Home / Otoritas / Bank Indonesia / BI : Likuiditasi Perbankan Masih Longgar, Bank Simpan SBN Rp886 Triliun

BI : Likuiditasi Perbankan Masih Longgar, Bank Simpan SBN Rp886 Triliun

Marketnews.id Kondisi perbankan dan stabilitas moneter sepanjang awal kuartal kedua tahun ini stabil. Bank Indonesia mempertahankan tingkat bunga 4,5 persen. In inflow asing USD4,1 miliar dan cadangan Devisa USD 127,9 miliar. Perbankan menyimpan SBN sekitar Rp 886 triliun. Posisi cadangan devisa aman untuk impor 7,8 bulan.

Industri perbankan dinilai banyak menimbun uang dalam instrumen surat berharga negara (SBN).

Menurut Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, dana yang disimpan dalam bentuk SBN per 14 Mei mencapai Rp886 triliun atau berkisar 16,4 persen dari total dana pihak ketiga (DPK).

Dengan jumlah yang besar tersebut, lanjut Perry, industri perbankan masih memiliki ruang likuiditas yang masih sangat longgar jika perbankan membawa sebagian surat berharga tersebut untuk direpokan ke bank sentral.

“Dari Rp886 triliun, tentu sebagian perlu dikelola oleh bank dalam rangka memenuhi kebutuhan likuiditas, sesuai kebijakan BI penyangga likuiditas makropprudensial besarnya SBN sebesar 6% dari  DPK atau sebesar Rp330,2 triliun. Sisanya sebesar Rp563,6 triliun itu dapat direpokan ke BI,” tuturnya.

Dari angka sebesar Rp563,6 triliun tersebut, lanjutnya, jumlah yang sudah direpokan oleh perbankan masih rendah. Angka outstanding repo di BI saat ini mencapai Rp43,9 triliun.

Menurut Perry, mekanisme term repo ini merupakan langkah awal yang harus dilakukan perbankan sebelum berhak mengajukan bantuan likuiditas dalam program pemulihan ekonomi nasional (PEN).

Dengan kata lain, bank yang mengajukan bantuan likuiditas yang disalurkan pemerintah lewat bank peserta atau bank jangkar, tidak akan diberikan jika masih memiliki SBN yang dapat direpokan.

“Penempatan data pemerintah baru akan dilakukan kalau bank-bank sudah merepokan ke BI sehingga SBN-nya mendekati level 6%. Pemerintah tidak akan melakukan penempatan dana sebelum bank-bank (ajukan term repo) ke BI dulu.”

Sementara itu, aliran dana asing yang masuk ke sistem keuangan dalam negeri meningkat hingga pertengahan Mei 2020.

Menurut Perry Warjiyo. investasi portofolio sejak April hingga 14 Mei 2020 mencatatkan net inflow, sedangkan pada kuartal I tercatat net outflow.

Aliran masuk modal asing kembali membaik mulai April 2020 didorong meredanya ketidakpastian pasar keuangan global serta tingginya daya saing aset keuangan domestik dan prospek perekonomian Indonesia yang tetap baik.

“Sejak April hingga 14 Mei 2020 net inflow US$4,1 miliar, setelah pada kuartal I mencatatkan net outflow US$5,7 miliar,” ujarnya dalam live streaming, Selasa (19/5/2020).

Perry juga menyebutkan, posisi cadangan devisa pada akhir April 2020 meningkat menjadi US$127,9 miliar. Nilai ini setara dengan pembiayaan 7,8 bulan impor dan di atas standar kecukupan 3 bulan impor.

“Posisi ini lebih dari cukup untuk memenuhi impor dan pembayaran utang serta stabilisasi nilai tukar,” katanya.

Sementara itu, BI memperkirakan defisit transaksi berjalan pada 2020 di bawah 2 persen dari produk domestik bruto (PDB) dari perkiran awal sebesar 2,5 persen hingga 3 persen PDB.

Dari sisi nilai tukar rupiah, Perry menyatakan terdapat tren penguatan lanjutan pada bulan ini. Penguatan nilai tukar rupiah menguat seiring dengan meredanya tekanan global.

Setelah menguat sepanjang April 2020, rupiah kembali menguat pada Mei.

“Sampai 18 Mei 2020, rupiah menguat 5,1 persen secara rerata atau 0,17 persen secara poin to poin dibandingkan dengan tingkat pada April 2020,” ujarnya.

Check Also

Summarecon Agung Tawarkan Surat Utang Rp1,3 Triliun Berbunga Hingga 9,3 Persen

MarketNews.id PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), menawarkan surat utang dengan total nilai Rp1,3 triliun dengan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *