Home / Otoritas / Bursa Efek Indonesia / Pefindo Proyeksi Yield Obligasi Turun Ke Level 5,7 Persen Di 2026

Pefindo Proyeksi Yield Obligasi Turun Ke Level 5,7 Persen Di 2026

MarketNews.id-PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menargetkan penerbitan efek bersifat utanga dan Sukuk (EBUS) berada dikisaran Rp154 triliun hingga Rp196,66 triliun, dengan titik tengah Rp175,77 triliun. Target ini jadi lebih rendah dibandingkan dengan proyeksi realisasi pada 2025.

Salah satu faktor pendorong penerbitan EBUS pada tahun ini adalah kebutuhan refinancing yang masih tinggi. Setidaknya sepanjang tahun ini diprediksi ada surat utang jatuh tempo sekitar Rp162,72 triliun.

Pefindo memproyeksikan yield obligasi turun ke 5,7% pada 2026, didorong pemangkasan suku bunga BI dan peningkatan penerbitan surat utang pemerintah.

Pefindo memprediksi, yield obligasi acuan akan kembali menguat setelah sentimen dari outlook negatif Moody’s Ratings terhadap kondisi kredit Tanah Air menekan imbal hasil ke level 6,44% beberapa hari belakangan.

Kepala Divisi Riset Pefindo Suhindarto menilai, salah satu peluang kembali melandainya yield acuan datang dari ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Bank Indonesia pada tahun ini. Selepas BI secara agrefis memangkas suku bunga pada tahun lalu, Pefindo kini memprediksi BI akan memangkas suku bunga sebanyak 2 kali.

“Yang mana kalau itu terjadi, maka tren untuk yield di pasar juga akan relatif mengalami penurunan terus dibandingkan tahun lalu. Kami bisa sebutkan angkanya [yield] di kisaran 5,7-6,2%. Tapi ini juga bergantung pada besarnya pemangkasan suku bunga acuan BI,” katanya dalam konferensi pers Pefindo, Rabu 11 Februari 2026.

Selain itu, Pefindo juga memprediksi penurunan yield bakal disebabkan oleh kebutuhan pendanaan pemerintah selepas defisit fiskal pada tahun lalu sempat hampir menyentuh level kritis 3%. Pada tahun ini, Pefindo memprediksi penerbitan surat utang pemerintah akan terus berlanjut sehingga mampu memberikan supply surat utang pemerintah cukup besar di pasar.

“Jika akhirnya pasokan [surat utang] berlebih, bisa jadi yield-nya cenderung turun, meskipun suku bunganya diturunkan sesuai dengan ekspektasi tadi,” tambahnya.

Pefindo juga memandang daya tarik obligasi korporasi di pasar cenderung positif. Terutama di tengah volatilitas pasar saham belakangan, Suhindarto menilai pasar obligasi korporasi cenderung menawarkan yield yang cukup kompetitif dengan tingkat volatilitas yang rendah.

Suhindarto menilai, daya tahan pasar obligasi korporasi di tengah volatilitas pasar sebetulnya berada pada kondisi yang cukup baik, melanjutkan tren yang sama pada tahun lalu.

“Maka sebenarnya, obligasi korporasi memiliki keunggulan di sisi returrn dibandingkan pasar surat utang pemerintah. Kemudian secara stabilitas, dia juga lebih stabil bagi investor dibandingkan dengan pasar saham,” tambahnya.

Pada tahun ini, Pefindo menargetkan penerbitan efek bersifat utang dan sukuk (EBUS) berada pada kisaran Rp154 triliun hingga Rp196,66 triliun, dengan titik tengah Rp175,77 triliun. Target ini lebih rendah dibandingkan dengan proyeksi realisasi pada 2025.

Salah satu faktor pendorong penerbitan EBUS pada 2026 adalah kebutuhan refinancing yang masih tinggi. Pefindo memprediksi terdapat surat utang jatuh tempo senilai Rp162,72 triliun pada tahun ini.

Check Also

Presiden Prabowo Berikan 90.000 Hektare Izin Pemanfaatan Hutan Untuk Konservasi Gajah Sumatera

MarketNews.id- Pemerintah menyiapkan langkah baru untuk menyelamatkan populasi gajah di Indonesia yang kian terdesak.Salah satu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *