Home / Korporasi / BUMN / PT Indofarma Targetkan Pertumbuhan Pendapatan Dua Digit Di 2022

PT Indofarma Targetkan Pertumbuhan Pendapatan Dua Digit Di 2022

Marketnews.id Melandainya kasus pendemi Covid-19 membuat melandai pula kinerja industri farmasi. Bahkan beberapa industri farmasi mengalami negative growth. Meskipun begitu, PT Indofarma sebagai Holding BUMN Farmasi tetap optimistik tahun 2022 mendatang akan meraih kinerja positif bahkan diproyeksikan capai dua digit angka pertumbuhan.

Tahun depan PT Indofarma Tbk (INAF) optimistis membidik pertumbuhan dua digit melalui pengembangan produk dan bisnis baru.


Menurut Direktur Utama INAF, Arief Pramuhanto, perseroan merencanakan penambahan lini bisnis baru seperti alat kesehatan dan obat herbal.

Selain itu, penyediaan alat kesehatan dan obat-obatan juga akan melibatkan kerja sama operasi (KSO) dengan rumah sakit baik milik pemerintah maupun swasta.

“Jadi tidak harus jual-beli, tapi kami bisa dalam bentuk KSO dan bisnis-bisnis baru yang akan kami kembangkan tentunya yang related dengan industri farmasi,” jelasnya seperti dikutip acara  Bisnis , Selasa, 30 Nopember 2021.


Arief menambahkan, penjualan obat sepanjang tahun ini diperkirakan tumbuh sekitar 15 persen. Tren penurunan kasus Covid-19 menurutnya berdampak pada kinerja penjualan meski tak signifikan.

Tapi selama pandemi Covid-19, industri farmasi justru mengalami penurunan pertumbuhan. Penjualan obat dan alat kesehatan terkait Covid-19 membantu menopang kinerja industri.


Sedangkan penjualan obat non Covid, meski terjadi peningkatan, tetapi nilainya juga tidak besar. “Secara industri, farmasi masih negatif growth. Kami di Indofarma beruntung tidak mengalami negative growth,” tambah Aref.


Terkait hal itu Direktur Industri Kimia Hilir dan Farmasi Kemenperin, Muhammad Taufiq sebelumnya mengatakan, industri farmasi masih akan terus bertumbuh di tengah tren penurunan kasus Covid-19 di Tanah Air.

“Diperkirakan [industri kimia, farmasi, dan obat tradisional] masih akan terus tumbuh di masa depan. Proyeksi ini berdasarkan fakta kebutuhan obat di dalam negeri saat ini sudah dipenuhi oleh industri farmasi di dalam negeri,” ujarnya.


Taufiq juga mengatakan sekitar 76 persen kebutuhan obat telah mampu disuplai oleh industri farmasi domestik. Sedangkan 24 persen sisanya yang masih diimpor merupakan obat-obat paten dan berteknologi tinggi.

Check Also

OJK Minta Perbankan Percepat Pembentukan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN)

Marketnews.id Perlahan tapi pasti, kinerja perbankan nasional sejak hadirnya pendemi Covid-19 dua tahun lalu berangsur …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *