MarketNews.id- Bursa saham Indonesia menutup sesi perdagangan pekan kedua April 2026, dengan melonjak 2,07% ke level 7.458, jauh melebihi akhir sesi perdagangan pekan lalu di posisi 6.989. Sementara investor asing mencatatkan arus keluar sebesar USD205 juta selama sepekan terakhir.
Weekly Commentary , PT Ashmore Asset Management Indonesia mencatat sektor yang berkinerja terbaik adalah Basic Materials dan Consumer Cyclicals, yang masing-masing melejit +12,44 persen dan +10,97 persen.
Pasar berkinerja terbaik pekan ini adalah Bitcoin (+7,40%) dan Indeks Nikkei (+7,15%). Sebaliknya, terjadi koreksi pada harga minyak mentah (-11,00%) dan harga batu bara (-6,32%).
Di AS, Ashmore mencermati, rilis PMI jasa masih menunjukkan ekspansi, namun melambat dibandingkan bulan sebelumnya, dengan kekhawatiran utama dampak potensi perang berkepanjangan di Iran.
Sementara itu, indikator inflasi pilihan Federal Reserve, yaitu inflasi Core PCE, sesuai dengan ekspektasi pada bulan Februari. Namun, pertumbuhan ekonomi tahunan pada kuartal terakhir 2025 kembali direvisi turun menjadi kuartal terlemah sejak kontraksi pada kuartal I 2025, akibat revisi penurunan pada investasi.
Sedangkan di Indonesia, tingkat kepercayaan konsumen terus menurun secara bertahap sejak puncaknya pada Januari, namun masih lebih baik dari ekspektasi. Sementara itu, cadangan devisa turun ke level terendah sejak Juli 2024 seiring intervensi bank sentral untuk menstabilkan nilai tukar.
Ashmore menilai, pekan ini, pasar mengalami sedikit kelegaan karena perang Iran berpotensi menuju resolusi bertahap dengan diumumkannya gencatan senjata selama dua minggu.
Namun, pasar tidak bereaksi berlebihan karena Selat Hormuz sebagian besar masih tertutup dan rincian pembicaraan damai masih perlu dibahas.
“Selain itu, serangan masih terus terjadi meskipun gencatan senjata telah diumumkan, sehingga pasar melihat rapuhnya kesepakatan sementara tersebut,” tulis Ashmore.
“Setelah pengumuman gencatan senjata, pasar merespons positif dengan harga minyak WTI yang turun tajam dari di atas USD115 menjadi di bawah USD95, namun kemudian kembali bergerak naik secara perlahan dengan harga terbaru mendekati USD100.
“Yang terpenting, harga minyak tetap jauh di atas level sebelum perang karena Selat Hormuz masih efektif tertutup. Faktor utama yang menjaga harga minyak tetap tinggi adalah biaya pengiriman dan asuransi yang masih mahal akibat konflik yang berlangsung,” imbuh Ashmore.
Ashmore juga mencatat, imbal hasil US Treasury tetap sangat sensitif terhadap perkembangan perang Iran, mengingat ketidakpastian terkait eskalasi konflik dan dampak biaya energi yang lebih tinggi dalam jangka panjang. Pada saat penulisan, imbal hasil UST tenor 10 tahun berada di sekitar 4,3%, sementara tenor 2 tahun sekitar 3,8%.
Secara keseluruhan, menurut Ashmore, pasar merasakan sedikit kelegaan setelah kedua pihak menyatakan kesediaan untuk melakukan gencatan senjata. Namun kekhawatiran terhadap inflasi dan operasional Selat Hormuz masih belum sepenuhnya hilang.
Di dalam negeri, Ashmore melihat, rupiah melemah hingga mendekati level 17.000 per dolar AS. Bank Indonesia terus melakukan intervensi untuk mendukung stabilitas mata uang, dengan penekanan kebijakan yang lebih mengutamakan stabilitas sebelum mendorong pertumbuhan.
Otoritas lokal juga terus mendorong reformasi untuk meningkatkan kredibilitas pasar modal, termasuk peningkatan transparansi kepemilikan saham dan konsentrasi pemegang saham.
“Meski demikian, pasar masih menantikan sikap resmi dari penyedia indeks global terkait upaya dan arah kebijakan tersebut,” ungkap Ashmore.
Ashmore berpendapat, secara keseluruhan, volatilitas di pasar global masih tinggi, dan minat pada aset berisiko untuk pekan berikutnya akan dipengaruhi oleh perkembangan pembicaraan damai yang direncanakan di Pakistan.
“Hal-hal penting yang perlu diperhatikan meliputi aktivitas atau tanda-tanda normalisasi di Selat Hormuz, serta sikap masing-masing pihak selama dan setelah pembicaraan damai tersebut,” sebut Ashmore.
Meskipun terdapat harapan, pasar kemungkinan akan tetap volatile dan berhati-hati hingga terdapat kejelasan yang lebih baik mengenai situasi.
“Dalam kondisi saat ini, strategi yang disarankan adalah mempertahankan diversifikasi serta tetap berinvestasi pada aset yang likuid dan berkualitas tinggi.
(Ashmore)
MarketNews.id Media Investasi dan Pasar Modal