Home / Otoritas / Bank Indonesia / Presiden Jokowi : Indonesia Hadapi Tiga Masalah Serius Terkait Kebutuhan Dasar

Presiden Jokowi : Indonesia Hadapi Tiga Masalah Serius Terkait Kebutuhan Dasar

Marketnews.id Buat dunia usaha, arahan dan amanat Presiden Joko Widodo pada acara Musyawarah Pembangunan Nasional (Musrenbangnas) 2021 harus jadi tantangan agar apa yang diharapkan oleh Presiden dapat diatasi.

Seperti diketahui, saat ini bangsa Indonesia sedang menghadapi tiga masalah krusial. Pertama soal kesehatan dan turunannya. Kedua sektor energi dan ketiga sektor pangan. Ketiga sektor usaha ini bisa jadi acuan buat dunia usaha untuk lebih fokus dan serius mengembangkan bisnis yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Artinya, ketiga sektor usaha ini masih memiliki peluang untuk terus berkembang dimana permintaan akan jasa dan produk kesehatan energi dan pangan masih sangat dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia.

Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) menyatakan Indonesia saat ini tengah menghadapi beberapa persoalan serius terkait dengan kebutuhan dasar masyarakat (basic needs). Yaitu sektor kesehatan, sektor energi dan sektor pangan.

Menurutnya, persoalan yang terjadi pada ketiga sektor ini mutlak diperlukan solusi jitu agar kebutuhan dasar rakyat Indonesia bisa terpenuhi.
Di sektor kesehatan, persoalan serius yang terjadi adalah ketersediaan obat-obatan yang masih bergantung pada impor bahan baku. Menurut Jokowi bahan baku obat nasional 95 persen masih mengandalkan impor. Kemudian alat-alat kesehatan juga masih banyak yang harus mengandalkan pasokan dari negara lain.


Selain itu, masih Jokowi, persoalan rasio dokter, dokter spesialis, perawat, apoteker dan tenaga medis lainnya yang masih sangat sedikit jika dibandingkan dengan jumlah penduduk nasional. Hal ini menjadikan PR besar bagi pemerintah untuk mencari terobosan agar rasio tersebut dipersempit.


Kemudian rasio tempat tidur di rumah sakit yang juga dinilainya masih sangat terbatas. Setidaknya hanya ada tempat tidur dengan rasio perbandingan 1,2 per 1.000 penduduk. Hal ini dianggap sangat tidak wajar dan perlu upaya bersama agar ketersediaan tempat tidur di rumah sakit ditingkatkan.


“Mengenai rasio jumlah tempat tidur berbanding dengan jumlah tempat tidur, Indonesia masih kecil hanya 1,2 per seribu. Di India 2,7 per seribu, China 4,3 per seribu, dan Jepang 13 per seribu. Lalu soal laboratorium dan peralatannya serta SDM semuanya harus kita hitung karena pentingnya health security, kejadian pandemi ini sadarkan kita semua betapa pentingnya health security,” kata Jokowi dalam pembukaan Musyawarah Pembangunan Nasional (Musrenbangnas) 2021 yang digelar secara virtual, Selasa (4/5).


Terkait persoalan energi, Jokowi menyatakan harga minyak mentah dunia yang mengalami fluktuasi sangat dinamis mengakibatkan industri dalam negeri kewalahan. Sebab harga minyak mentah dunia sangat mempengaruhi seberapa besar pengeluaran negara untuk membayar biaya pembelian minyak. Hal itu karena kebutuhan minyak di dalam negeri juga masih mengandalkan impor.


“Sektor energi bagaimana kesiapan kita di tengah volatilitas harga minyak mentah dunia yang tahu tahu jatuh dari USD60 per barel menjadi USD20 per barel. Oleh sebab itu bagaimana kita harus rancang strategi besar kita untuk kurangi ketergantungan energi fosil, apakah kita akan ke bio energi atau ke baterai. Nah ini akan menentukan arah riset dan pengembangan energi baru terbarukan,” lanjut Jokowi.


Selanjutnya persoalan pangan atau agriculture food. Menurutnya, Indonesia juga masih bergantung pada impor meskipun kuantitasnya selalu diupayakan diturunkan. Dijelaskan bahwa Food Agriculture Organization (FAO) mengingatkan agar dunia mengantisipasi potensi terjadinya krisis pangan. Untuk itu perlu strategi dan upaya bersama agar kebutuhan pangan bisa dipenuhi dari produk dalam negeri dan bisa mencegah potensi terjadi krisis pangan.


“FAO udah ingatkan akan terjadi krisis pangan, kelaparan ancam dunia, 153 juta penduduk di dunia terancam kelaparan. Jadi bagaimana kesiapan pangan kita, bagaimana kesiapan industri pengolahan paska panen kita dan rantai distribusinya. Semua itu harus kita lihat lagi,” pungkas Jokowi.

Check Also

Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) Raih Kenaikan Laba Bersih Di 2021 Jadi Rp 3,03 Triliun

Marketnews.is Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) catat debut pertamanya setelah merger dengan bank syariah milik …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *