MarketNews.id- Regulator diminta menimbang pilihan meliburkan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), pada saat kondisi keamanan dan sosial politik penuh gejolak seperti terjadi belakangan di Indonesia.
Pendiri Stocknow, Hendra Wardana mengatakan menutup bursa bukan tanda kelemahan, melainkan strategi manajemen risiko yang bijak. Investor tidak hanya butuh akses perdagangan, tetapi juga kepastian stabilitas.
“Stabilitas itu hanya bisa hadir bila pemerintah berani menyelesaikan isu mendasar seperti RUU Perampasan Aset, serta sungguh-sungguh mendengar aspirasi rakyat di tengah kondisi ekonomi yang sedang sulit,” beber dia kepada media, Minggu 31 Agustus 2025.
Ia bilang dalam situasi sosial-politik yang kian memanas, wacana penutupan sementara perdagangan bursa saham layak dipertimbangkan. Pada perdagangan Jumat (29/8), IHSG sempat anjlok hingga menyentuh level terendah 7.765 sebelum akhirnya ditutup melemah 1,53 persen di posisi 7.830.
Koreksi tajam ini mencerminkan kepanikan pasar yang lebih dipicu faktor domestik ketimbang global. Investor menghadapi risiko kerugian bukan karena melemahnya fundamental ekonomi, tetapi akibat ketidakpastian politik yang semakin membesar.
Jika bursa tetap dipaksa buka, aksi jual berlebihan (panic selling) bisa semakin dalam dan merugikan banyak investor, terutama ritel,” ingat dia.
Mekanisme trading halt menurut dia memang bisa menahan penurunan sejenak, tetapi belum cukup menenangkan pasar di tengah kondisi politik yang belum kondusif.
“Menutup bursa sementara waktu justru memberi ruang bagi investor untuk bernapas, sekaligus mencegah kerugian lebih besar akibat kepanikan. Langkah serupa juga pernah diambil di berbagai negara saat menghadapi guncangan politik atau krisis keuangan,” papar Hendra.
Ia beralasan masalah utama bukan sekadar teknis perdagangan, melainkan ketidakpastian kebijakan. Salah satu isu paling disorot adalah RUU Perampasan Aset yang sejak lama dijanjikan namun tak kunjung diselesaikan.
Alih-alih menuntaskan regulasi penting bagi pemberantasan korupsi dan kepastian hukum, DPR justru ramai dengan pembahasan tunjangan fantastis yang melukai rasa keadilan masyarakat. Bagi pasar, hal ini menimbulkan kesan buruk: wakil rakyat lebih fokus pada kepentingan pribadi daripada memberikan arah kebijakan yang jelas,” beber Hendra.
Menurut dia secara teknikal, bila perdagangan tetap berlanjut, IHSG masih berpotensi kembali melemah menguji level psikologis 7.800. Apabila level ini mampu dipertahankan, peluang rebound jangka pendek tetap terbuka.
Namun, jika level 7.800 kembali tertembus, maka IHSG berisiko melanjutkan koreksi menuju support berikutnya di kisaran 7.648.
“Level ini akan menjadi penentu penting apakah pasar mampu bertahan atau justru semakin tertekan oleh aksi jual lanjutan. Dengan volatilitas yang tinggi, risiko bagi investor ritel semakin besar jika tidak ada jeda untuk menenangkan psikologis pasar,” taksir dia.
Lebih lanjut dia menekankan dengan penutupan bursa sementara bisa menjadi sinyal bahwa pemerintah serius menjaga stabilitas, sekaligus memberi waktu untuk meredam eskalasi politik dengan membuka dialog dan menuntaskan isu-isu fundamental seperti RUU Perampasan Aset.
“Tanpa langkah ini, risiko capital outflow akan semakin besar, rupiah makin tertekan, dan investor asing melihat Indonesia sebagai negara dengan risiko politik tinggi.” Ingat dia.
Sedangkan bagi investor penutupan bursa justru bisa menjadi bentuk perlindungan agar tidak terbawa arus emosi pasar.
“Dengan waktu jeda, mereka dapat mengevaluasi portofolio secara rasional, menimbang strategi, dan menunggu kepastian. Ketika pasar kembali dibuka dalam suasana lebih kondusif, peluang technical rebound bisa lebih sehat karena didorong kepercayaan, bukan sekadar spekulasi sesaat.” Pungkas Hendra.
Abdul Segara
MarketNews.id Media Investasi dan Pasar Modal