Home / Otoritas / Bursa Efek Indonesia / IPOT Prediksi, IHSG Maksimal Capai 7.600 Hingga Akhir Tahun 2024

IPOT Prediksi, IHSG Maksimal Capai 7.600 Hingga Akhir Tahun 2024

MarketNews.id-Indo Premier Sekuritas (IPOT), menilai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan ditutup pada level 7.500 – 7.600 pada akhir tahun ini.

Equity Analyst IPOT, Dimas Krisna Ramadhani meyakini, apabila IHSG berhasil bertahan di atas level 7.250 yang merupakan level batas bawah terdekat maka IHSG berpotensi untuk terus menguat hingga ke level 7.500-7.600 pada akhir tahun ini.

“Mengingat kenaikan terjadi di saham-saham konglomerat yang berada di dalam top 10 kapitalisasi pasar IHSG maka peluang penguatan lanjutan juga cukup terbuka lebar di saham-saham tersebut pada momentum window dressing saat ini,” jelasnya.

IHSG pada pekan lalu ternyata masih tersandera 2 top losers, yakni IDX Transport dan IDX Consumer Cyclicals.

IDX Transport melemah 1,3 persen dalam sepekan kemarin, dimana sektor transportasi menjadi sektor yang seharusnya mendapatkan keuntungan atas kebijakan pemerintah dalam menurunkan harga tiket pesawat pada periode Nataru tahun ini, namun rupanya pelaku pasar belum merespon kebijakan tersebut dengan positif terhadap sektor ini.

Sementara itu, IDX Consumer Cyclicals dalam sepekan kemarin turun sedalam 0,9 persen dan menjadi sektor yang mengalami rotasi dalam menjaga pergerakan IHSG. Pelemahan yang terjadi pada sektor ini juga disebabkan minimnya sentimen.

Laju positif IHSG pada pekan lalu tertopang 2 top gainers yakni IDX Energy dan IDX Infrastructure. IDX Energy menguat 4,5 persen dalam sepekan kemarin yang disebabkan oleh kenaikan saham ADRO sebesar 10,6 persen.

ADRO berhasil balik arah ke zona hijau dari area batas bawah pasca ex-date dividennya. Pergerakan ADRO juga dipengaruhi oleh sentimen aksi korporasi yaitu listingnya AADI yang merupakan anak perusahaan ADRO.
AADI berhasil ditutup di level ARA pada 2 hari pertama sejak listing di bursa.

Sementara itu, IDX Infrastructure dalam sepekan kemarin naik sebesar 4,3 persen yang disebabkan oleh kenaikan saham BREN sebesar 28 persen selama periode yang sama. BREN menguat setelah menyampaikan keterbukaan informasi mengenai rencana emiten untuk membagikan dividen interim kepada pemegang sahamnya.

BREN berencana untuk membagikan dividen interim sebesar Rp506 miliar atau Rp3 per lembar saham. Adapun jadwal pembagian dividen cum-date dividen: 11 Desember 2024, ex-date dividen: 12 Desember 2024 dan pembayaran dividen: 20 Desember 2024.

Pada perdagangan Jumat kemarin BREN juga menjadi saham yang paling banyak diakumulasi oleh investor asing, dimana investor asing melakukan pembelian di saham BREN sebesar Rp128 miliar di pasar regular.

Mencermati potensi market pada sepekan kedepan 9-13 Desember 2024, Dimas mengimbau para investor untuk memerhatikan tiga sentimen yang bakal mempengaruhi market, yakni inflasi tahunan AS bulan November, PPI bulanan AS (November) dan dimulainya momentum window dressing.

Pertama, terkait sentimen inflasi tahunan AS bulan November, pada Rabu pekan ini inflasi tahunan AS bulan November diprediksi akan mengalami kenaikan di level 2,7%. Capaian ini lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang mencatatkan inflasi sebesar 2,6%, namun masih berada di dalam rentang yang sama dalam 4 bulan terakhir.

“Jika kita lihat dari target yang ditetapkan The Fed yaitu inflasi sebesar 2% di 2024 maka data inflasi November apabila sesuai dengan konsensusnya, masih sejalan untuk semakin mendekati target inflasi yang ditetapkan The Fed tersebut. Namun demikian, Jerome Powell selaku Gubernur The Fed sudah memberikan sinyal terhadap pemangkasan suku bunga yang akan terjadi dalam waktu dekat pada pertemuan sebelumnya.”

Kedua, sentimen PPI bulanan AS (November). Sehari setelah rilis inflasi, AS juga merilis dari sisi produsen. PPI bulanan AS November diprediksi mengalami kenaikan atau mencatatkan inflasi sebesar 0,3 persen. Apabila data konsensus benar maka capaian bulan ini lebih tinggi dari bulan sebelumnya dan merupakan capaian tertinggi sejak Juli lalu.

“Diketahui, indikator ini sempat menimbulkan kekhawatiran bagi pelaku pasar dan pemangku kebijakan, karena mengalami penurunan yang konsisten dalam beberapa bulan terakhir sehingga kekhawatiran terhadap kemungkinan perlambatan ekonomi AS bahkan resesi sempat ramai dibicarakan.

Akan tetapi, setelah kemenangan Trump dalam Pilpres kemarin yang salah satu kebijakan ekonominya adalah menurunkan tarif pajak penghasilan dan usaha serta akan memperkuat posisi keuangan perusahaan di AS maka kekhawatiran terhadap terjadinya pelemahan atau resesi ekonomi AS sudah mulai surut.”

Ketiga, sentimen dimulainya momentum window dressing. Jika dilihat pada teknikal IHSG yang berhasil ditutup di atas MA20 daily pada 4 Desember lalu maka ini merupakan indikasi pembalikan trend yang terjadi di IHSG.

Terakhir kali IHSG ditutup di atas MA20-nya terjadi pada 25 Oktober silam dan sejak saat itu pergerakan IHSG terus tertekan hingga ke level 7.041 dan menjadi level terendahnya sejak Juli lalu.

“Jika kita lihat dari data foreign flow juga, akhirnya investor asing mencatatkan pembelian bersih di pasar regular pada 3-4 Desember kemarin. Aliran dana asing yang masuk ke IHSG terakhir terjadi pada awal November, yang artinya selama November investor asing konsisten melakukan distribusi di saham-saham IHSG dan saat ini sudah kembali melakukan pembelian,” jelas Dimas.

Jika melihat nominal arus modal asing pada 3-4 Desember kemarin yang terbilang masih sedikit, maka perlu melihat konsistensi dan agresivitas investor asing masuk kembali ke IHSG di tengah momentum window dressing tahun ini.

Abdul Segara

Check Also

BRI Danareksa Sekutitas : Kenaikan Harga BBM Non Subsidi Hanya Berdampak Terbatas Pada Inflasi

MarketNews.id- Kenaikan harga BBM nonsubsidi diperkirakan hanya menimbulkan tekanan inflasi yang terbatas. Riset BRI Danareksa …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *