Home / Otoritas / Bursa Efek Indonesia / Pemerintah Targetkan Terbitkan SBN Ritel Sebanyak 8 Kali Dengan Terget Rp170 Triliun

Pemerintah Targetkan Terbitkan SBN Ritel Sebanyak 8 Kali Dengan Terget Rp170 Triliun

MarketNews.id-Surat Berharga Negara (SBN) Ritel, sebagai produk investasi milik negara yang diterbitkan Pemerintah Indonesia, jadi salah satu alat investasi buat individu WNI dengan modal terjangkau mulai Rp1 juta.

SBN Ritel setiap tahunnya diterbitkan hingga 8-10 kali dalam satu tahun.
Untuk tahun 2026, Pemerintah menargetkan akan terbitkan SBN Ritel sebanyak 8 kali dengan nilai Rp150 Triliun hingga Rp170 Triliun.

Pemerintah berencana menerbitkan Surat Berharga Negara (SBN) ritel, sebanyak delapan kali pada tahun ini dengan target berkisar Rp150 triliun hingga Rp170 triliun.

Pelaksana Tugas Direktur Surat Utang Negara (SUN) Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan Novi Puspita Wardani di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin 26 Januari 2026 menjelaskan, pemerintah umumnya tidak menetapkan angka pasti dan hanya menggunakan rentang angka untuk target penerbitan SBN.

Tahun lalu, pemerintah menargetkan angka Rp150 triliun hingga Rp170 triliun dan terealisasi sebesar Rp153 triliun.

“Tahun ini berapa? Saya sampaikan sekitar Rp150 triliun hingga Rp170 triliun,” kata Novi.

Secara rinci, penawaran SBN ritel sepanjang 2026 adalah sebagai berikut:

Obligasi Ritel Negara (ORI) ORI029: 26 Januari–19 Februari 2026
Sukuk Ritel (SR) SR024: 6 Maret–15 April 2026
Sukuk Tabungan Negara (ST) ST016: 8 Mei–3 Juni 2026
ORI030: 6–30 Juli 2026
SR025: 21 Agustus–16 September 2026
SWR007: 4 September–21 Oktober 2026
SBR015: 28 September–22 Oktober 2026
ST07: 6 November–2 Desember 2026.

Novi menyatakan jadwal tersebut bersifat tentatif, namun tetap bisa menjadi acuan para investor untuk mempersiapkan dana. “Jadwalnya tentatif. Tapi biasanya, kalaupun bergeser, ya geser satu-dua hari saja,” tambah Novi.

Dia memastikan penawaran SBN ritel tersedia hampir sepanjang tahun, dengan jeda antar penerbitan yang relatif pendek sekitar 1 sampai 2 minggu.

Pola ini membuka ruang bagi investor untuk merencanakan pembelian secara bertahap sesuai kebutuhan likuiditas.

Selain pasar perdana, tambah Novi, investor juga dapat bertransaksi di pasar sekunder untuk seri SBN ritel yang dapat diperdagangkan (tradable).

Seri tradable seperti ORI dan Sukuk Ritel, misalnya, dapat dibeli di pasar sekunder apabila investor tidak sempat mengikuti masa penawaran di pasar perdana.

M Rizki A

Check Also

IFG Apresiasi Kinerja Jamkrindo, Dorong UMKM Naik Kelas Secara Berkelanjutan

MarketNews.id- Indonesia Financial Group (IFG), mengapresiasi kinerja PT Jaminan Kredit Indonesia (Jamkrindo) sepanjang 2025 yang …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *