MarketNews.id-Ekonom OCBC Lavanya Venkateswaran dan Ahmad A Enver, memperkirakan defisit fiskal RI akan melebar ke sekitar 2,8 persen dari PDB, melampaui target pemerintah 2,68 persen, akibat lemahnya penerimaan dan tingginya belanja.
Sementara pertumbuhan ekonomi diperkirakan melambat jadi 4,8 persen pada 2026, dengan penopang utama dari kebijakan moneter dengan potensi penurunan suku bunga BI sebesar 50 persen.
Para ekonom OCBC memperkirakan program-program unggulan, khususnya program makan bergizi gratis, akan terus menekan belanja pemerintah pusat.
Pertumbuhan penerimaan negara juga berpotensi mengecewakan di tengah prospek ekonomi yang lebih lunak dan penerimaan pajak yang masih lemah, sebut mereka seperti dikutip Dow Jones Newswires, Jumat 9 Januari 2026.
Selain itu, OCBC juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan melambat menjadi 4,8% pada 2026, dari estimasi 5,0% pada 2025.
Mereka berpendapat, dengan dukungan kebijakan fiskal yang terbatas, pertumbuhan ekonomi Indonesia dinilai akan lebih bergantung pada kebijakan moneter. Penurunan suku bunga diperkirakan akan berlangsung bertahap akibat tekanan terhadap rupiah.
OCBC memperkirakan Bank Indonesia akan memangkas suku bunga sebesar total 50 basis poin dalam siklus pelonggaran saat ini.
MarketNews.id Media Investasi dan Pasar Modal