Home / Otoritas / Bursa Efek Indonesia / PT Astra Internasional Tbk Bagikan Dividen Tunai Tahun Buku 2020 Sebesar Rp 4,6 Triliun

PT Astra Internasional Tbk Bagikan Dividen Tunai Tahun Buku 2020 Sebesar Rp 4,6 Triliun

Marketnews.id Menurunnya kinerja keuangan PT Astra Internasional Tbk sepanjang tahun lalu, tidak membuat kelompok usaha ini menahan semua laba yang diraihnya. Dari Rp16,16 triliun laba yang berhasil diraih, dibagikan buat pemegang saham sebesar Rp 4,6 triliun. Sisa sekitar Rp 11,5 triliun disimpan sebagai laba ditahan. Bagaimanakah kinerja kelompok usaha ini ke depan setelah tahun lalu perusahaan ini terpapar pendemi Covid-19.

Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Astra International Tbk (ASII) menyetujui pembagian dividen tunai sebesar Rp4,61 triliun atau setara dengan Rp114 per saham.


Menurut Presiden Direktur ASII, Djony Bunarto Tjondro, RUPST ASII di Jakarta, Kamis (22/4) menyetujui laba bersih (konsolidasian) perseroan untuk Tahun Buku 2020 yang sebesar Rp16,16 triliun ditetapkan sebagai dividen senilai Rp4,6 triliun.


Pembagian dividen sebesar Rp114 per saham tersebut sudah termasuk dividen interim senilai Rp27 per saham atau setara dengan Rp1,09 triliun yang telah dibayarkan pada 27 Oktober 2020, sehingga sisanya sebesar Rp87 per saham atau sebesar Rp3,5 triliun akan dibayarkan pada 25 Mei 2021.


RUPST memberikan wewenang kepada direksi ASII untuk melaksanakan pembagian dividen tersebut dan untuk melakukan semua tindakan yang diperlukan. Pembayaran dividen akan dilakukan dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan pajak, Bursa Efek Indonesia (BEI) dan ketentuan pasar modal.


Sementara itu, sebesar Rp11,55 triliun dari laba bersih Tahun Buku 2020 akan ditempatkan sebagai laba ditahan. Sebagaimana diketahui, pada tahun lalu ASII mengalami penurunan laba bersih menjadi Rp16,16 triliun dari Rp21,71 triliun di 2019.


“Walaupun kinerja usaha grup Astra perlahan membaik pada beberapa bulan terakhir, prospek kinerja tahun ini masih dibayangi oleh ketidakpastian akibat dampak dari pandemi yang masih berlanjut,” papar Djony.


Pada rapat hari ini, para pemegang saham juga menyetujui pengunduran diri Mark Spencer Greenberg selaku komisaris, sehingga susunan Dewan Komisaris ASII adalah sebagai berikut:
Presiden Komisaris: Prijono Sugiarto
Komisaris Independen: Sri Indrastuti Hadiputranto
Komisaris Independen: Rahmat Waluyanto
Komisaris Independen: Apinont Suchewaboripont
Komisaris: Anthony John Liddell Nightingale
Komisaris: Benjamin William Keswick Komisaris: John Raymond Witt
Komisaris: Stephen Patrick Gore
Komisaris: Benjamin Birks.

Berdasarkan laporan kuartal I/2021, pendapatan bersih konsolidasian Grup sebesar Rp51,7 triliun, menurun 4 persen dibandingkan dengan kuartal I/2020 sebesar Rp54 triliun.

Laba bersih mencapai Rp3,7 triliun, menurun 22 persen dibandingkan dengan kuartal I/2020 yang sebesar Rp4,81 triliun, disebabkan kontribusi yang lebih rendah dari hampir semua segmen bisnis.


Nilai aset bersih per saham pada 31 Maret 2021 sebesar Rp3.971, meningkat 3 persen dibandingkan dengan posisi pada 31 Desember 2020 sebesar Rp3.845.

Kas bersih (tidak termasuk anak perusahaan jasa keuangan Grup) mencapai Rp15,9 triliun pada 31 Maret 2021, dibandingkan Rp7,3 triliun pada akhir tahun 2020.

Arus kas yang lebih tinggi pada kuartal pertama tahun 2021 disebabkan oleh kinerja bisnis yang membaik, serta belanja modal dan modal kerja yang lebih rendah.


Jika volume bisnis terus membaik hingga akhir tahun, belanja modal dan modal kerja kemungkinan akan meningkat. Utang bersih anak perusahaan jasa keuangan Grup meningkat dari Rp39,2 triliun pada akhir tahun 2020 menjadi Rp40,3 triliun pada 31 Maret 2021.

Menurut Djony Bunarto Tjondro, pendapatan dan laba bersih grup Astra pada kuartal I/2021 lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu, mengingat tahun lalu pandemi baru mulai memengaruhi ekonomi Indonesia dan kinerja bisnis secara substansial pada bulan Maret 2020.

“Walaupun kinerja usaha Grup perlahan membaik pada beberapa bulan terakhir, prospek kinerja tahun ini masih dibayangi oleh ketidakpastian akibat dampak dari pandemi yang masih berlanjut,” jelasnya, Rabu (21/4/2021).


Dia mengungkapkan kontribusi yang meningkat hanya dari sektor alat berat, pertambangan, konstruksi, dan energi yang naik 3 persen dan sektor properti yang naik 23 persen.

Kontribusi laba bersih konsolidasian paling anjlok datang dari sektor agribisnis yang turun 56 persen menjadi Rp129 miliar dari tahun sebelumnya Rp296 miliar, sedangkan dari sektor teknologi informasi turun 50 persen, infrastruktur dan logistik turun 42 persen.

Sementara itu, laba bersih konsolidasian dari sektor otomotif menurun 26 persen menjadi Rp1,43 triliun dibandingkan dengan Rp1,93 triliun. Jasa keuangan turun 30 persen menjadi Rp985 miliar dari kuartal yang sama tahun sebelumnya Rp1,41 triliun.

Check Also

BI Teken Kerjasama Dengan Otoritas Moneter Singapura Untuk Tangkal Money Laundry Dan Inovasi Pembayaran

Marketnews.id Kerjasama antara Bank Sentral Indonesia (BI) dan Monetery Authority of Singapore (MAS) semakin intens …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *