Home / Otoritas / Bursa Efek Indonesia / BEI Telusuri Asal Muasal Klaim Free Float Saham TRIN Jadi 22,26 Persen

BEI Telusuri Asal Muasal Klaim Free Float Saham TRIN Jadi 22,26 Persen

MarketNews.id-Ketentuan Free Float saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) minimal masih 7,5 persen di pegang oleh investor publik, masih berlaku hingga saat ini. Sayangnya, masih ada emiten yang belum memenuhi ketentuan free float 7,5 persen ini.

Ketentuan ini rencananya akan ditingkatkan jadi sekitar 10 persen agar makna sebagai perusahaan publik lebih terlihat dibanding perusahaan non publik atau privat.

Selain itu, peningkatan free float diharapkan saham perusahaan akan semakin likuid dan diharapkan mekanisme pasar otomatis terbentuk terhadap saham tersebut.

Sementara itu, PT Perintis Triniti Properti Tbk (TRIN) perusahaan properti milik Rahayu Saraswati mengumumkan bahwa TRIN saat ini memiliki posisi saham yang dikuasai oleh publik telah naik dari 13,59 persen jadi 22,26 persen.

Peningkatan free float ini, jadi perhatian BEI untuk meminta penjelasan asal usul kenaikan free float jadi 22,26 persen.

PT Bursa Efek Indonesia (BEI), mencecar klaim PT Perintis Triniti Properti Tbk (TRIN) terkait saham free float perseroan yang melonjak dari 13,59 persen di akhir November 2025 menjadi 22,26 persen per 31 Desember 2025.

Kenaikan tajam dalam waktu singkat itu memicu BEI untuk menguliti satu per satu sumber saham yang diklaim sebagai milik publik, termasuk kepemilikan entitas yang beririsan dengan keponakan Presiden Prabowo Subianto, Rahayu Saraswati yang juga merupakan Komisaris Utama TRIN.

Melalui permintaan penjelasan lanjutan tertanggal 19 Januari 2026, BEI mempertanyakan dasar penghitungan free float TRIN, terutama dengan masuknya saham milik PT Raksaka Satya Devya (4%) dan PT Rada Saraswati Surya (1%) ke dalam kategori saham publik.

Dua entitas tersebut diketahui berkaitan langsung dan tidak langsung dengan Rahayu Saraswati, sehingga memunculkan pertanyaan krusial dari BEI kepada TRIN perihal kebenaran pemenuhan kriteria free float atau sekadar berpindah tangan secara teknis tetapi tetap berada dalam lingkar pengaruh pengendali.

Menyoal permintaan penjelasan dari BEI, manajemen TRIN menyatakan bahwa kenaikan free float terutama berasal dari peningkatan kepemilikan masyarakat dengan porsi di bawah 5 persen, yang bertambah sebanyak 338.587.933 lembar dibanding sebelumnya.

“Sehingga, per 31 Desember 2025 jumlah kepemilikan saham masyarakat dengan kepemilikan di bawah 5% menjadi 1.183.417.400 lembar saham dan berdampak pada meningkatnya saham free float perseroan,” demikian disampaikan manajemen TRIN.

Manajemen menyebutkan, saham yang dimiliki Raksaka dan Rada bersifat minoritas, tidak disertai hak khusus, tidak dibatasi peredarannya dan tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap pengelolaan perusahaan.

Dengan demikian, TRIN menilai hal itu memenuhi kriteria free float sesuai ketentuan BEI meskipun terdapat keterkaitan tidak langsung dengan Rahayu.

Selain itu, BEI juga menelusuri asal-usul penurunan kepemilikan saham pengendali utama, PT Kunci Daud Indonesia dan PT Intan Investama Internasional yang total porsinya menyusut dari 72,07 persen pada akhir November 2025 menjadi 63,07 persen per 15 Januari 2026.

Penurunan tersebut, menurut penjelasan manajemen TRIN, diakibatkan pelepasan saham kepada Raksaka, Rada dan masyarakat dengan harga transaksi Rp200 per saham, seluruhnya memiliki label tujuan investasi.

M Rizki A

Check Also

Bank BNI Catatkan Pertumbuhan kredit Sebesar 15,9 Persen Dengan Laba Bersih Rp 20 Triliun Di 2025

MarketNews.id-Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), catat kinerja positif sepanjang 2025 lalu. Kredit tumbuh hingga 15,9 …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *