MarketNews.id-Meski tahun 2025 lalu perekonomian alami tantangan, PT Autopedia Sukses Lestari Tbk (ASLC) konsisten catat kinerja positif hingga kuartal III 2025.
Pendapatan perseroan per September 2025 alami pertumbuhan hingga 15 persen menjadi Rp713 Miliar.
ASLC optimistik tahun 2026 akan lebih baik dari tahun lalu. Penjualan mobil bekas diharapkan akan terus naik di 2026 sejalan dengan baiknya daya beli masyarakat.
PT Autopedia Sukses Lestari Tbk (ASLC) mencatat kinerja positif sepanjang 2025 dengan pertumbuhan pendapatan 15% year-on-year (YoY) menjadi Rp713 miliar per kuartal III.
Dari total pendapatan tersebut, lini bisnis lelang JBA menyumbang Rp201,8 miliar dengan volume lelang lebih dari 92 ribu unit, menunjukkan stabilitas bisnis dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Direktur ASLC, Armeza Farhansyah Umar menegaskan bahwa target pertumbuhan tetap difokuskan pada unit bisnis jual beli mobil bekas melalui platform Caroline.id yang diharapkan mencatat kenaikan volume dan pendapatan dua digit.
“Untuk JBA, pertumbuhannya tidak sebesar mobil bekas, karena kondisi pasar lelang relatif lebih rendah dibandingkan segmen mobil bekas,” ujar Armeza dalam konferensi pers di kantor cabang JBA Jakarta Raya, Selasa (27/1).
Perseroan tengah menyiapkan ekspansi cabang baru pada 2026, meski dengan skala lebih terbatas dibandingkan tahun sebelumnya. Jika pada 2025 ASLC membuka 4-6 cabang dan menutup tahun dengan total 18 cabang, maka pada 2026 perusahaan hanya merencanakan pembukaan 2-3 cabang baru dengan alokasi dana Rp14-20 miliar.
Armeza menjelaskan, keterlambatan ekspansi cabang pada 2025 disebabkan oleh tantangan pencarian lokasi. “Awalnya target kami 20 cabang, namun realisasi hanya 18.
Tahun ini kami melanjutkan target yang belum tercapai, sambil menyesuaikan dengan kondisi pasar,” katanya.
Armeza menegaskan bahwa manajemen optimistis terhadap peluang besar di industri mobil bekas.
Menurutnya, ekosistem yang dimiliki ASLC sangat lengkap dari hulu ke hilir sehingga memberi keunggulan kompetitif, terutama di segmen mobil fast moving.
“Pasar mobil baru stagnan karena harga tinggi, sehingga konsumen bergeser ke mobil bekas. Melalui JBA, konsumen bisa mendapatkan harga transparan,” jelasnya.
Meski demikian, tantangan daya beli masih membayangi.
Pada 2025, penurunan daya beli membuat persetujuan kredit dari perusahaan pembiayaan lebih sulit.
Namun, ASLC berharap kondisi ekonomi yang lebih stabil pada 2026 akan mendorong pemulihan daya beli dan meningkatkan approval kredit.
“Sekitar 50-60 persen konsumen Indonesia membeli kendaraan dengan kredit. Kami berharap tahun ini situasi lebih baik dibandingkan 2024,” tambah Armeza.
Dengan kombinasi pertumbuhan keuangan, strategi ekspansi cabang, dan optimisme terhadap pasar mobil bekas, ASLC menargetkan kinerja yang lebih solid di tahun 2026.
M Rizki A
MarketNews.id Media Investasi dan Pasar Modal