MarketNews.- Bursa saham Indonesia mengakhiri sesi perdagangan pekan ini, Jumat (6/3), dengan mencatatkan penurunan IHSG sebesar 1,62% ke 7.586, turun tajam dibanding akhir sesi perdagangan pekan sebelumnya di posisi 8.235.
Namun demikian, investor asing justru mencatatkan arus masuk ekuitas senilai USD147 juta dalam sepekan terakhir.
Weekly Commentary PT Ashmore Asset Manajement Indonesia mencatat beberapa hal penting sepanjang pekan ini, antara lain;
Ashmore mencatat, penurunan IHSG pekan diwarnai kejatuhan sektor Consumer Cyclicals dan Transportation & Logistics masing-masing sebesar -14,73% dan -12,05%.
Kinerja terbaik pekan ini berasal dari harga minyak mentah (+18,49%) dan harga batu bara (+13,29%), sementara itu terjadi koreksi pada Indeks IHSG (-7,89%) dan Indeks LQ45 (-6,99%).
Sektor jasa juga mengalami gangguan dan mencatat kontraksi untuk bulan kedua berturut-turut.
Di sisi lain, Indonesia mencatat inflasi utama yang lebih tinggi dari perkiraan, mencapai level tertinggi sejak Maret 2023 akibat efek basis rendah berupa diskon tarif listrik pada awal 2025. Sementara itu, surplus perdagangan turun di bawah ekspektasi menjadi yang terendah sejak April tahun lalu karena impor meningkat sementara ekspor tumbuh moderat.
Ketegangan Timur Tengah dan guncangan harga minyak
Ashmore menggarisbawahi, fokus utama global pada pekan ini tertuju pada perang di Iran yang mengalami eskalasi signifikan pada 28 Februari dengan dimulainya “Operation Epic Fury”. AS dan Israel meluncurkan serangan besar terkoordinasi ke berbagai wilayah Iran yang menargetkan sistem pertahanan serta jajaran pimpinan senior.
Serangan tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran dan memicu serangan balasan Iran ke wilayah Teluk yang bersekutu dengan AS serta berbagai pangkalan militer AS.
Harga komoditas energi melonjak pekan ini akibat gangguan pasokan dan jalur perdagangan.
“Meskipun sentimen risiko global melemah, aset safe haven tradisional mencerminkan kekhawatiran yang lebih dalam dengan imbal hasil obligasi pemerintah AS meningkat karena kekhawatiran terhadap risiko inflasi (UST10Y dan UST2Y naik 22 bps masing-masing menjadi 4,16% dan 3,60% pada pekan ini).
Sementara itu, emas tetap bertahan di sekitar level 5.100 meskipun masih berada di bawah level sebelum konflik,” tulis Ashmore.
Menurut Ashmore, jika melihat lebih dalam konflik ini, eskalasi awal pada dasarnya menyebabkan hilangnya kepemimpinan dan posisi kunci di Iran, namun dampak terbesar terhadap pasar global terjadi melalui Selat Hormuz yang menjadi medan pertarungan ekonomi.
Serangan terhadap kapal komersial di selat tersebut membuat operator besar menghentikan aktivitas di wilayah tersebut serta meningkatkan biaya asuransi.
Selat Hormuz sangat penting bagi pasokan komoditas energi global dan menyumbang sekitar 20% dari perdagangan minyak dan LNG dunia.
“Berdasarkan perkiraan, gangguan berkepanjangan dapat mendorong harga minyak hingga USD100 per barel dan LNG menuju USD25 per MMBtu, tergantung pada lamanya konflik ini. Meskipun selat tersebut tidak secara hukum ditutup, aktivitas perdagangan secara efektif terhenti hingga situasi menjadi lebih kondusif bagi bisnis,” imbuh Ashmore.
Ashmore berpendapat, meskipun kepentingan AS dan Israel mungkin tidak sepenuhnya sejalan dalam konflik ini, terdapat alasan bagi AS untuk menginginkan konflik berakhir lebih cepat. Inflasi tetap menjadi faktor kunci dalam tingkat persetujuan presiden, mengingat inflasi merupakan faktor paling signifikan yang menyebabkan ketidakpuasan warga Amerika terhadap pemerintahan Biden.
“Lonjakan harga minyak baru-baru ini mulai berdampak nyata bagi masyarakat AS dengan harga bensin melonjak signifikan dari titik terendahnya pada awal Januari (sekitar kenaikan +59%) dan mencapai level yang terakhir terlihat sekitar April 2024. Kekhawatiran inflasi ini mendorong kenaikan imbal hasil obligasi AS meskipun sentimen pasar cenderung menghindari risiko, dan pemerintahan Trump kemungkinan ingin menjaga inflasi tetap terkendali menjelang pemilu paruh waktu,” papar Ashmore.
Di sisi domestik, Ashmore melihat, Bursa Efek Indonesia bersama KSEI telah merilis daftar pemegang saham dengan kepemilikan minimal 1% (sebelumnya batas minimal 5%) untuk saham perusahaan publik sebagai bagian dari komitmen otoritas Indonesia untuk meningkatkan transparansi di pasar modal.
“Meskipun belum ada tanggapan resmi dari penyedia indeks global, kami percaya upaya dan hasil yang berkelanjutan akan mengurangi kekhawatiran yang masih ada dari investor global. Kami terus memantau perkembangan dan masih menunggu pengungkapan Ultimate Beneficiary Owners serta rincian yang lebih detail mengenai tipe investor dan pada akhirnya daftar konsentrasi pemegang saham,” ungkap Ashmore.
Secara keseluruhan, Ashmore menilai pasar global tetap sangat volatil dalam kondisi saat ini, dengan tema utama seperti geopolitik – yang terus membawa ketidakpastian dan pasar tetap sensitif terhadap berita utama.
Ashmore tetap merekomendasikan posisi pada aset defensif, di tengah volatilitas tinggi, seperti obligasi pemerintah berdurasi pendek dengan likuiditas yang kuat.
“Strategi pengelolaan aktif sangat penting terutama untuk saham guna mengurangi risiko sambil tetap memanfaatkan peluang di mana reksadana kami dapat mengambil posisi taktis pada sektor energi dan komoditas,” sebut Ashmore.
Ashmore baru-baru ini juga meluncurkan strategi investasi luar negeri pada saham Global Emerging Market dan sukuk yang diyakini dapat melengkapi portofolio investor dengan keseimbangan diversifikasi dan imbal hasil yang kuat.
Untuk investasi domestik, kami tetap berpegang pada filosofi investasi kami, yaitu memilih emiten dengan fundamental kuat yang didukung valuasi wajar dan likuiditas yang baik.
MarketNews.id Media Investasi dan Pasar Modal