan pasar dengan mempertahankan suku bunga acuan di 5,75%, padahal mayoritas ekonom memperkirakan kenaikan suku bunga untuk menjaga stabilitas rupiah.
Sebagai gantinya, Bank Indonesia memilih mempertahankan rupiah melalui instrumen lain, yaitu menawarkan imbal hasil SRBI yang lebih menarik, melakukan intervensi langsung di pasar, serta menarik kembali aliran dana asing.
Menurut Ashmore, keputusan tersebut cukup berani di tengah lonjakan harga minyak. Namun, rupiah tetap bertahan di bawah Rp18.000 per dolar AS, sejalan dengan keputusan S&P bulan ini yang mempertahankan peringkat kredit dan prospek Indonesia tetap stabil.
“Kondisi tersebut sempat menopang pasar saham domestik sepanjang sebagian besar pekan, dengan IHSG melanjutkan pemulihannya sebelum akhirnya berbalik melemah pada Jumat akibat meningkatnya ketegangan geopolitik dan kenaikan harga minyak yang menekan pasar global,” imbuh Ashmore.
Bagi pasar obligasi pemerintah, suku bunga yang tetap stabil serta nilai tukar yang lebih tenang merupakan kabar baik bagi investor pendapatan tetap. Namun demikian, kenaikan harga minyak masih menjadi risiko utama.
Di pasar sukuk negara berkembang global, Ashmore melihat, harga minyak yang lebih tinggi memberikan dampak yang beragam. Kondisi tersebut memperkuat posisi fiskal negara-negara Teluk, tetapi ketidakpastian pasar dan tingginya suku bunga global membuat penerbitan sukuk baru masih terbatas.
“Secara keseluruhan, kombinasi kenaikan harga minyak dan melemahnya kinerja perusahaan teknologi besar menurunkan minat investor terhadap aset berisiko, yang paling terlihat dari aksi jual luas pada perdagangan Jumat,” sebut Ashmore.
Bagi Indonesia, suku bunga yang tetap stabil dan pemulihan pasar saham sebelumnya memberikan dukungan positif. Namun, pelemahan pasar pada akhir pekan menjadi pengingat bahwa lonjakan harga minyak yang berkepanjangan masih merupakan ancaman terbesar terhadap stabilitas ekonomi.
“Kami tetap mengutamakan perusahaan-perusahaan berkualitas tinggi dengan likuiditas yang baik dibandingkan saham-saham yang sudah terlalu padat dimiliki investor dan memiliki valuasi mahal,” tulis Ashmore.
Ashmore juga manegaskan, tetap menyukai obligasi berkualitas yang mampu memberikan pendapatan yang stabil. Portofolio yang terdiversifikasi di berbagai wilayah dan kelas aset dinilai lebih siap menghadapi gejolak pasar seperti yang terjadi pekan ini.
“Faktor utama yang perlu dicermati pada pekan depan adalah hasil rapat kebijakan Federal Reserve (The Fed), pergerakan harga minyak, serta kelancaran pelayaran melalui Selat Hormuz.” (Ashmore)
MarketNews.id Media Investasi dan Pasar Modal