Home / Otoritas / Bursa Efek Indonesia / Ashmore : Peningkatan Volatilitas Di Januari Ini Cermin Peningkatan Kepemilikan Ritel

Ashmore : Peningkatan Volatilitas Di Januari Ini Cermin Peningkatan Kepemilikan Ritel

Marketnews.id Pergerakan perdagangan saham sepanjang bulan Januari ini menimbulkan analisis bahwa porsi antara investor domestik institusional dan investor ritel saat ini berimbang. Sehingga setiap pergerakan ritel yang terkoordinasi akan menghasilkan peningkatan volatilitas.

Bursa saham Indonesia mengakhiri sesi perdagangan di pengujung Januari, Jumat (29/1), dengan membukukan penurunan tajam 1,95% ke level 5.862, rontok 7,05% dibanding akhir pekan sebelumnya di posisi 6.307.

Posisi indeks sudah lebih rendah dari awal tahun, mencatatkan penurunan terbesar sejak September 2020. Kendati demikian, secara mingguan, investor asing masih membukukan arus masuk modal bersih ke pasar ekuitas senilai USD39 miliar.


PT Ashmore Asset Management Indonesia mencatat beberapa peristiwa penting yang mempengaruhi pergerakan dana investasi di pasar modal dalam dan luar negeri sepanjang pekan, antara lain;


Update virus korona; Perusahaan bioteknologi Novavax menyatakan, uji coba Tahap 3 vaksin Covid-19 buatannya menunjukkan tingkat kemanjuran (efikasi) 89,3% dan memiliki kemanjuran terhadap strains dari 56kasus Covid-19 yang diuji coba. Vaksin tersebut memiliki kemanjuran 95,6% melawan virus korona baru dan 85,6% terhadap varian B.1.1.7 yang pertama kali diidentifikasi di Inggris.


Federal Reserve AS memutuskan untuk mempertahankan suku bunga mendekati nol, memperpanjang kebijakan moneter longgar.. “Laju pemulihan dalam aktivitas ekonomi dan pekerjaan telah berkurang dalam beberapa bulan terakhir, dengan pelemahan yang terkonsentrasi di sektor-sektor yang paling terpengaruh oleh pandemi,” sebut Komite Pasar Terbuka Federal ( FOMC ) dalam pernyataan kebijakannya.


Investasi asing langsung (FDI) Indonesia tumbuh 5,5% yoy menjadi Rp 111,1 triliun (USD 7,92 miliar),di kuartal IV-2020 (4Q), namun secara nominal melemah dengan jumlah peningkatan terkecil dalam tiga triwulan, setelah kenaikan 1,1% pada periode sebelumnya. Dalam setahun penuh, sepanjang 2020 nilai FDI mencapai Rp 412 triliun, turun 2,4% dari 2019, karena investor menunda keputusan bisnis di masa pandemi virus korona.


Tentang pergerakan IHSG sepekan terakhir yang terus tertekan, kembali ke bawah level 6.000, berikut ini perndapat Ashmore dalam Weekly Commentary, Jumat (29/1)


Apakah kegelisahan pasar ini normal?
Pekan ini bursa saham Indonesia mengalami salah satu penurunan beruntun terpanjang untuk sementara waktu. Dimulai dengan kapitalisasi kecil-menengah, penurunan beruntun pekan ini diakhiri dengan penurunan saham  blue chip,  terutama sektor perbankan yang mulai melaporkan kinerja 4Q-nya. “Selain itu, arus berita mengenai perluasan batas rentang penurunan juga membuat investor, khususnya investor ritel resah,” tulis Ashmore.


Menurut Ashmore secara fundamental, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan oleh investor. Pertama, data Covid-19 dan potensi keterlambatan dalam distribusi vaksin dapat menyebabkan risiko penurunan perkiraan pendapatan. Kedua, ketakutan akan  tapering  The Fed merupakan ketakutan yang tidak berdasar. Terakhir, upaya yang sedang dilakukan untuk mengundang investasi ke Indonesia seperti SWF, belakangan ini terabaikan.


“Kami terus memandang bahwa peningkatan volatilitas di bulan Januari, kemungkinan mencerminkan peningkatan kepemilikan investor ritel, yang terutama dimulai pada 4Q20,” imbuh Ashmore.


Berdasarkan data yang dimiliki Ashmore, porsi antara investor domestik institusional dan ritel saat ini adalah 50:50, sehingga setiap pergerakan ritel yang terkoordinasi akan menghasilkan peningkatan volatilitas. Hal ini tidak hanya terjadi di pasar seperti Indonesia, tetapi juga di China dan AS.


“Jadi apakah kegoyahan pasar ini merupakan hal yang normal? Kami kira begitu. Investor ritel juga lebih tergerak oleh berita yang beredar dibanding investor institusional, dan biasanya memiliki jangka waktu investasi yang lebih pendek,” ungkap Ashmore.


Setelah gelombang aksi jual ini, Ashmore menilai valuasi aset-aset Indonesia kembali menjadi menarik, dan belum ada perubahan mendasar dalam ekspektasi pasar. “Kami secara konservatif memperkirakan pertumbuhan EPS 12% pada tahun 2021, yang tampaknya berada di jalur yang benar dan mengasumsikan

distribusi vaksin yang tidak ketat.”
“Kami akan merekomendasikan investor untuk menggunakan kesempatan ini sebagai pintu masuk terutama untuk pasar ekuitas.” Tutup Ashmore.

Check Also

Fitch : Pemulihan Fiskal Global 2022-2023 Melambat. Inflasi dan Kenaikan Harga Buat Dilema Bank Sentral

Marketnews.id Lembaga pemeringkat Fitch Rating memprediksi, pertumbuhan ekonomi global akan mengalami pelambatan lantaran ada konflik …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *